Selasa, 05 Agustus 2014

Mendulang Pelajaran Akhlaq dari pertemuan keluarga Bani Abdul Aziz Rohimahullah

[Mendulang Pelajaran Akhlaq dari pertemuan keluarga Bani Abdul Aziz Rohimahullah (semoga allah menyayanginya) Pondok Mutiara Sidoarjo, Ahad, 2 Agustus 2014]

Membiasakan sunnah sunnah yang dianggap remeh

1. Menjadi kebiasaan pak aji rohimahullah (mbah abdul aziz) untuk datang ke masjid tiap hari jum'at jam 10. Rupanya beliau ingin mengambil keutamaan ini berdasar hadits rosulullah sholallahu alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anh bersabda :

عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مَلَكَانِ يَكْتُبَانِ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ ... فَإِذَا قَعَدَ الْإِمَامُ طُوِيَتِ الصُّحُفُ

“Pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid pada hari Jum’at terdapat dua orang malaikat yang mencatat orang-orang yang terlebih dahulu berangkat... Jika imam (khatib) telah keluar (naik ke mimbar), maka buku catatan para malaikat ditutup.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1770, Ibnu Hibban no. 2774, dan An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 11907, hadits shahih)

Dalam penjelasannya terhadap perkara ini, Abu Umamah dalam sebuah hadits yang dihasankan oleh Syaikh al Albani, dari Abu Ghalib, pernah ditanya :

“Wahai Abu Umamah, bukankah orang yang datang sesudah imam menaiki mimbar (juga) mendapatkan shalat Jum'at?” Ia menjawab, “Tentu... tetapi ia tidak termasuk golongan yang dicatat dalam buku catatan.”

Keutamaan lainnya mendatangi masjid di awal waktu pada hari Jum’at dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَقَفَتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَيَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ إِلَى الْجُمُعَةِ كَمَثَلِ الَّذِي يُهْدِي بَدَنَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَقَرَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي كَبْشًا ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي دَجَاجَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ وَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ طَوَوْا صُحُفَهُمْ وَجَلَسُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

"Jika tiba hari Jum'at, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum'at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah)." (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Aus bin Aus Radliyallah 'Anhu, bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

 “Barangsiapa mandi pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat yang sia-sia, maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 6405)

Hadits-hadits di atas menggambarkan betapa tingginya keutamaan yang didapat dengan menyegerakan diri mendatangi masjid pada hari Jum’at. Sedemikian tingginya sehingga layaknya seperti memperbandingkan antara berkurban seeokor unta dengan sebutir telur. Menyegerakan mendatangi masjid sebelum shalat Jum’at juga bisa mengantarkan seseorang mendapatkan kesempurnaan pahala shalat Jum’at, seperti pahala orang-orang yang melaksanakan puasa dan qiyamullail selama setahun.

Karenanya, tidaklah mengherankan dalam sebuah riwayat yang ditulis oleh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan dijelaskan bahwa sesungguhnya pada abad-abad pertama Islam, hari Jumat itu disambut seperti layaknya hari raya bagi kaum muslimin. Dimana, pagi hari setelah terbit fajar, jalan-jalan sudah ramai dengan orang-orang yang berpakaian bagus, memakai wangi-wangian, dan mereka bergegas menuju masjid.

“Mereka berjalan menuju masjid jami' seperti halnya hari raya, hingga akhirnya kebiasaan itu hilang.” Lalu dikatakan, “Bid'ah pertama yang dilakukan dalam Islam adalah tidak berangkat pagi-pagi menuju masjid.” (Abu Syamah seperti dikutif Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan dalam Akhtha' al Mushalliin -- Edisi Indonesia: Kesalahan-kesalahan dalam shalat, hal. 236)

2. Beliau rajin Memberi sedekah amal jariyah, Menyantuni anak anak yatim, memberi sedekah pada fakir miskin yang selalu dilakukan beliau rohimahullah bukan saja membekas anak anak beliau, tetapi juga pada orang orang lain (masyarakat sekitar) yang kelak menceritakan pada anak keturunannya, sebagai contoh akhlaq yang baik untuk diteladani. Dalam hadits disebutkan tentang orang yang meninggalkan kebiasaan baik, maka ketika kebiasaan itu diikuti orang lain, maka orang pertama tadi akan mendapat pahala yang sama tanpa dikurangi.

Imam Muslim meriwayatkan hadits sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍِ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR Imam Muslim)

Dalam Shahih Muslim juga disebutkan hadits sebagai berikut:

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Artinya: “Dari Jarir bin Abdullah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengadakan kebiasaan yang baik dalam Islam, lalu kebiasaan baik tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa mengadakan kebiasaan yang buruk dalam Islam, lalu kebiasaan buruk tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikit pun.” (HR Imam Muslim).

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu, ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَحَثَّ عَلَيْهِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدِي كَذَا وَكَذَا، قَالَ فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنِ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أُجُوْرِ مَنِ اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

"Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Nabipun memotivasi untuk bersedekah kepadanya. Maka ada seseorang yang berkata, "Saya bersedekah ini dan itu". Maka tidak seorangpun yang ada di majelis kecuali bersedekah terhadap lelaki tersebut baik dengan sedikit maupun banyak. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Barang siapa yang "istanna"/merintisi kebaikan lalu diikuti maka baginya pahalanya secara sempurna dan juga pahala orang-orang yang mengikutinya serta tidak berkurang pahala mereka sama sekali. Dan barang siapa yang merintis sunnah yang buruk lalu diikuti maka baginya dosanya secara sempurna dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sama sekali" (HR Ibnu Maajah no 204 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

3 Hal yang kecil saja diperhatikan, apalagi yang besar.

Sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيْهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرَ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. قَالُوْا: يَا نَبِيَّ اللهِ أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ: بَلْ مِنْكُمْ. (رواه المروازي في السنة

“Sesungguhnya di belakang kalian nanti ada hari-hari sabar bagi orang-orang yang pada waktu itu berpegang dengan apa yang kalian ada di atasnya. Mereka akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian”. Para shahabat berta-nya: “Wahai nabi Allah, apakah lima puluh kali pahalanya dari mereka?” beliau shalallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Bahkan dari kalian”. (HR. Marwazi dalam As-Sunnah)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَامًا الصَّبْرِ فِيْهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيْهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلاً يَعْمَلُوْنَ مِثْلُ عَمَلِكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنَّا أَوْ مِنهُمْ؟ قَالَ: بَلْ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. (رواه الترمذي وأبو داود وابن ماجه وابن حبان والحاكم وصححه ووافقه الذهبي

Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari dimana orang yang sabar ke-tika itu seperti memegang bara api. Me-reka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamal-kan amalan tersebut. Para Shahabat bertanya: “Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau dari mereka?” Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim. Dan dishahihkan oleh Imam Hakim dan disepakati oleh Dzahabi)

“Manusia akan senantiasa berada di atas jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 197).
 
Shahabat ‘Urwah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mengikuti sunnah-sunnah Nabi adalah tonggak penegak agama.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 198).
 
Salah seorang tabi’in bernama Ibnu Sirin mengatakan: “Dahulu mereka mengatakan: selama seseorang berada di atas jejak Nabi, maka ia berada di atas jalan yang lurus.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 200)

4 Seperti orang terasing, tapi beruntunglah orang yang dianggap terasing.

إنَّ اْلإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. (رواه مسلم)

Sesungguhnya Islam bermula dengan keasingan dan akan kembali asing se-perti permulaannya, maka berbahagia-lah orang-orang yang asing. (HR. Muslim).

بَدَأَ الإِسلامُ غريبًا، وسَيَعُودُ غريبًا كما بدَأَ ، فطُوبَى للغرباءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. (HR. Muslim)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  « إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». قَالَ قِيلَ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ. قال الشيخ الألباني : صحيح دون قال قيل

“Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah e ? “Mereka yang “menyempal” (berseberangan) dari kaumnya”, jawab Rasulullah   (HR. Ibnu Majah, Ahmad & Ad Darimi dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani )

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ «إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِى مِنْ سُنَّتِى ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah  ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (melakukan ishlah) di saat manusia merusak sunnah-sunnah ku”, jawab Rasulullah e  (HR. At Tirmidzi, dinyatakan Hasan Shahih oleh Imam At Tirmidzi)

« طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ » ﴿رَوَاهُ أحمد ﴾ تعليق شعيب الأرنؤوط : حسن لغيره مكرر

“Beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah  ? “Orang-orang shalih yang berada di antara orang-orang jahat yang jumlahnya banyak sekali. Yang menentang mereka lebih banyak dibandingkan yang mengikuti ”, jawab Rasulullah   (HR. Ahmad, dinyatakan Hasan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ :”الَّذِينَ يُصْلِحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ

“Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’rur dan nahi munkar) di saat manusia dalam keadaan rusak”, jawab Rasulullah   (HR. Thabrani, dengan periwayat yang terpercaya /shahih)

Ahmad dan Ath-Thabrani dari Abdullah bin Amru, ia berkata; Pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah saw., lalu beliau bersabda:

«يَأْتِي قَوْمٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نُورُهُمْ كَنُورِ الشَّمْسِ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: نَحْنُ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لاَ وَلَكُمْ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَلَكِنَّهُمْ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ يُحْشَرُونَ مِنْ أَقْطَارِ اْلأَرْضِ، ثم قَالَ: طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، قِيْلَ مَنْ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: نَاسٌ صَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ»

Akan datang suatu kaum kepada Allah pada hari kiamat nanti. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abu Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bukan, tapi kalian mempunyai banyak kebaikan. Mereka adalah orang-orang fakir yang berhijrah. Mereka berkumpul dari berbagai penjuru bumi.” Kemudian beliau bersabda, “Kebahagian bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang terasing itu?” Beliau saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih, yang jumlahnya sedikit di antara manusia yang buruk. Orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada orang yang menaatinya.” (Al-Haitsami berkata hadits ini dalam Al-Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih).

Semarang, 3 agustus 2014, Akhukum fillah, abu fatima anas assidawy

Perincian tafsir ibnu abbas rodhiallahu anhuma dalam ayat ومن لم يحكم بما انزل الله فاولئك هم الكافرون

Perincian tafsir ibnu abbas rodhiallahu anhuma dalam ayat
ومن لم يحكم بما انزل الله فاولئك هم الكافرون

1 Dalam tafsir imam abdurrozaq ash-shon'ani, sebagaimana dalam tafsir ibnu katsir 2/97, ibnu abbas berkata,
حي به كفر
Padanya ada kekufuran

Didalam jami'ul bayan oleh at-tobari, melengkapi keterangan seluruhnya dari ibnu abbas, dari penjelasan Ibnu thowus berkata,
وليس كمن كفر بالله والملائكته وكتبه ورسله
Dan bukan seperti kafir terhadap allah, kitab2nya,  rosul2nya.

Sanadnya sahih

2 Dalam jami'ul bayan at-tobari 6/265, berkata ibnu abbas
حي به كفر، وليس كمن كفر بالله والملائكته وكتبه ورسله
Padanya ada kekufuran, dan bukan seperti kafir terhadap allah, kitab2nya,  rosul2nya.

Dan dalam riwayat at-tobari 265/6, berkata ibnu abbas
اذا فعل ذالك، فهو به كفر، وليس كمن كفر بالله واليوم الاخر، وبكذا وكذا
Jika demikian, maka dia berbuat kufur tapi bukan seperti kafir pada allah, hari akhir, dan dengan ini itu.

Sanadnya hasan

3 Berkata al hafidz ibnu nasr dalam ta'dzim qodar  as-sholat no 573, ibnu abbas berkata
كفر لا ينقل عن الملة
Kufur tapi tidak keluar dari al millah (islam)

Sanadnya hasan

4 berkata imam ibnu abil hatim dalam tafsirnya, sebagaimana dalam tafsir ibnu katsir 2/97, ibnu abbas berkata
ليس بالكفر الذى يذهبون اليه
Bukanlah menjadi kafir yang mengeluarkan darinya (islam)

Sanadnya hasan

5 Al hakim dalam al mustadraknya 2/313/,  meriwayatkan atsar lainnya, juga al baihaqi dalam sunan al kubro 8/20, dari jalan ali bin harb, dari sufyan dgn lafadznya,  ibnu abbas berkata
انه ليس بالكفر الذى يذهبون اليه، انه ليس كفر ينقل عن الملة،( ومن لم يحكم بما انزل الله فاولئك هم الكافرون )، كفر دون كفر
Maksudnya bukanlah kekafiran yang mengeluarkannya darinya (islam), bukanlah kekafiran yang mengeluarkannya dari al millah (islam), ((dan siapa yang tidak berhukum dengan hukum allah,maka mereka termasuk orang orang kafir)), maksudnya kufur dibawah kekafiran.

Dari jalan said bin mansur, dan al firbabi, dan ibnul mundzir, dan ibnu abi hatim ada tambahan
... وظلم دون ظلم، وفسق دون فسق
Dan dzolim dibawah dibawah kedzoliman, dan fasiq dibawah kefasiqan

Sanadnya sahih

6 berkata imam ibnu jarir dalam tafsirnya 6/265  ibnu abbas berkata
من جحد ما انزل الله، فقد كفر، و من اقر به ولم يحكم فهو ظالم فاسق
Dan barang siapa yang ingkar dengan apa yang diturunkan allah, maka kafir, dan barang siapa mengikrarkannya dan tidak berhukum maka dia dzolim fasiq.

7 dalam addur al-mantsur 3/88, ibnu mundzir berkata, ibnu abbas berkata
نعمة قوم انتم، ان كان ما كان فى حلو، فهو لكم، وما كان من مر، فهو لاهل كتاب، كانه يرى ان ذالك ليس فى المسلمين : ومن لم يحكم بما انزل الله فاولئك هم الكافرون
Sebaik nikmat suatu kaum adalah kalian, jika ia ada dalam keindahan maka itu untuk kalian, dan jika ada dalam kejelekan maka ia untuk ahlul kitab, seperti yang kalian lihat  bahwa ia bukan untuk muslimin, ((dan siapa yang tidak berhukum dengan hukun allah, maka ia kafir))

Sanad terkait dengan sanad lain yang perawinya tsiqoh.

8 Dalam addur al-mantsur 3/83, ibnu abbas berkata
انما نزل الله :  ومن لم يحكم بما انزل الله فاولئك هم الكافرون، والظالمون، والفاسقون، هى اليهود الخاصه
Sesungguhnya allah menurunkan ayat : (dan siapa yang tidak berhukum dengan hukum allah,maka mereka termasuk orang orang kafir, juga orang orang dzolim, juga orang orang fasiq), maka itu untuk orang yahudi saja.

Dalam riwayat muslim no 1700, dan sunan abi dawud no 4448 dan musnad imam ahmad no 286/4
هى فى الكفار كلها
Ia semuanya untuk orang kafir saja.

http://alhalaby.com/play.php?catsmktba=3310

Fitnah Khilafah Khayalan Daisy Iraq

Risalah terbaru asy syeikh allamah abdul muhsin al abbad hafidzhullah.

ﻓﺘﻨﺔ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺍﻟﺪﺍﻋﺸﻴﺔ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻴﺔ ﺍﻟﻤﺰﻋﻮﻣﺔ
((Fitnah Khilafah Khayalan Daisy Iraq))

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻻ ﻧﺒﻲ ﺑﻌﺪﻩ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ. ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ؛

فقد ولد في العراق قبل عدة سنوات فرقة أطلقت على نفسها دولة الإسلام بالعراق والشام، واشتهر ذكرها بأربعة حروف هي الحروف الأوائل لهذه الدولة المزعومة فيقال لها: ((داعش))،

وقد تعاقب على زعامتها ـ كما ذكر ذلك بعض المتابعين لحدوثها وأحداثها ـ عدد يقال للواحد منهم: أبو فلان الفلاني أو أبو فلان ابن فلان، كنية معها نسبة إلى بلد أو قبيلة كما هو شأن المجاهيل المتسترين بالكنى والأنساب
Telah lahir di Irak beberapa tahun yang lalu, kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam Irak dan Syam (Levant), dan terkenal disebutkan empat karakter adalah huruf awal untuk negara khayal ini yang mengatakan padanya: ((Daa'ish)),

Dan telah berganti kepemimpinannya seperti yang disebutkan oleh beberapa pengikut dalam menceritakannya dan  peristiwa didalamnya, dikatakan salah satu dari mereka: Abu fulan al fulani atau Abu fulan ibnu fulan, nama kunyah padanya dinisbahkan pada negara atau suku (kabilah) sebagaimana dia dalam hal ini menyamarkan berlindung diri dengan nama kunyah dan silsilah.

، وبعد مضي مدة على الحرب التي وقعت في سوريا بين النظام والمقاتلين له دخل أعداد من هذه الفرقة غير مقاتلين للنظام، لكنهم يقاتلون أهل السنة المناوئين للنظام ويفتكون بهم، وقد اشتهر أن قتلهم لمن يريدون قتله يكون بالسكاكين الذي هو من أبشع وأنكى ما يكون في قتل الآدميين، وفي أوائل شهر رمضان الحالي حوَّلوا تسمية فرقتهم إلى اسم ((الخلافة الإسلامية))،

وخطب خليفتهم الذي أُطلق عليه أبو بكر البغدادي في جامع في الموصل، ومما قاله في خطبته: ((فقد وُلِّيت عليكم ولست بخيركم))، وقد صدق في أنه ليس بخيرهم؛ لأن قتل من يقتلونه بالسكاكين إن كان بأمره أو بعلمه وإقراره فهو شرهم؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: ((من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا)) رواه مسلم (6804)،

dan setelah periode perang yang terjadi di Suriah antara rezim dan para pejuang, telah masuk sejumlah orang dari kelompok ini (Daisy) yang tidak memerangi pemerintah, tetapi mereka memerangi Sunni yang melawan rezim dan membunuh mereka, dan telah dikenal bahwa dalam membunuh orang-orang yang ingin dibunuhnya ini dengan pisau pisau, yang merupakan salah satu yang paling keji dan mengerikan yang dilakukan dalam pembunuhan pada manusia, dan dalam bulan awal Ramadhan ini mereka merubah penamaan kelompok mereka dengan nama ((kekhalifahan islam)),

Dalam pidato dari kholifah mereka yang menampilkan diri bernama Abu Bakr al-Baghdadi di sebuah masjid jami' di Mosul, dan apa yang dia katakan dalam khotbahnya: ((sungguh saya telah ditunjuk sebagai pemimpin atas kalian dan saya bukanlah yang terbaik diantara kalian)), dan sungguh benar bahwa dia bukanlah yang terbaik diantara mereka,  karena ia telah membunuh orang orang (para mujahidin sunni) dengan pisau atas perintahnya atau dengan pengetahuan dan persetujuannya, maka dia ini orang jahat dari mereka,  karena rosulullah sholallahu alaihi wasalam telah mengatakan : ((barang siapa yang menyerukan pada petunjuk maka baginya akan mendapat pahala semisal pahala orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun, dan barang siapa menyeru pada kesesatan maka baginya dosa dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengecilkan dosa mereka sesuatupun)) HR Muslim (6804),

وهذه الجملة التي قالها في خطبته قد قالها أول خليفة في الإسلام بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر الصديق رضي الله عنه وأرضاه وهو خير هذه الأمة التي هي خير الأمم، قالها تواضعا وهو يعلم والصحابة يعلمون أنه خيرهم للأدلة الدالة على ذلك من كلام رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومن الخير لهذه الفرقة أن تراجع نفسها وتؤوب إلى رشدها قبل أن تكون دولتها في مهب الرياح كشأن مثيلاتها التي سبقتها في مختلف العصور

Dan sejumlah kalimat ini yang diucapkan dalam khotbahnya, adalah ucapan yang telah diucapkan pertama dalam Islam oleh kholifah Rasulullah sholallahu alaihi wasalam yakni Abu Bakar ash-shidiq rodhiallahu anh wa ardhoh, yang adalah dia sebaik baik manusia dalam umat ini, dan umat ini adalah sebaik umat umat, ucapannya tawadhu' sederhana dan dia tahu dan sahabat pun tahu bahwa beliau terbaik dari mereka dalam berbuat adil dan keadilan, karenanya dari perkataan Rasulullah sholallahu alaihi wasalam,

dan untuk kebaikan kelompok ini agar kembali sendiri dan bertaubat mengikuti jalan yang benar, sebelum negara ini tertiup angin seperti yang  semisalnya yang telah mendahuluinya dalam berbagai abad lalu.

ومما يؤسف له أن فتنة هذه الخلافة المزعومة التي وُلدت قبل أيام لقيت قبولا عند بعض صغار الشباب في بلد الحرمين أظهروا فرحهم وسرورهم بها كما يفرح الظمآن بالسراب، وفيهم من زعم مبايعة هذا الخليفة المجهول!

وكيف يُرتجى خير ممن ابتلوا بالتكفير والتقتيل بأشنع القتل وأفظعه؟! والواجب على هؤلاء الشباب أن يربأوا بأنفسهم عن الانسياق وراء نعيق كل ناعق، وأن يكون الرجوع في كل التصرفات إلى ما جاء عن الله عز وجل وعن رسوله صلى الله عليه وسلم؛ لأن في ذلك العصمة والسلامة والنجاة في الدنيا والآخرة، وأن يرجعوا إلى العلماء الناصحين لهم وللمسلمين،

Sangat disayangkan bahwa fitnah khilafah khayalan ini, yang lahir beberapa hari lalu telah diterima di sebagian kecil anak muda di negari haramain menunjukkan kegembiraan dan kesenangan dengannya sebagaimana senangnya haus dengan minuman, dan diantara mereka berbai'at pada Khalifah majhul ini !

Dan bagaimana berharap baik dari mereka yang menganut paham takfir (pengkafiran) dan melakukan pembunuhan yang paling keji dan pembunuhan paling kejam ?

Dan wajib atas para pemuda ini untuk memisahkan diri dari ikut ikutan di belakang teriakan orang yang berteriak, dan semua tindakan agar  kembali pada apa yang datang dari Allah azza wajalla dan Rasul sholallahu alaihi wasallam, Karena didalamnya ada kesempurnaan dan keamanan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, dan agar kembali pada ulama yang membimbing  mereka dan bagi kaum Muslimin.

ومن أمثلة سلامة من فكَّر في ضلال بسبب رجوعه إلى أهل العلم ما رواه مسلم في صحيحه (191) عن يزيد الفقير قال: ((كنتُ قد شَغَفَنِي رأيٌ من رأي الخوارج، فخرجنا في عِصابةٍ ذوي عدد نريد أن نحجَّ، ثمَّ نخرجَ على الناس، قال: فمررنا على المدينة فإذا جابر بن عبد الله يُحدِّث القومَ ـ جالسٌ إلى ساريةٍ ـ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال:

فإذا هو قد ذكر الجهنَّميِّين، قال: فقلتُ له: يا صاحبَ رسول الله! ما هذا الذي تُحدِّثون؟ والله يقول: {إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ}، و {كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا}، فما هذا الذي تقولون؟ قال: فقال: أتقرأُ القرآنَ؟ قلتُ: نعم! قال: فهل سمعت بمقام محمد عليه السلام، يعني الذي يبعثه فيه؟ قلتُ: نعم! قال: فإنَّه مقام محمد صلى الله عليه وسلم المحمود الذي يُخرج اللهُ به مَن يُخرج. قال: ثمَّ نعتَ وضعَ الصِّراط ومرَّ الناس عليه، قال: وأخاف أن لا أكون أحفظ ذاك. قال: غير أنَّه قد زعم أنَّ قوماً يَخرجون من النار بعد أن يكونوا فيها، قال: يعني فيخرجون كأنَّهم عيدان السماسم، قال: فيدخلون نهراً من أنهار الجنَّة فيغتسلون فيه، فيخرجون كأنَّهم القراطيس. فرجعنا، قلنا: وَيْحَكم! أَتَروْنَ الشيخَ يَكذِبُ على رسول الله صلى الله عليه وسلم؟! فرجعنا، فلا ـ والله! ـ ما خرج منَّا غيرُ رَجل واحد، أو كما قال أبو نعيم ))

dan contoh keselamatan dari pemikiran sesat karena kembali ke para ulama, yakni apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (191) dari yazid al faqir, berkata: (( Dulu aku pernah terpengaruh dan begitu menyukai suatu pemikiran dari pemikiran Khawarij, lalu kami keluar bersama sekelompok orang banyak dengan maksud melaksanakan haji. Kami pun keluar (membaur bersama) manusia. Kemudian tatkala kami melewati Madinah, kami mendapati Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallahu ‘anhuma- yang tengah duduk bersama para musafir seraya mengabarkan hadits dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wassalam- kepada orang-orang, dan dia menyebutkan tentang al-jahannamiyun (orang-orang yang dikeluarkan dari neraka -pent).

Aku pun berkata kepada Jabir bin ‘Abdullah, “Wahai shahabat Rasulullah, apa yang sedang kau bicarakan ini? Padahal Allah berfirman …:
رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ
“Wahai Rabb kami, sesungguhnya siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia.” (QS. Ali ‘Imran: 192)
…  juga firman Allah:
كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا
“Setiap kali mereka (para penghuni neraka) hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya.” (QS. As-Sajdah: 20)
… lalu apa yang sedang kalian katakan ini?”

Maka Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallah ‘anhuma- pun berkata, “Apakah kau membaca al-Quran?”
Aku menjawab, “Ya, aku membaca al-Quran.”
Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Lantas apakah kau mendengar tentang kedudukan Muhammad ‘alaihi as-salam? Yakni kedudukan yang beliau diberi wewenang di dalamnya?”
Aku menjawab, “Ya.”
Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Maka sesungguhnya itulah kedudukan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang terpuji, yang dengan kedudukan itulah Allah (mengizinkan) untuk mengeluarkan orang yang dikeluarkan (dari neraka).”

Kemudian Jabir bin ‘abdullah menjelaskan tentang letak shirath dan (bagaimana) manusia melintasinya. Aku khawatir tidak menghafalnya, hanya saja Jabir mengatakan bahwa ada orang-orang yang dikeluarkan dari neraka setelah mereka berada di dalamnya, yakni dia mengatakan, “Lalu mereka dikeluarkan (dari neraka) seakan-akan mereka itu potongan kayu dan biji-bijian kering yang telah dijemur, lalu mereka dimasukkan ke sebuah sungai dari sungai-sungai surga dan dicucilah mereka di situ, lalu dikeluarkan lagi seakan-akan mereka itu kertas yang putih.” Lalu kami pun kembali (kepada pemahaman yang benar), lalu kami mengatakan, “Celakalah kalian! Apakah kalian pikir Syaikh itu (Jabir bin ‘Abdullah) akan berdusta atas nama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dan kami kembali (ke kampung halaman), dan demi Allah, tidaklah ada yang keluar dari kelompok kami kecuali seorang lelaki saja. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Nu’aim))
وأبو نعيم هو الفضل بن دكين هو أحد رجال الإسناد، وهو يدلُّ على أنَّ هذه العصابةَ ابتُليت بالإعجاب برأي الخوارج في تكفير مرتكب الكبيرة وتخليده في النار، وأنَّهم بلقائهم جابراً رضي الله عنه وبيانه لهم صاروا إلى ما أرشدهم إليه،
dan Abu Nu’aim itu adalah al-Fadhl bin Dakin, salah seorang perawi dalam sanad hadits ini.
Kelompok tersebut berangkat untuk melaksanakan ibadah haji sambil terfitnah oleh pemahaman yang salah (khowarij). Pemahaman salah yang dimaksud adalah bahwa pelaku dosa besar itu tidak akan keluar dari neraka. Kelompok tersebut (yang memengaruhi Yazid al-Faqir) membawa ayat-ayat yang datang mengenai orang-orang kafir untuk dikenakan juga kepada kaum Muslimin. Pemahaman ini termasuk di antara aqidah Khawarij. Kelompok ini tadinya bermaksud menampakkan aqidah batil tersebut kepada manusia seusai musim haji. Akan tetapi dalam perjalanan yang berkah tersebut, Allah memberikan taufiq kepada mereka untuk bertemu dengan Jabir bin ‘Abdullah al-Anshari –radhiyallahu ‘anhuma- sehingga menjadi jelaslah bagi mereka tentang rusaknya pemahaman mereka serta ditunjukkan kepada mereka jalan yang lurus.

  وتركوا الباطلَ الذي فهموه، وأنَّهم عدلوا عن الخروج الذي همُّوا به بعد الحجِّ، وهذه من أعظم الفوائد التي يستفيدها المسلم برجوعه إلى أهل العلم.
Dan meninggalkan kesalahan yang dipahaminya dan mereka mengubah pikiran dari mengeluarkan pemikiran batil yang menimpa mereka setelah haji, dan ini salah satu manfaat terbesar yang didapatkan seorang muslim dengan kembalinya ia kepada ahlul ilmi.
---
ويدلُّ لخطورة الغلو في الدِّين والانحراف عن الحقِّ ومجانبة ما كان عليه أهل السنَّة والجماعة قوله صلى الله عليه وسلم من حديث حذيفة رضي الله عنه: ((إنَّ أخوفَ ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رُئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام، انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك: الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي)) رواه البخاري في التاريخ وأبو يعلى وابن حبان والبزار، انظر الصحيحة للألباني (3201).

Dan yang menunjukkan bahaya ekstremisme (Berlebihan) dalam agama dan penyimpangan dari kebenaran dan menyelisihi apa yang ahlusunnah wal jamaah yakini, adalah berkatanya sholallahu alaihi wasalam dari hadits  Hudzaifah rodhiallahu anhu : ((“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al- Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau
menjawab, “Penuduhnya”. [HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Lihat ash-Shahîhah, no. 3201, karya al-Albâni)).

وحداثةُ السنِّ مظنَّة سوء الفهم، يدلُّ لذلك ما رواه البخاري في صحيحه (4495) بإسناده إلى هشام بن عروة، عن أبيه أنَّه قال: (( قلت لعائشة زوج النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم وأنا يومئذ حديث السنِّ: أرأيتِ قول الله تبارك وتعالى: {إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا} ، فما أرى على أحد شيئاً أن لا يطوَّف بهما، فقالت عائشة: كلاَّ! لو كانت كما تقول كانت: فلا جناح عليه أن لا يطوَّف بهما، إنَّما أنزلت هذه الآية في الأنصار، كانوا يُهلُّون لِمناة، وكانت مناة حذو قديد، وكانوا يتحرَّجون أن يطوَّفوا بين الصفا والمروة، فلمَّا جاء الإسلام سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فأنزل الله  {إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا})).

Dan umumnya usia muda memungkinkan membawa pada kesalahpahaman, hal ini ditunjukkan riwayat oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (4495) diriwayatkan ke Hisham ibn Urwah dari ayahnya, ia berkata: ((Aku bertanya kepada Aisyah istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, -Saat itu saya masih muda-: 'Apakah anda tahu tentang firman Allah Tabaraka Wa Ta'ala: 'Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Barangsiapa yang
beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya.' Sebab sepengetahuanku tidak masalah bagi seseorang untuk meninggalkan Sa'i antara keduanya. Aisyah
menjawab; Bukan begitu, kalau seperti yang kamu katakan, maka jadinya tidak ada dosa orang tidak melakukan sa'i. Ayat ini turun pada orang-orang Anshar, yang dahulu mereka melakukan talbiyah karena Manat, yang letaknya di depan Qadid. Yang mereka berkeharusan berthawaf antara Shofa dan
Marwa. Tatkala Islam datang, mereka bertanya
pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang hal itu. Maka Allah Tabaraka Wa Ta'ala
menurunkan ayat: 'Sesungguhnya Shafa dan
Marwa adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka
barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya'. (QS. Albaqarah 158)).

وعروة بن الزبير من خيار التابعين، وهو أحدُ الفقهاء السبعة بالمدينة في عصر التابعين، قد مهَّد لعُذره في خطئه في الفهم بكونه في ذلك الوقت الذي سأل فيه حديثَ السنِّ، وهو واضحٌ في أنَّ حداثةَ السنِّ مظنَّةُ سوء الفهم، وأنَّ الرجوع إلى أهل العلم فيه الخير والسلامة.

Padahal Urwah bin al-Zubair adalah tabi'in pilihan, adalah salah satu ulama yang tujuh di madinah di era tabi'in,  beliau telah membuka udzur dalam kesalahannya dalam pemahaman, yakni pada saat itu dalam usia muda tatkala bertanya (pada Aisyah), jelas bahwa usia muda memungkinkan membawa  kesalahpahaman, sesengguhnya kembali pada ulama didalamnya ada kebaikan dan keselamatan.

وفي صحيح البخاري (7152) عن جندب بن عبد الله قال: ((إنَّ أوَّل ما ينتن من الإنسان بطنُه، فمَن استطاع أن لا يأكل إلاَّ طيِّباً فليفعل، ومَن استطاع أن لا يُحال بينه وبين الجنَّة بملء كفٍّ من دم هراقه فليفعل))، قال الحافظ في الفتح (13/130): ((ووقع مرفوعاً عند الطبراني أيضاً من طريق إسماعيل بن مسلم، عن الحسن، عن جندب، ولفظه: (تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه)، وهذا لو لم يرِد مصرَّحاً برفعه لكان في حكم المرفوع؛ لأنَّه لا يُقال بالرأي، وهو وعيد شديد لقتل المسلم بغير حقٍّ)).

Dalam Sahih Bukhari (7152) dari jundab bin Abdullah berkata: ((Hal pertama yang membusuk pada manusia adalah perutnya, maka siapa mampu hendaknya tidak makan kecuali yang baik, maka lakukan, dan siapa yang mampu menghindarkan tangannya dari
penumpahan darah sehingga dia terhalang dengan surga, maka lakukanlah)), berkata al Hafidz ibnu hajar dalam al-Fath nya (13/130): ((dan telah sampai secara marfu' pada Thabrani juga dari jalan Ismail bin Muslim, al-Hasan, dari jundab, dan lafadznya: (Kau tahu aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wasalam mengatakan: Janganlah sampai di antara seseorang dan surga, padahal ia sudah melihat surga, dengan sepenuh genggaman darah seorang muslim yang ia  tumpahkan darahnya tanpa alasan)

Lafaz ini tidak secara tegas sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (marfu’) akan tetapi ia dihukumi marfu’ karena tidak mungkin dikatakan berdasarkan pendapat (mesti berdasarkan wahyu), sebab di dalamnya ada ancaman yang keras terhadap dosa membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar (ini tidak mungkin dari pendapat Jundab, mestilah beliau pernah mendengarkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).

وهذه الأحاديث والآثار هي بعض ما أوردته في رسالة ((بأي عقل ودين يكون التفجير والتدمير جهادا؟! ويحكم أفيقوا يا شباب))، وفيها آيات عديدة وأحاديث وآثار كثيرة في تحريم قتل الإنسان نفسه وقتله لغيره بغير حق، وقد طبعت هذه الرسالة مفردة في عام 1424هـ، وطبعت سنة 1428هـ مع رسالة أخرى بعنوان: ((بذل النصح والتذكير لبقايا المفتونين بالتكفير والتفجير)) ضمن مجموع كتبي ورسائلي (6/225-279).

Dan hadits hadits dan atsar dalam sebagian apa yang dalam risalah ((dengan pikiran dan agama apa yang menjadikan pemboman dan perusakan dikatakan jihad? Kasihan kalian, sadarlah wahai pemuda)), dan didalamnya banyak ayat dan atsar tentang larangan pembunuhan manusia atas diri sendiri dan membunuh orang lain tanpa haq, telah dicetak risalah ini secara terpisah pada tahun 1424 H, dicetak pula pada tahun 1428 dengan risalah lain yang berjudul: ((mengarahkan nasehat dan peringatan untuk sisa-sisa orang orang terfitnah dalam takfir (pengkafiran) dan tafjir (peledakan, pengeboman)) dalam kumpulan buku-buku dan risalah saya (6 / 225-279).

وعلى هؤلاء الشباب الذين انساقوا وراء نعيق هذه الفرقة أن يراجعوا أنفسهم ويثوبوا إلى رشدهم وألا يفكر أحد منهم باللحوق بها فيخرجون من الحياة بالأحزمة الناسفة التي يُلبسون إياها أو بذبح بالسكاكين الذي هو ميزة لهذه الفرقة، وعليهم أن يلزموا السمع والطاعة للدولة السعودية التي عاشوا وعاش آباؤهم وأجدادهم في ولايتها بأمن وأمان، فهي بحق أمثل دول العالم وخيرها على ما فيها من قصور من أعظم أسبابه فتنة التغريبيين في هذه البلاد الذين يلهثون وراء تقليد الغرب في كل ما فيه مضرة.

  demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Negeri ini, dengan kebenaran (aku berkata) adalah sebaik-baiknya negeri di dunia ini, meskipun masih terdapat banyak kekurangan, diantara sebab kekurangan tersebut adalah bencana para pengikut Barat di negeri ini yang latah terhadap Barat, ikut-ikutan dalam perkara yang bermudarat.

Dan untuk para pemuda yang ikut ikutan dan di belakang menyeru pada kelompok ini untuk mengintrospeksi diri dan agar mereka kembali pada petunjuk yang benar dan jangan berpikir untuk bergabung dengan mereka, yang menyebabkan mengeluarkan dari kehidupan, dengan sabuk peledak yang dipakai atau menyembelih dengan pisau pisau, yang merupakan ciri kelompok ini, dan wajib atas mereka untuk mendengar dan taat pada negara Saudi di mana mereka tinggal dan orang tua dan kakek-nenek mereka dengan tunduk padanya dalam keselamatan dan keamanan,

Negeri ini, dengan kebenaran (aku berkata) adalah sebaik-baiknya negeri di dunia ini, meskipun masih terdapat banyak kekurangan, diantara sebab kekurangan tersebut adalah bencana para pengikut Barat di negeri ini yang latah terhadap Barat, ikut-ikutan dalam perkara yang bermudarat.

وأسأل الله عز وجل أن يصلح أحوال المسلمين في كل مكان، وأن يهدي شبابهم من البنين والبنات إلى كل خير،وأن يحفظ بلاد الحرمين حكومة وشعبا من كل سوء، وأن يوفقها لكل خير، وأن يقيها شر الأشرار وكيد الفجار، إنه سميع مجيب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Saya meminta pada Allah Yang Maha Esa agar memperbaiki kondisi umat Islam di mana-mana, dan untuk membimbing anak-anak muda mereka laki laki dan perempuan untuk semua yang terbaik, dan untuk menjaga negari haramain pemerintahnya dan rakyatnya dari segala kejahatan, dan untuk membimbingnya dalam setiap kebaikan,  membentengi melawan kejahatan dan persekongkolan jelek, sesungguhnya allah maha mendengarkan dan menjawab, dan sholawat Allah dan salam  pada Nabi kami Muhammad dan atas keluarga dan sahabatnya.

Sumber
http://al-abbaad.com/index.php/articles/125-1435-09-28

Sifat Lihyah Nabi Sholallahu alaihi wasallam

Sifat Lihyah Nabi Sholallahu alaihi wasallam

السؤال
كيف كانت لحية الرسول عليه الصلاة والسلام؟ هل كانت كيف كانت لحية الرسول عليه الصلاة والسلام؟ هل كانت مسترسلة ؟ سمعت أنها كانت كثيفة جدا ً، هل نفهم أنها كانت عريضة لكثافة الشعر؟
Soal
Bagaimanakah jenggot rosulullah alaihi sholatu wassalam ? Apakah ia lebat ? Saya dengar jenggotnya itu amat tebal, apakah kami memahami bahwa jenggot beliau lebar nan tebal ?

الإجابــة
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

فمن الثابت في وصف لحية النبي صلى الله عليه وسلم أنها كانت كثة، وقد ورد في ذلك عدة أحاديث، منها حديث البراء قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا مربوعا عريض ما بين المنكبين كث اللحية. رواه النسائي، وصححه الألباني.
Dari riwayat terpercaya dalam gambaran jenggot nabi sholallahu alaihi wasallam bahwa ia lebat, telah sampai dalam hal ini sejumlah hadits, diantaranya hadits al barro' yang berkata : adalah rosulullah sholallahu alaihi wasallam lelaki yang sedang tingginya, pundaknya bidang, jenggotnya lebat, diriwayatkan nasa'i, dan dishahihkan al albani

وعن يزيد الفارسي قال  : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ زَمَنَ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : وَكَانَ يَزِيدُ يَكْتُبُ الْمَصَاحِفَ ، قَالَ : فَقُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ : إِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ .
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ يَقُولُ : " إِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِي ،
فَمَنْ رَآنِي فِي النَّوْمِ فَقَدْ رَآنِي . فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْعَتَ
لَنَا هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي رَأَيْتَ ؟
قَالَ : قُلْتُ : نَعَمْ ، رأَيْتُ رَجُلًا بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ ، جِسْمُهُ
وَلَحْمُهُ أَسْمَرُ إِلَى الْبَيَاضِ ، حَسَنُ الْمَضْحَكِ ، أَكْحَلُ الْعَيْنَيْنِ ، جَمِيلُ دَوَائِرِ الْوَجْهِ ، قَدْ مَلَأَتْ لِحْيَتُهُ مِنْ هَذِهِ إِلَى هَذِهِ ، حَتَّى كَادَتْ تَمْلَأُ نَحْرَهُ . قَالَ : فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : لَوْ رَأَيْتَهُ فِي الْيَقَظَةِ مَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تَنْعَتَهُ فَوْقَ هَذَا ) رواه أحمد في " المسند " (5/389) طبعة مؤسسة الرسالة .
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻤﺎﺋﻞ ،
ﻭﺣﺴﻨﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻬﻴﺜﻤﻲ: ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ.

Dan dari yazid al farisi, berkata : Saya melihat rosulullah sholallahu alaihi wasallam dalam mimpi, pada zaman ibnu abbas rodhiallahu anhu. Berkata (perawi hadits) : yazid ini menulis mushaf-mushaf al qur'an.

Berkata yazid al farisi : aku berkata pada ibnu abbas : sungguh aku melihat rosulullah sholallahu alaihi wasallam dalam mimpi.
Berkata ibnu abbas : rosulullah sholallahu alaihi wasallam berkata : sesungguhnya setan tidak mampu menyerupaiku, maka siapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku.

Maka mampukah kamu menjelaskan untuk kami tentang lelaki yang kamu lihat dalam mimpi itu ?

Saya Berkata : iya, aku melihat seseorang tingginya sedang, badan dan kulitnya putih kemerahan, indah senyumannya, matanya hitam tajam, ia seorang yang tampan, wajahnya bundar. Sungguh jenggotnya memenuhi dari sini ke sini, hingga menutupi bagian tenggorokannya.

Berkata ibnu abbas : sekiranya engkau melihatnya diwaktu sadar, kamu tidak akan mampu untuk jelaskan lebih dari ini.

HR Ahmad dalam musnadnya 5/389 cetakan muasasah arrisalah.

Ririwayatkan oleh ahmad dan tirmidzi dalam asy-syama'il, al albani menghasankannya, dan berkata al haitsami : diriwayatkan oleh ahmad dan perawinya tsiqot

وقال القاضي عياض في الشفا: أما الصورة وجمالها وتناسب أعضائه في حسنها فقد جاءت الآثار الصحيحة والمشهورة الكثيرة بذلك، من حديث علي وأنس بن مالك وأبي هريرة والبراء بن عازب، وعائشة أم المؤمنين وابن أبي هالة وأبي جحيفة وجابر بن سمرة وأم معبد وابن عباس ومعرض بن معيقيب وأبي الطفيل والعداء بن خالد وخريم بن فاتك وحكيم بن حزام وغيرهم رضى الله عنهم من أنه صلى الله عليه وسلم كان: أزهر اللون .. كث اللحية تملأ صدره. هـ.
Berkata Qodhi Iyadh dalam Asy-syifa : adapun gambaran dan ketampannya dan... dalam kebaikannya maka telah datang atsar shahih nan masyhur yang banyak terkait hal ini, dari hadits ali, dan anas bin malik, dan abu hurairah, dan al barro' bin 'azib, dan a'isyah ummul mukminin', dan ibnu abi halah, dan abi juhaifah, dan jabir bin sumroh, dan ummu ma'bad, dan ibnu abbas'' dan ma'ridl bin ma'iqib, dan abu thufail, dan adak bin kholid, dan khorim bin fatik, hakim bin hazam, dan selainnya rodhiallahu anhum, bahwa nabi sholallahu alaihi wasalam adalah : kulitnya terang...lebat jenggotnya sampai ke dadanya.

وقال ابن الجوزي في كشف المشكل: اللحية الكثة: المجتمعة. اهـ.
Dan berkata ibnul jauzi dalam kasyful musykil : jenggotnya lebat

وقال ابن حجر: أي فيها كثافة واستدارة، وليست طويلة. اهـ.
Berkata ibnu hajar : yang mana pada jenggotnya lebat melingkar dan tidak panjang

 وقال المناوى: المصطفى صلى الله عليه وسلم كان كث اللحية، وكل صفة من صفاته أكمل الصفات على الإطلاق. اهـ.
Dan berkata al munawi : al mustofa sholallahu alaihi wasalam adalah lebat jenggotnya, dan semua sifat dari sifatnya adalah sesempurna  sifat seluruhnya.
والله أعلم.

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=137471

Minggu, 29 Juni 2014

Download Tafsir Ibnu Katsir Lengkap 30 Juz Terjemahan Indonesia

Download Tafsir Ibnu Katsir Lengkap 30 Juz Terjemahan Indonesia
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1
Tafsir Ibnu Katsir Juz 2
Tafsir Ibnu Katsir Juz 3
Tafsir Ibnu Katsir Juz 4
Tafsir Ibnu Katsir Juz 5
Tafsir Ibnu Katsir Juz 6
Tafsir Ibnu Katsir Juz 7
Tafsir Ibnu Katsir Juz 8
Tafsir Ibnu Katsir Juz 9
Tafsir Ibnu Katsir Juz 10
Tafsir Ibnu Katsir Surat At Taubah (Juz 11)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Yunus (Juz 11)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Huud (Juz 12)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Yusuf (Juz 12)
Tafsir Ibnu Katsir Juz 13
Tafsir Ibnu Katsir Juz 14
Tafsir Ibnu Katsir Juz 15
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kahfi (Juz 16)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Maryam (Juz 16)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Thoha (Juz 16)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Anbiyaa (Juz 17)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hajj (Juz 17)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu’minuun (Juz 18)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ahqaaf (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Muhammad (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fath (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hujurat (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Qaaf (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Adz Dzariyat (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thuur (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An Najm (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat AL Qomar (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ar Rahman (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Waqi’ah (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hadid (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mujadilah (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hasyr (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mumtahanah (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ash Shaf (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Jumuah (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Munaafiqun (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thoghabun (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thalaq (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat At Tahrim (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mulk (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qolam (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat AL Haqqoh (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ma’arij (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Nuh (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Jin (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muzammil (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mudatstsir (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qiyamah (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Insaan (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mursalaat (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An Naba (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An Nazi’at (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Abasa (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat At Takwir (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muthoffifin (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Buruuj (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thoriq (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ghasyiyah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fajr (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Asy Syams (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Alamnasyrah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat At Tin (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Alaq (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qodr (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Bayyinah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Zalzalah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Adiyat (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qaari’ah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Ashr (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Humazah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fill (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Quraisy (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Maa’uun (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kautsar (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kafiruun (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An Nashr (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ikhlash (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu’awwidzatain (Juz 30)
Mohon maaf jika ada link download tafsir ibnu katsir yang rusak atau gak bisa didownload lagi,