Selasa, 05 Agustus 2014

Fitnah Khilafah Khayalan Daisy Iraq

Risalah terbaru asy syeikh allamah abdul muhsin al abbad hafidzhullah.

ﻓﺘﻨﺔ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﺍﻟﺪﺍﻋﺸﻴﺔ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻴﺔ ﺍﻟﻤﺰﻋﻮﻣﺔ
((Fitnah Khilafah Khayalan Daisy Iraq))

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻻ ﻧﺒﻲ ﺑﻌﺪﻩ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ. ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ؛

فقد ولد في العراق قبل عدة سنوات فرقة أطلقت على نفسها دولة الإسلام بالعراق والشام، واشتهر ذكرها بأربعة حروف هي الحروف الأوائل لهذه الدولة المزعومة فيقال لها: ((داعش))،

وقد تعاقب على زعامتها ـ كما ذكر ذلك بعض المتابعين لحدوثها وأحداثها ـ عدد يقال للواحد منهم: أبو فلان الفلاني أو أبو فلان ابن فلان، كنية معها نسبة إلى بلد أو قبيلة كما هو شأن المجاهيل المتسترين بالكنى والأنساب
Telah lahir di Irak beberapa tahun yang lalu, kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam Irak dan Syam (Levant), dan terkenal disebutkan empat karakter adalah huruf awal untuk negara khayal ini yang mengatakan padanya: ((Daa'ish)),

Dan telah berganti kepemimpinannya seperti yang disebutkan oleh beberapa pengikut dalam menceritakannya dan  peristiwa didalamnya, dikatakan salah satu dari mereka: Abu fulan al fulani atau Abu fulan ibnu fulan, nama kunyah padanya dinisbahkan pada negara atau suku (kabilah) sebagaimana dia dalam hal ini menyamarkan berlindung diri dengan nama kunyah dan silsilah.

، وبعد مضي مدة على الحرب التي وقعت في سوريا بين النظام والمقاتلين له دخل أعداد من هذه الفرقة غير مقاتلين للنظام، لكنهم يقاتلون أهل السنة المناوئين للنظام ويفتكون بهم، وقد اشتهر أن قتلهم لمن يريدون قتله يكون بالسكاكين الذي هو من أبشع وأنكى ما يكون في قتل الآدميين، وفي أوائل شهر رمضان الحالي حوَّلوا تسمية فرقتهم إلى اسم ((الخلافة الإسلامية))،

وخطب خليفتهم الذي أُطلق عليه أبو بكر البغدادي في جامع في الموصل، ومما قاله في خطبته: ((فقد وُلِّيت عليكم ولست بخيركم))، وقد صدق في أنه ليس بخيرهم؛ لأن قتل من يقتلونه بالسكاكين إن كان بأمره أو بعلمه وإقراره فهو شرهم؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: ((من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه، لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا)) رواه مسلم (6804)،

dan setelah periode perang yang terjadi di Suriah antara rezim dan para pejuang, telah masuk sejumlah orang dari kelompok ini (Daisy) yang tidak memerangi pemerintah, tetapi mereka memerangi Sunni yang melawan rezim dan membunuh mereka, dan telah dikenal bahwa dalam membunuh orang-orang yang ingin dibunuhnya ini dengan pisau pisau, yang merupakan salah satu yang paling keji dan mengerikan yang dilakukan dalam pembunuhan pada manusia, dan dalam bulan awal Ramadhan ini mereka merubah penamaan kelompok mereka dengan nama ((kekhalifahan islam)),

Dalam pidato dari kholifah mereka yang menampilkan diri bernama Abu Bakr al-Baghdadi di sebuah masjid jami' di Mosul, dan apa yang dia katakan dalam khotbahnya: ((sungguh saya telah ditunjuk sebagai pemimpin atas kalian dan saya bukanlah yang terbaik diantara kalian)), dan sungguh benar bahwa dia bukanlah yang terbaik diantara mereka,  karena ia telah membunuh orang orang (para mujahidin sunni) dengan pisau atas perintahnya atau dengan pengetahuan dan persetujuannya, maka dia ini orang jahat dari mereka,  karena rosulullah sholallahu alaihi wasalam telah mengatakan : ((barang siapa yang menyerukan pada petunjuk maka baginya akan mendapat pahala semisal pahala orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun, dan barang siapa menyeru pada kesesatan maka baginya dosa dan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengecilkan dosa mereka sesuatupun)) HR Muslim (6804),

وهذه الجملة التي قالها في خطبته قد قالها أول خليفة في الإسلام بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر الصديق رضي الله عنه وأرضاه وهو خير هذه الأمة التي هي خير الأمم، قالها تواضعا وهو يعلم والصحابة يعلمون أنه خيرهم للأدلة الدالة على ذلك من كلام رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومن الخير لهذه الفرقة أن تراجع نفسها وتؤوب إلى رشدها قبل أن تكون دولتها في مهب الرياح كشأن مثيلاتها التي سبقتها في مختلف العصور

Dan sejumlah kalimat ini yang diucapkan dalam khotbahnya, adalah ucapan yang telah diucapkan pertama dalam Islam oleh kholifah Rasulullah sholallahu alaihi wasalam yakni Abu Bakar ash-shidiq rodhiallahu anh wa ardhoh, yang adalah dia sebaik baik manusia dalam umat ini, dan umat ini adalah sebaik umat umat, ucapannya tawadhu' sederhana dan dia tahu dan sahabat pun tahu bahwa beliau terbaik dari mereka dalam berbuat adil dan keadilan, karenanya dari perkataan Rasulullah sholallahu alaihi wasalam,

dan untuk kebaikan kelompok ini agar kembali sendiri dan bertaubat mengikuti jalan yang benar, sebelum negara ini tertiup angin seperti yang  semisalnya yang telah mendahuluinya dalam berbagai abad lalu.

ومما يؤسف له أن فتنة هذه الخلافة المزعومة التي وُلدت قبل أيام لقيت قبولا عند بعض صغار الشباب في بلد الحرمين أظهروا فرحهم وسرورهم بها كما يفرح الظمآن بالسراب، وفيهم من زعم مبايعة هذا الخليفة المجهول!

وكيف يُرتجى خير ممن ابتلوا بالتكفير والتقتيل بأشنع القتل وأفظعه؟! والواجب على هؤلاء الشباب أن يربأوا بأنفسهم عن الانسياق وراء نعيق كل ناعق، وأن يكون الرجوع في كل التصرفات إلى ما جاء عن الله عز وجل وعن رسوله صلى الله عليه وسلم؛ لأن في ذلك العصمة والسلامة والنجاة في الدنيا والآخرة، وأن يرجعوا إلى العلماء الناصحين لهم وللمسلمين،

Sangat disayangkan bahwa fitnah khilafah khayalan ini, yang lahir beberapa hari lalu telah diterima di sebagian kecil anak muda di negari haramain menunjukkan kegembiraan dan kesenangan dengannya sebagaimana senangnya haus dengan minuman, dan diantara mereka berbai'at pada Khalifah majhul ini !

Dan bagaimana berharap baik dari mereka yang menganut paham takfir (pengkafiran) dan melakukan pembunuhan yang paling keji dan pembunuhan paling kejam ?

Dan wajib atas para pemuda ini untuk memisahkan diri dari ikut ikutan di belakang teriakan orang yang berteriak, dan semua tindakan agar  kembali pada apa yang datang dari Allah azza wajalla dan Rasul sholallahu alaihi wasallam, Karena didalamnya ada kesempurnaan dan keamanan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, dan agar kembali pada ulama yang membimbing  mereka dan bagi kaum Muslimin.

ومن أمثلة سلامة من فكَّر في ضلال بسبب رجوعه إلى أهل العلم ما رواه مسلم في صحيحه (191) عن يزيد الفقير قال: ((كنتُ قد شَغَفَنِي رأيٌ من رأي الخوارج، فخرجنا في عِصابةٍ ذوي عدد نريد أن نحجَّ، ثمَّ نخرجَ على الناس، قال: فمررنا على المدينة فإذا جابر بن عبد الله يُحدِّث القومَ ـ جالسٌ إلى ساريةٍ ـ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال:

فإذا هو قد ذكر الجهنَّميِّين، قال: فقلتُ له: يا صاحبَ رسول الله! ما هذا الذي تُحدِّثون؟ والله يقول: {إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ}، و {كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا}، فما هذا الذي تقولون؟ قال: فقال: أتقرأُ القرآنَ؟ قلتُ: نعم! قال: فهل سمعت بمقام محمد عليه السلام، يعني الذي يبعثه فيه؟ قلتُ: نعم! قال: فإنَّه مقام محمد صلى الله عليه وسلم المحمود الذي يُخرج اللهُ به مَن يُخرج. قال: ثمَّ نعتَ وضعَ الصِّراط ومرَّ الناس عليه، قال: وأخاف أن لا أكون أحفظ ذاك. قال: غير أنَّه قد زعم أنَّ قوماً يَخرجون من النار بعد أن يكونوا فيها، قال: يعني فيخرجون كأنَّهم عيدان السماسم، قال: فيدخلون نهراً من أنهار الجنَّة فيغتسلون فيه، فيخرجون كأنَّهم القراطيس. فرجعنا، قلنا: وَيْحَكم! أَتَروْنَ الشيخَ يَكذِبُ على رسول الله صلى الله عليه وسلم؟! فرجعنا، فلا ـ والله! ـ ما خرج منَّا غيرُ رَجل واحد، أو كما قال أبو نعيم ))

dan contoh keselamatan dari pemikiran sesat karena kembali ke para ulama, yakni apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (191) dari yazid al faqir, berkata: (( Dulu aku pernah terpengaruh dan begitu menyukai suatu pemikiran dari pemikiran Khawarij, lalu kami keluar bersama sekelompok orang banyak dengan maksud melaksanakan haji. Kami pun keluar (membaur bersama) manusia. Kemudian tatkala kami melewati Madinah, kami mendapati Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallahu ‘anhuma- yang tengah duduk bersama para musafir seraya mengabarkan hadits dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wassalam- kepada orang-orang, dan dia menyebutkan tentang al-jahannamiyun (orang-orang yang dikeluarkan dari neraka -pent).

Aku pun berkata kepada Jabir bin ‘Abdullah, “Wahai shahabat Rasulullah, apa yang sedang kau bicarakan ini? Padahal Allah berfirman …:
رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ
“Wahai Rabb kami, sesungguhnya siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia.” (QS. Ali ‘Imran: 192)
…  juga firman Allah:
كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا
“Setiap kali mereka (para penghuni neraka) hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya.” (QS. As-Sajdah: 20)
… lalu apa yang sedang kalian katakan ini?”

Maka Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallah ‘anhuma- pun berkata, “Apakah kau membaca al-Quran?”
Aku menjawab, “Ya, aku membaca al-Quran.”
Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Lantas apakah kau mendengar tentang kedudukan Muhammad ‘alaihi as-salam? Yakni kedudukan yang beliau diberi wewenang di dalamnya?”
Aku menjawab, “Ya.”
Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Maka sesungguhnya itulah kedudukan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang terpuji, yang dengan kedudukan itulah Allah (mengizinkan) untuk mengeluarkan orang yang dikeluarkan (dari neraka).”

Kemudian Jabir bin ‘abdullah menjelaskan tentang letak shirath dan (bagaimana) manusia melintasinya. Aku khawatir tidak menghafalnya, hanya saja Jabir mengatakan bahwa ada orang-orang yang dikeluarkan dari neraka setelah mereka berada di dalamnya, yakni dia mengatakan, “Lalu mereka dikeluarkan (dari neraka) seakan-akan mereka itu potongan kayu dan biji-bijian kering yang telah dijemur, lalu mereka dimasukkan ke sebuah sungai dari sungai-sungai surga dan dicucilah mereka di situ, lalu dikeluarkan lagi seakan-akan mereka itu kertas yang putih.” Lalu kami pun kembali (kepada pemahaman yang benar), lalu kami mengatakan, “Celakalah kalian! Apakah kalian pikir Syaikh itu (Jabir bin ‘Abdullah) akan berdusta atas nama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Dan kami kembali (ke kampung halaman), dan demi Allah, tidaklah ada yang keluar dari kelompok kami kecuali seorang lelaki saja. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Nu’aim))
وأبو نعيم هو الفضل بن دكين هو أحد رجال الإسناد، وهو يدلُّ على أنَّ هذه العصابةَ ابتُليت بالإعجاب برأي الخوارج في تكفير مرتكب الكبيرة وتخليده في النار، وأنَّهم بلقائهم جابراً رضي الله عنه وبيانه لهم صاروا إلى ما أرشدهم إليه،
dan Abu Nu’aim itu adalah al-Fadhl bin Dakin, salah seorang perawi dalam sanad hadits ini.
Kelompok tersebut berangkat untuk melaksanakan ibadah haji sambil terfitnah oleh pemahaman yang salah (khowarij). Pemahaman salah yang dimaksud adalah bahwa pelaku dosa besar itu tidak akan keluar dari neraka. Kelompok tersebut (yang memengaruhi Yazid al-Faqir) membawa ayat-ayat yang datang mengenai orang-orang kafir untuk dikenakan juga kepada kaum Muslimin. Pemahaman ini termasuk di antara aqidah Khawarij. Kelompok ini tadinya bermaksud menampakkan aqidah batil tersebut kepada manusia seusai musim haji. Akan tetapi dalam perjalanan yang berkah tersebut, Allah memberikan taufiq kepada mereka untuk bertemu dengan Jabir bin ‘Abdullah al-Anshari –radhiyallahu ‘anhuma- sehingga menjadi jelaslah bagi mereka tentang rusaknya pemahaman mereka serta ditunjukkan kepada mereka jalan yang lurus.

  وتركوا الباطلَ الذي فهموه، وأنَّهم عدلوا عن الخروج الذي همُّوا به بعد الحجِّ، وهذه من أعظم الفوائد التي يستفيدها المسلم برجوعه إلى أهل العلم.
Dan meninggalkan kesalahan yang dipahaminya dan mereka mengubah pikiran dari mengeluarkan pemikiran batil yang menimpa mereka setelah haji, dan ini salah satu manfaat terbesar yang didapatkan seorang muslim dengan kembalinya ia kepada ahlul ilmi.
---
ويدلُّ لخطورة الغلو في الدِّين والانحراف عن الحقِّ ومجانبة ما كان عليه أهل السنَّة والجماعة قوله صلى الله عليه وسلم من حديث حذيفة رضي الله عنه: ((إنَّ أخوفَ ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رُئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام، انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك: الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي)) رواه البخاري في التاريخ وأبو يعلى وابن حبان والبزار، انظر الصحيحة للألباني (3201).

Dan yang menunjukkan bahaya ekstremisme (Berlebihan) dalam agama dan penyimpangan dari kebenaran dan menyelisihi apa yang ahlusunnah wal jamaah yakini, adalah berkatanya sholallahu alaihi wasalam dari hadits  Hudzaifah rodhiallahu anhu : ((“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al- Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau
menjawab, “Penuduhnya”. [HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Lihat ash-Shahîhah, no. 3201, karya al-Albâni)).

وحداثةُ السنِّ مظنَّة سوء الفهم، يدلُّ لذلك ما رواه البخاري في صحيحه (4495) بإسناده إلى هشام بن عروة، عن أبيه أنَّه قال: (( قلت لعائشة زوج النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم وأنا يومئذ حديث السنِّ: أرأيتِ قول الله تبارك وتعالى: {إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا} ، فما أرى على أحد شيئاً أن لا يطوَّف بهما، فقالت عائشة: كلاَّ! لو كانت كما تقول كانت: فلا جناح عليه أن لا يطوَّف بهما، إنَّما أنزلت هذه الآية في الأنصار، كانوا يُهلُّون لِمناة، وكانت مناة حذو قديد، وكانوا يتحرَّجون أن يطوَّفوا بين الصفا والمروة، فلمَّا جاء الإسلام سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فأنزل الله  {إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا})).

Dan umumnya usia muda memungkinkan membawa pada kesalahpahaman, hal ini ditunjukkan riwayat oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (4495) diriwayatkan ke Hisham ibn Urwah dari ayahnya, ia berkata: ((Aku bertanya kepada Aisyah istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, -Saat itu saya masih muda-: 'Apakah anda tahu tentang firman Allah Tabaraka Wa Ta'ala: 'Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Barangsiapa yang
beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya.' Sebab sepengetahuanku tidak masalah bagi seseorang untuk meninggalkan Sa'i antara keduanya. Aisyah
menjawab; Bukan begitu, kalau seperti yang kamu katakan, maka jadinya tidak ada dosa orang tidak melakukan sa'i. Ayat ini turun pada orang-orang Anshar, yang dahulu mereka melakukan talbiyah karena Manat, yang letaknya di depan Qadid. Yang mereka berkeharusan berthawaf antara Shofa dan
Marwa. Tatkala Islam datang, mereka bertanya
pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang hal itu. Maka Allah Tabaraka Wa Ta'ala
menurunkan ayat: 'Sesungguhnya Shafa dan
Marwa adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka
barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya'. (QS. Albaqarah 158)).

وعروة بن الزبير من خيار التابعين، وهو أحدُ الفقهاء السبعة بالمدينة في عصر التابعين، قد مهَّد لعُذره في خطئه في الفهم بكونه في ذلك الوقت الذي سأل فيه حديثَ السنِّ، وهو واضحٌ في أنَّ حداثةَ السنِّ مظنَّةُ سوء الفهم، وأنَّ الرجوع إلى أهل العلم فيه الخير والسلامة.

Padahal Urwah bin al-Zubair adalah tabi'in pilihan, adalah salah satu ulama yang tujuh di madinah di era tabi'in,  beliau telah membuka udzur dalam kesalahannya dalam pemahaman, yakni pada saat itu dalam usia muda tatkala bertanya (pada Aisyah), jelas bahwa usia muda memungkinkan membawa  kesalahpahaman, sesengguhnya kembali pada ulama didalamnya ada kebaikan dan keselamatan.

وفي صحيح البخاري (7152) عن جندب بن عبد الله قال: ((إنَّ أوَّل ما ينتن من الإنسان بطنُه، فمَن استطاع أن لا يأكل إلاَّ طيِّباً فليفعل، ومَن استطاع أن لا يُحال بينه وبين الجنَّة بملء كفٍّ من دم هراقه فليفعل))، قال الحافظ في الفتح (13/130): ((ووقع مرفوعاً عند الطبراني أيضاً من طريق إسماعيل بن مسلم، عن الحسن، عن جندب، ولفظه: (تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:  لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه)، وهذا لو لم يرِد مصرَّحاً برفعه لكان في حكم المرفوع؛ لأنَّه لا يُقال بالرأي، وهو وعيد شديد لقتل المسلم بغير حقٍّ)).

Dalam Sahih Bukhari (7152) dari jundab bin Abdullah berkata: ((Hal pertama yang membusuk pada manusia adalah perutnya, maka siapa mampu hendaknya tidak makan kecuali yang baik, maka lakukan, dan siapa yang mampu menghindarkan tangannya dari
penumpahan darah sehingga dia terhalang dengan surga, maka lakukanlah)), berkata al Hafidz ibnu hajar dalam al-Fath nya (13/130): ((dan telah sampai secara marfu' pada Thabrani juga dari jalan Ismail bin Muslim, al-Hasan, dari jundab, dan lafadznya: (Kau tahu aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wasalam mengatakan: Janganlah sampai di antara seseorang dan surga, padahal ia sudah melihat surga, dengan sepenuh genggaman darah seorang muslim yang ia  tumpahkan darahnya tanpa alasan)

Lafaz ini tidak secara tegas sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (marfu’) akan tetapi ia dihukumi marfu’ karena tidak mungkin dikatakan berdasarkan pendapat (mesti berdasarkan wahyu), sebab di dalamnya ada ancaman yang keras terhadap dosa membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar (ini tidak mungkin dari pendapat Jundab, mestilah beliau pernah mendengarkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).

وهذه الأحاديث والآثار هي بعض ما أوردته في رسالة ((بأي عقل ودين يكون التفجير والتدمير جهادا؟! ويحكم أفيقوا يا شباب))، وفيها آيات عديدة وأحاديث وآثار كثيرة في تحريم قتل الإنسان نفسه وقتله لغيره بغير حق، وقد طبعت هذه الرسالة مفردة في عام 1424هـ، وطبعت سنة 1428هـ مع رسالة أخرى بعنوان: ((بذل النصح والتذكير لبقايا المفتونين بالتكفير والتفجير)) ضمن مجموع كتبي ورسائلي (6/225-279).

Dan hadits hadits dan atsar dalam sebagian apa yang dalam risalah ((dengan pikiran dan agama apa yang menjadikan pemboman dan perusakan dikatakan jihad? Kasihan kalian, sadarlah wahai pemuda)), dan didalamnya banyak ayat dan atsar tentang larangan pembunuhan manusia atas diri sendiri dan membunuh orang lain tanpa haq, telah dicetak risalah ini secara terpisah pada tahun 1424 H, dicetak pula pada tahun 1428 dengan risalah lain yang berjudul: ((mengarahkan nasehat dan peringatan untuk sisa-sisa orang orang terfitnah dalam takfir (pengkafiran) dan tafjir (peledakan, pengeboman)) dalam kumpulan buku-buku dan risalah saya (6 / 225-279).

وعلى هؤلاء الشباب الذين انساقوا وراء نعيق هذه الفرقة أن يراجعوا أنفسهم ويثوبوا إلى رشدهم وألا يفكر أحد منهم باللحوق بها فيخرجون من الحياة بالأحزمة الناسفة التي يُلبسون إياها أو بذبح بالسكاكين الذي هو ميزة لهذه الفرقة، وعليهم أن يلزموا السمع والطاعة للدولة السعودية التي عاشوا وعاش آباؤهم وأجدادهم في ولايتها بأمن وأمان، فهي بحق أمثل دول العالم وخيرها على ما فيها من قصور من أعظم أسبابه فتنة التغريبيين في هذه البلاد الذين يلهثون وراء تقليد الغرب في كل ما فيه مضرة.

  demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Negeri ini, dengan kebenaran (aku berkata) adalah sebaik-baiknya negeri di dunia ini, meskipun masih terdapat banyak kekurangan, diantara sebab kekurangan tersebut adalah bencana para pengikut Barat di negeri ini yang latah terhadap Barat, ikut-ikutan dalam perkara yang bermudarat.

Dan untuk para pemuda yang ikut ikutan dan di belakang menyeru pada kelompok ini untuk mengintrospeksi diri dan agar mereka kembali pada petunjuk yang benar dan jangan berpikir untuk bergabung dengan mereka, yang menyebabkan mengeluarkan dari kehidupan, dengan sabuk peledak yang dipakai atau menyembelih dengan pisau pisau, yang merupakan ciri kelompok ini, dan wajib atas mereka untuk mendengar dan taat pada negara Saudi di mana mereka tinggal dan orang tua dan kakek-nenek mereka dengan tunduk padanya dalam keselamatan dan keamanan,

Negeri ini, dengan kebenaran (aku berkata) adalah sebaik-baiknya negeri di dunia ini, meskipun masih terdapat banyak kekurangan, diantara sebab kekurangan tersebut adalah bencana para pengikut Barat di negeri ini yang latah terhadap Barat, ikut-ikutan dalam perkara yang bermudarat.

وأسأل الله عز وجل أن يصلح أحوال المسلمين في كل مكان، وأن يهدي شبابهم من البنين والبنات إلى كل خير،وأن يحفظ بلاد الحرمين حكومة وشعبا من كل سوء، وأن يوفقها لكل خير، وأن يقيها شر الأشرار وكيد الفجار، إنه سميع مجيب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه.

Saya meminta pada Allah Yang Maha Esa agar memperbaiki kondisi umat Islam di mana-mana, dan untuk membimbing anak-anak muda mereka laki laki dan perempuan untuk semua yang terbaik, dan untuk menjaga negari haramain pemerintahnya dan rakyatnya dari segala kejahatan, dan untuk membimbingnya dalam setiap kebaikan,  membentengi melawan kejahatan dan persekongkolan jelek, sesungguhnya allah maha mendengarkan dan menjawab, dan sholawat Allah dan salam  pada Nabi kami Muhammad dan atas keluarga dan sahabatnya.

Sumber
http://al-abbaad.com/index.php/articles/125-1435-09-28

Sifat Lihyah Nabi Sholallahu alaihi wasallam

Sifat Lihyah Nabi Sholallahu alaihi wasallam

السؤال
كيف كانت لحية الرسول عليه الصلاة والسلام؟ هل كانت كيف كانت لحية الرسول عليه الصلاة والسلام؟ هل كانت مسترسلة ؟ سمعت أنها كانت كثيفة جدا ً، هل نفهم أنها كانت عريضة لكثافة الشعر؟
Soal
Bagaimanakah jenggot rosulullah alaihi sholatu wassalam ? Apakah ia lebat ? Saya dengar jenggotnya itu amat tebal, apakah kami memahami bahwa jenggot beliau lebar nan tebal ?

الإجابــة
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

فمن الثابت في وصف لحية النبي صلى الله عليه وسلم أنها كانت كثة، وقد ورد في ذلك عدة أحاديث، منها حديث البراء قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا مربوعا عريض ما بين المنكبين كث اللحية. رواه النسائي، وصححه الألباني.
Dari riwayat terpercaya dalam gambaran jenggot nabi sholallahu alaihi wasallam bahwa ia lebat, telah sampai dalam hal ini sejumlah hadits, diantaranya hadits al barro' yang berkata : adalah rosulullah sholallahu alaihi wasallam lelaki yang sedang tingginya, pundaknya bidang, jenggotnya lebat, diriwayatkan nasa'i, dan dishahihkan al albani

وعن يزيد الفارسي قال  : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ زَمَنَ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : وَكَانَ يَزِيدُ يَكْتُبُ الْمَصَاحِفَ ، قَالَ : فَقُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ : إِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ .
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ يَقُولُ : " إِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِي ،
فَمَنْ رَآنِي فِي النَّوْمِ فَقَدْ رَآنِي . فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْعَتَ
لَنَا هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي رَأَيْتَ ؟
قَالَ : قُلْتُ : نَعَمْ ، رأَيْتُ رَجُلًا بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ ، جِسْمُهُ
وَلَحْمُهُ أَسْمَرُ إِلَى الْبَيَاضِ ، حَسَنُ الْمَضْحَكِ ، أَكْحَلُ الْعَيْنَيْنِ ، جَمِيلُ دَوَائِرِ الْوَجْهِ ، قَدْ مَلَأَتْ لِحْيَتُهُ مِنْ هَذِهِ إِلَى هَذِهِ ، حَتَّى كَادَتْ تَمْلَأُ نَحْرَهُ . قَالَ : فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : لَوْ رَأَيْتَهُ فِي الْيَقَظَةِ مَا اسْتَطَعْتَ أَنْ تَنْعَتَهُ فَوْقَ هَذَا ) رواه أحمد في " المسند " (5/389) طبعة مؤسسة الرسالة .
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻤﺎﺋﻞ ،
ﻭﺣﺴﻨﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻬﻴﺜﻤﻲ: ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ.

Dan dari yazid al farisi, berkata : Saya melihat rosulullah sholallahu alaihi wasallam dalam mimpi, pada zaman ibnu abbas rodhiallahu anhu. Berkata (perawi hadits) : yazid ini menulis mushaf-mushaf al qur'an.

Berkata yazid al farisi : aku berkata pada ibnu abbas : sungguh aku melihat rosulullah sholallahu alaihi wasallam dalam mimpi.
Berkata ibnu abbas : rosulullah sholallahu alaihi wasallam berkata : sesungguhnya setan tidak mampu menyerupaiku, maka siapa yang melihatku dalam mimpi, sungguh ia telah melihatku.

Maka mampukah kamu menjelaskan untuk kami tentang lelaki yang kamu lihat dalam mimpi itu ?

Saya Berkata : iya, aku melihat seseorang tingginya sedang, badan dan kulitnya putih kemerahan, indah senyumannya, matanya hitam tajam, ia seorang yang tampan, wajahnya bundar. Sungguh jenggotnya memenuhi dari sini ke sini, hingga menutupi bagian tenggorokannya.

Berkata ibnu abbas : sekiranya engkau melihatnya diwaktu sadar, kamu tidak akan mampu untuk jelaskan lebih dari ini.

HR Ahmad dalam musnadnya 5/389 cetakan muasasah arrisalah.

Ririwayatkan oleh ahmad dan tirmidzi dalam asy-syama'il, al albani menghasankannya, dan berkata al haitsami : diriwayatkan oleh ahmad dan perawinya tsiqot

وقال القاضي عياض في الشفا: أما الصورة وجمالها وتناسب أعضائه في حسنها فقد جاءت الآثار الصحيحة والمشهورة الكثيرة بذلك، من حديث علي وأنس بن مالك وأبي هريرة والبراء بن عازب، وعائشة أم المؤمنين وابن أبي هالة وأبي جحيفة وجابر بن سمرة وأم معبد وابن عباس ومعرض بن معيقيب وأبي الطفيل والعداء بن خالد وخريم بن فاتك وحكيم بن حزام وغيرهم رضى الله عنهم من أنه صلى الله عليه وسلم كان: أزهر اللون .. كث اللحية تملأ صدره. هـ.
Berkata Qodhi Iyadh dalam Asy-syifa : adapun gambaran dan ketampannya dan... dalam kebaikannya maka telah datang atsar shahih nan masyhur yang banyak terkait hal ini, dari hadits ali, dan anas bin malik, dan abu hurairah, dan al barro' bin 'azib, dan a'isyah ummul mukminin', dan ibnu abi halah, dan abi juhaifah, dan jabir bin sumroh, dan ummu ma'bad, dan ibnu abbas'' dan ma'ridl bin ma'iqib, dan abu thufail, dan adak bin kholid, dan khorim bin fatik, hakim bin hazam, dan selainnya rodhiallahu anhum, bahwa nabi sholallahu alaihi wasalam adalah : kulitnya terang...lebat jenggotnya sampai ke dadanya.

وقال ابن الجوزي في كشف المشكل: اللحية الكثة: المجتمعة. اهـ.
Dan berkata ibnul jauzi dalam kasyful musykil : jenggotnya lebat

وقال ابن حجر: أي فيها كثافة واستدارة، وليست طويلة. اهـ.
Berkata ibnu hajar : yang mana pada jenggotnya lebat melingkar dan tidak panjang

 وقال المناوى: المصطفى صلى الله عليه وسلم كان كث اللحية، وكل صفة من صفاته أكمل الصفات على الإطلاق. اهـ.
Dan berkata al munawi : al mustofa sholallahu alaihi wasalam adalah lebat jenggotnya, dan semua sifat dari sifatnya adalah sesempurna  sifat seluruhnya.
والله أعلم.

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=137471

Minggu, 29 Juni 2014

Download Tafsir Ibnu Katsir Lengkap 30 Juz Terjemahan Indonesia

Download Tafsir Ibnu Katsir Lengkap 30 Juz Terjemahan Indonesia
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1
Tafsir Ibnu Katsir Juz 2
Tafsir Ibnu Katsir Juz 3
Tafsir Ibnu Katsir Juz 4
Tafsir Ibnu Katsir Juz 5
Tafsir Ibnu Katsir Juz 6
Tafsir Ibnu Katsir Juz 7
Tafsir Ibnu Katsir Juz 8
Tafsir Ibnu Katsir Juz 9
Tafsir Ibnu Katsir Juz 10
Tafsir Ibnu Katsir Surat At Taubah (Juz 11)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Yunus (Juz 11)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Huud (Juz 12)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Yusuf (Juz 12)
Tafsir Ibnu Katsir Juz 13
Tafsir Ibnu Katsir Juz 14
Tafsir Ibnu Katsir Juz 15
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kahfi (Juz 16)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Maryam (Juz 16)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Thoha (Juz 16)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Anbiyaa (Juz 17)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hajj (Juz 17)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu’minuun (Juz 18)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ahqaaf (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Muhammad (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fath (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hujurat (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Qaaf (Juz 26)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Adz Dzariyat (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thuur (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An Najm (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat AL Qomar (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ar Rahman (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Waqi’ah (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hadid (Juz 27)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mujadilah (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hasyr (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mumtahanah (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ash Shaf (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Jumuah (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Munaafiqun (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thoghabun (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thalaq (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat At Tahrim (Juz 28)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mulk (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qolam (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat AL Haqqoh (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ma’arij (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Nuh (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Jin (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muzammil (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mudatstsir (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qiyamah (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Insaan (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mursalaat (Juz 29)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An Naba (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An Nazi’at (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Abasa (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat At Takwir (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muthoffifin (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Buruuj (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thoriq (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ghasyiyah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fajr (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Asy Syams (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Alamnasyrah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat At Tin (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Alaq (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qodr (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Bayyinah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Zalzalah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Adiyat (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qaari’ah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Ashr (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Humazah (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fill (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Quraisy (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Maa’uun (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kautsar (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kafiruun (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat An Nashr (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ikhlash (Juz 30)
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu’awwidzatain (Juz 30)
Mohon maaf jika ada link download tafsir ibnu katsir yang rusak atau gak bisa didownload lagi,

Rabu, 25 Desember 2013

Bantahan tahniah perayaan hari raya kafirin

Meluruskan tulisan ustadz salim a fillah, yang berkata :
23. Tinggal kini, dalam hasrat hati tuk membalas
penghormatan yang kalian berikan di 'Idul Fitri & Adhha, kami kan simak para 'ulama.  24. Sungguh, agama ini memerintahkan untuk membalas
tiap pemuliaan dengan penghargaan yang lebih baik,
minimal senilainya. (QS 4: 86)
25. Yang disepakati para 'ulama atas keharamannya
adalah keterlibatan dalam segala yang bernilai ritual & ibadah. Pun jua Fatwa MUI.
26. Jika keterlibatan dalam kegiatan Natal nan bersifat ibadah & ritual disepakati haramnya, para 'ulama ikhtilaf pada soal ucapan selamat.
27. Yang membolehi selamat Natal al Dr. Musthafa Az Zarqa, Dr. Yusuf Al Qaradlawy; menyebut tahniah tak terkait dengan ridha atas 'aqidah.
28. Tahniah Natal, kata keduanya; bisa menjadi da'wah sebagaimana Ibrahim bicara tentang tertuhannya bintang, bulan, mentari. (QS 6: 77-83)
29. Oh iya, QS 6: 77-83 TIDAK berkisah tentang 'Ibrahim Mencari Tuhan', tapi 'Ibrahim Berda'wah', demikian ditegaskan Al Qurthuby.
30. Maka tahni-ah Natal yang diikuti komunikasi intensif sebagaimana dilakukan Ibrahim pada penyembah bintang, bulan, mentari adalah indah.
31. Dr. Abdussattar memberi catatan kemubahan tahni-ah Natal ini dengan kehati-hatian memilih diksi. Doa menuju hidayah lebih dianjurkan.
*****
Bantahan atas syubhat ini

Islam adalah agama tauhid, yang tidak ada toleransi akan pengakuan adanya tuhan lain selain allah, yang maha suci dari sifat menyerupai makhluk nya, tidak diperanak dan tidak diperanakkan. Allah taala berfirman :
ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ، ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ، ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦ ﻟَّﻪُ ﻛُﻔُﻮًﺍ ﺃَﺣَﺪٌ
Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-
Nya segala sesuatu. Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan; tidak pula ada seorang
pun yang setara dengan-Nya.” (QS al-Ikhlas [112]: 1-4).

Mengenai pengertian ayat ini secara keseluruhan, Ibnu Katsir memaparkan, “Dialah al-
Wâhid al-Ahad; tidak ada yang setara dan pembantu; tidak ada sekutu, yang serupa dan
sepadan dengan-Nya. Ungkapan ini tidak diucapkan kepada siapa pun kecuali Allah Azza
wa Jalla. Sebab, Dia Mahasempurna dalam semua sifat dan perbuatan-Nya.” (Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, VIII/527-528)

Allah berfirman  :
ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦُ ﻭَﻟَﺪًﺍ )٨٨( ﻟَﻘَﺪْ ﺟِﺌْﺘُﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺇِﺩًّﺍ )٨٩( ﺗَﻜَﺎﺩُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕُ ﻳَﺘَﻔَﻄَّﺮْﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﺗَﻨْﺸَﻖُّ ﺍﻷﺭْﺽُ ﻭَﺗَﺨِﺮُّ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝُ ﻫَﺪًّﺍ )٩٠ ( ﺃَﻥْ ﺩَﻋَﻮْﺍ ﻟِﻠﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻭَﻟَﺪًﺍ ) ٩١( ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟِﻠﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَّﺨِﺬَ ﻭَﻟَﺪًﺍ ) ٩٢ )
Dan mereka berkata: "Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak, dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha
Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (QS Maryam : 88-92).

Dalam hadits qudsi Allah berfirman:
ﻛﺬَّﺑَﻨﻲ ﺍﺑﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﺫﺍﻟِﻚَ، ﻭﺷَﺘَﻤَﻨﻲ ﻭﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﺫﺍﻟِﻚَ، ﻓﺄﻣَّﺎ ﺗَﻜﺬِﻳﺒُﻪُ ﺇﻳَّﺎﻱَ ﻓَﺰَﻋَﻢَ ﺃَﻧِّﻲ ﻻَ ﺃَﻗْﺪِﺭُ ﺃَﻥْ ﺃُﻋِﻴْﺪَﻩُ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ، ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺷَﺘْﻤُﻪُ ﺇِﻳَّﺎﻱَ ﻓَﻘَﻮْﻟُﻪُ ﻟِﻲ ﻭَﻟَﺪٌ، ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻧِﻲ ﺃَﻥْ ﺃَﺗَّﺨِﺬَ ﺻَﺎﺣِﺒَﺔً ﺃَﻭْ ﻭَﻟَﺪًﺍ
"Anak Adam telah mendustakan Aku dan dia tidak boleh demikian, ia telah mencelaku dan ia tidak boleh demikian. Adapun pendustaannya terhadapKu maka ia menyangka bahwa Aku tidak mampu untuk mengembalikannya (membangkitkannya) sebagaimana semula, dan adapun celaannya kepada-Ku adalah perkataanya bahwa Aku punya anak. Maka maha suci
Aku untuk memiliki istri maupun anak" (HR Al-Bukhari no 4482)

Para salafussholih yang kita diperintahkan untuk mengikuti jejaknya, tidak ada khilaf muktabar, yaitu khilaf yang diakui, masalah yang didalamnya ada perbedaan pendapat diantara mereka, dalam kenyataannya memang tidak ada perselisihan akan ucapan selamat pada perayaan hari raya orang kafir.

Bahkan nabi menyelisihi mereka, tatkala pada muharram kaum yahudi dan nasrani merayakan hari rayanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,
ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﻳَﻮْﻡٌ ﺗُﻌَﻈِّﻤُﻪُ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩُ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ .
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤُﻘْﺒِﻞُ – ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ – ﺻُﻤْﻨَﺎ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍﻟﺘَّﺎﺳِﻊَ
“Apabila tiba tahun depan – insya Allah (jika Allah menghendaki) -kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,
ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺄْﺕِ ﺍﻟْﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻤُﻘْﺒِﻞُ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ.-
“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).

Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah menjelaskan, Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat
yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. (Syarh Shahih Muslim, 8: 15.)

Para sahabat generasi awal sampai mati matian untuk menolak menghormati tuhan tuhan kafir quraish, dikisahkan sahabat bilal radhiallahu anhu disiksa tapi tetap berdzikir ahad, ahad, menunjukkan beliau ingin menghormati dan hanya menyembah satu tuhan.

Sebagian sahabat hijrah ke negeri habasyah, yang mayoritas masyarakatnya nasrani. Ketika kondisi mencari perlindungan inipun, tidak ada riwayat, mereka sampai mengucapkan tahniah.
Padahal kaum muslimin dalam kondisi lemah dari segi kekuatan, masyarakat nasrani habasyah dengan rajanya, najasyi, tidak memerangi kaum muslimin, namun toh demikian tidak ada ucapan selamat ini, karena mereka para sahabat memahami arti tauhid, bahwa hanya ada satu tuhan, dan ucapan selamat tahniah berarti pengakuan adanya tuhan lain.

Klaim yusuf qordhowi yang membolehkan ucapan tahniah pada mereka yang tidak memerangi kaum muslimin, terjawab dengan contoh sahabat yang tidak mengucapkan tahniah ini ketika mereka di habasyah.

Dari generasi sahabat, tabiin, tabiit tabiin tidak didapati ucapan tahniah ini. Ini juga disepakati ulama dari berbagai mazhab. mereka ijma akan haram nya perbuatan ini.

Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata :
ﺛُﻢَّ ﺭَﺃَﻳْﺖ ﺑَﻌْﺾَ ﺃَﺋِﻤَّﺘِﻨَﺎ ﺍﻟْﻤُﺘَﺄَﺧِّﺮِﻳﻦَ ﺫَﻛَﺮَ ﻣﺎ ﻳُﻮَﺍﻓِﻖُ ﻣﺎ ﺫَﻛَﺮْﺗُﻪُ ﻓﻘﺎﻝ ﻭَﻣِﻦْﺃَﻗْﺒَﺢِ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ ﻣُﻮَﺍﻓَﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﻓﻲ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ ﺑِﺎﻟﺘَّﺸَﺒُّﻪِ ﺑِﺄَﻛْﻠِﻬِﻢْ ﻭَﺍﻟْﻬَﺪِﻳَّﺔِ ﻟﻬﻢ ﻭَﻗَﺒُﻮﻝِ ﻫَﺪِﻳَّﺘِﻬِﻢْ ﻓﻴﻪ ﻭَﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﻋْﺘِﻨَﺎﺀً ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤِﺼْﺮِﻳُّﻮﻥَ ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣﻨﻬﻢ ﺑَﻞْ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟْﺤَﺎﺝِّ ﻟَﺎ ﻳَﺤِﻞُّ ﻟِﻤُﺴْﻠِﻢٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺒِﻴﻊَ ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻴًّﺎ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﻣَﺼْﻠَﺤَﺔِ
ﻋِﻴﺪِﻩِ ﻟَﺎ ﻟَﺤْﻤًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺃُﺩْﻣًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺛَﻮْﺑًﺎ، ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻌَﺎﺭُﻭﻥَ ﺷﻴﺌﺎ ﻭَﻟَﻮْ ﺩَﺍﺑَّﺔً ﺇﺫْ ﻫﻮ ﻣُﻌَﺎﻭَﻧَﺔٌ ﻟﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻛُﻔْﺮِﻫِﻢْ ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻭُﻟَﺎﺓِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣَﻨْﻊُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ
"Kemudian aku melihat sebagian imam-imam kami dari kalangan mutakhirin (belakangan) telah menyebutkan apa yang sesuai dengan apa yang telah aku sebutkan. Ia
berkata : "Dan diantara bid'ah yang paling buruk adalah kaum muslimin menyepakati kaum nashrani dalam perayaan-perayaan mereka, yaitu dengan meniru-niru mereka dengan memakan makanan mereka, memberi hadiah kepada mereka, menerima hadiah dari mereka .
Dan orang yang paling memberi perhatian akan hal ini adalah orang-orang Mesir. Padahal Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, "Barang siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk dari mereka"

bahkan ulama telah ijma (sepakat) akan haramnya ucapan tahniah orang kafir.  telah disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya "Ahkaam Ahli Adz-Dzimmah", beliau berkata:
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺸﻌﺎﺋﺮ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺔ ﺑﻪ ﻓﺤﺮﺍﻡ ﺑﺎﻻﺗﻔﺎﻕ ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻭﺻﻮﻣﻬﻢ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﻋﻴﺪ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻭ ﺗﻬﻨﺄ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻓﻬﺬﺍ ﺇﻥ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﺋﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ ﻭﻫﻮ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺃﻥ ﻳﻬﻨﺌﻪ ﺑﺴﺠﻮﺩﻩ ﻟﻠﺼﻠﻴﺐ ﺑﻞ ﺫﻟﻚ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻘﺘﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺸﺮﺏ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻭﻗﺘﻞ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺍﺭﺗﻜﺎﺏ ﺍﻟﻔﺮﺝ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ
ﻭﻧﺤﻮﻩ . ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻤﻦ ﻻ ﻗﺪﺭ ﻟﻠﺪﻳﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﻗﺒﺢ ﻣﺎ ﻓﻌﻞ
"Adapun memberi selamat terhadap perayaan-perayaan kufur yang khusus maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan (para ulama) seperti seseorang (muslim)
memberi selamat kepada mereka (orang-orang kafir) atas perayaan-perayaan mereka. Maka ia berkata "Perayaan yang diberkahi atasmu…" atau "Selamat gembira dengan perayaan ini" atau yang semisalnya. Maka perbuatan seperti ini –kalau pengucapnya selamat dari kekufuran-maka perbuatan ini merupakan keharaman, dan kedudukannya seperti jika ia memberi ucapan selamat kepada orang yang sujud ke salib. Bahkan hal ini lebih parah dosanya di sisi Allah dan lebih di murkai dari pada jika ia mengucapkan selamat kepada orang yang minum khomr (bir) atau membunuh orang lain, atau melakukan zina dan yang semisalnya. Banyak orang yang tidak memiliki ilmu agama yang cukup terjerumus dalam hal ini, dan mereka tidak tahu akan buruknya perbuatan mereka."

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan mengatakan,
ﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﻛﻤﺎ ﺃﻧﻬﻢ ﻳﻬﻨﺌﻮﻧﻨﺎ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﻓﻨﺤﻦ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺭﺩ ﺍﻟﺠﻤﻴﻞ. ﻓﻨﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﺃﻋﻴﺎﺩﻧﺎ ﺣﻖ ﻭﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﺍﻟﺒﺪﻋﻴﺔ ﺑﺎﻃﻠﺔ ﻓﻼ ﻧﻘﺮﻫﻢ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻻ ﻧﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﻬﺎ
adapun yang berkata "sebagaimana mereka orang kafir mengucapkan selamat di hari raya kita (umat Muslim), maka kita pun mengucapkan selamat di hari raya mereka dalam rangka membalas kebaikan". maka kami (syaikh fauzan) katakan, hari raya kita itu haq (kebenaran), adapun hari raya mereka itu tidak diragukan lagi merupakan bid'ah yang batil, sehingga kita tidak setuju dengannya dan tidak boleh memberikan ucapan selamat.

pendapat yusuf al qordhowi atau lainnya dianggap sebagai khilaf yg tidak muktabar (dianggap/di akui).Alasannya: (seperti kata imam ibnul qayyim), ijma dari para ulama yg dulu telah tetap, jauh sebelum al qardhawi ada.

Minggu, 22 Desember 2013

Ajaran Islam vs Acara Peringatan Peringatan

Peringatan momen tertentu, hari tertentu, mengesankan sekedar mengingat, sekedar membalas timbal balik atas sesuatu atau seseorang, dan sekadar sekedar lainnya yang itu semua dilakukan atas anggapan baik.peringatan momen juga tidak bersifat terus menerus dan dilakukan sehari hari.

Sesuai namanya, peringatan biasanya dilakukan setahun sekali atau lebih, tidak berupa rutinitas dan kontinyu. Ia juga sering cepat dilupakan dan harus diingatkan.

Inilah perbedaan nya peringatan peringatan tersebut dengan islam sebagai cara bersikap dan beramal, sebagai ibadah sesuai petunjuk allah dan contoh rasulullah sholallahu alaihi wasallam. dan peringatan peringatan itu dasarnya adalah anggapan baik.

Dalam islam tidak dikenal peringatan peringatan seremonial, seperti saat ini hari ibu, atau lainnya hari maulid nabi, isro mikroj, peringatan peringatan tahunan yang hanya diijinkan hanya id fitri dan adha.

ﻋَﻦْ ﺃَﻧَسٍﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺪِﻡَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳْﻨَﺔَ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺎﻥِﻳَﻠْﻌَﺒُﻮْﻥَ ﻓِﻴْﻬِﻤَﺎ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍﻥِ ﺍﻟْﻴَﻮْﻣَﺎﻥِ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ: ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﻠْﻌَﺐُ ﻓِﻴْﻬِﻤَﺎ ﻓِﻲﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ. ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻗَﺪْ ﺃَﺑْﺪَﻟَﻜُﻢْ
ﺑِﻬِﻤَﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ، ﻳَﻮْﻡَ ﺍْﻷَﺿْﺤَﻰ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ

Dari Anas bin Malikia berkata: Rasulullah datang ke Madinah dalam keadaan orang-orang Madinah mempunyai 2 hari yg mereka bermain-main padanya. Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam berkata: “Apa dgn 2 hari itu?” Mereka menjawab “Kami bermain-main padanyawaktu kami masih jahiliyyah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “SesungguhnyaAllah telah menggantikannya utk kalian dgn yg lebihbaik dari keduanya yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” {Shahih HR. Abu Dawud no. 1004 dishahihkanoleh Asy-Syaikh Al-Albani}

Yang ada dalam islam, adalah keyakinan, tuntutan cara bersikap pada seseorang atau sesuatu, perbuatan dilakukan terus menerus dilandasi keikhlasan.

Berbakti kepada kedua orang tuamerupakan salah satu amal sholih yang mulia bahkan disebutkan berkali-kali dalamAl Quran tentang keutamaan berbakti pada orang tua. Alloh Ta’ala berfirman
ﻭَﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺸْﺮِﻛُﻮﺍ ﺑِﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎﻭَﺑِﺎﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ ﺇِﺣْﺴَﺎﻧًﺎ
“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (An Nisa: 36).

Sehingga berbuat baik pada orang tua, itu perintah allah dan rosul nya,  tidak hanya sesekali, tapi terus menerus, berkata pun tdk boleh keras dan kasar.
ﻭَﻗَﻀَﻰٰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻭَﺑِﺎﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِﺇِﺣْﺴَﺎﻧًﺎ ۚ ﺇِﻣَّﺎ ﻳَﺒْﻠُﻐَﻦَّ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮَ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺃَﻭْﻛِﻠَﺎﻫُﻤَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺃُﻑٍّ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨْﻬَﺮْﻫُﻤَﺎ ﻭَﻗُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎﻗَﻮْﻟًﺎ ﻛَﺮِﻳﻤًﺎ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jikasalah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalampemeliharaanmu, maka sekali-kalijanganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlahkepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana merekaberdua telah mendidik aku waktu
kecil.’” (Al Isro’: 23)

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam juga telah menyebutkan besarnya keutamaan berbakti kepadaorangtua. Bahkan lebih besar dari jihad di jalan Allah'azza wa jall. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari sahabat Abdullah ibnu Mas’ud,beliau berkata:
ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ n: ﺃَﻱُّ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ ﺃَﺣَﺐُّ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﻗْﺘِﻬَﺎ .ﻗَﺎﻝَ: ﺛُﻢَّ ﺃَﻱٌّ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﺛُﻢَّ ﺑِﺮُّ ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ. ﻗَﺎﻝَ: ﺛُﻢَّ ﺃَﻱٌّ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩُ ﻓِﻲﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ
Aku bertanya kepada Nabi, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Nabimenjawab, “Berbakti kepada orangtua.” Aku berkata,“Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wahai saudaraku, Rosulullohmenghubungkan kedurhakaan kepada kedua orang tua dengan berbuat syirikkepada Alloh. Dalam hadits Abi Bakrah, beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar ?” para sahabat menjawab, “Tentu.” Nabi bersabda,
“(Yaitu) berbuat syirik, duraka kepada kedua orang tua.” (HR. Al Bukhori)

Berkata Al-‘Aini, “Jika dikatakan bagaimana durhaka kepada orangtua berada di derajat yang sama dengan kesyirikan padahal kesyirikan merupakan kekafiran?,
jawabannya adalah hanyalah durhaka kepada
orangtua dimasukkan dalam barisan kesyirikan dalam rangka mengagungkan kedua orangtua dan sebagai penekanan dan pengerasan terhadap anak yang durhaka, atau dikatakan bahwa dosa besar yang paling besar yang berkaitan dengan hak Allah adalah kesyirikan dan dosa besar yang paling besar yang berkaitan dengan hak manusia adalah durhaka kepada orangtua”
ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺛﻼﺛﺔ ﻻ ﻳﻨﻈﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺍﻟﻌﺎﻕ ﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻪ ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﻤﺘﺮﺟﻠﺔ ﻭﺍﻟﺪﻳﻮﺙ ﻭﺛﻼﺛﺔ ﻻ ﻳﺪﺧﻠﻮﻥ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺍﻟﻌﺎﻕ ﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻪ ﻭﺍﻟﻤﺪﻣﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻭﺍﻟﻤﻨﺎﻥ ﺑﻤﺎ ﺃﻋﻄﻰ
Dari Ibnu Umar , ia berkata, “Rasulullah bersabda
((Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat
mereka pada hari kiamat yaitu orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, wanita yang meniru-niru pria dan Ad-Dayyuts (yaitu orang yang membiarkan kemungkaran di keluarganya), dan tiga golongan yang tidak akan masuk surga, orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, pecandu khomr, dan orang yang menyebut-nyebutkan pemberiannya (sehingga menyakiti orang yang diberi))”[ HR An-Nasai 5/80 no 2562 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 2/284]

Membuat menangis orang tua juga terhitung sebagaa perbuatan durhaka, tangisan mereka berarti terkoyaknya hati,oleh polah tingkah sang anak. Ibnu ‘Umar menegaskan: “Tangisan kedua orang tuatermasuk kedurhakaan yang besar.” (HR. Bukhari, Adabul Mufrod hlm 31. Lihat Silsilah Al Ahaadits Ash Shohihah karya Syeikh Al Albani, 2.898)

Juga meneladani rosul, tidak hanya diingatkan setahun sekali, tapi itu terus menerus setiap hari disertai hati penuh iman dan berharap ridho allah. tidak melakukan cara tertentu yang justru melecehkan nabi, ketika sesuatu ibadah yang tidak dicontohkan anda lakukan dan yakini, maka ini pelecehan pada nabi, anda sama saja menuduh nabi tidak sempurna ajarannya. padahal ajarannya telah sempurna dan allah telah menetapkan.

Firman Allah Azza wa Jalla :
ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَ ﺃَﺗﻤَﻤْﺖ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘﻰ ﻭَ ﺭَﺿِﻴﺖ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻻﺳﻠَﻢَ ﺩِﻳﻨﺎ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku,dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maa-idah: 3].

Ibnu Majisyun berkata : “Aku mendengar Imam malikberkata: “Barang siapa yang membuat bid’ah dalamislam dan melihatnya sebagai suatu kebaikan, maka Sesungguhnya dia telah menuduh bahwa NabiMuhammad rtelah berkhianat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman Dalam Al-qur’an, “pada hari ini telah aku sempurnakan bagimuagamamu.” Maka apa yang pada hari itu tidak termasuksebagai agama maka pada hari inipun bukan termasuk Agama.” ( Asy-syatibi dalam Al-I’tisam).

Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata:
ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺣَﺴَﻨَﺔً .
“Setiap bid’ah  adalah sesat, meskipun manusia menganggap baik.”

Semisal dengan itu, peringatan isro mikroj, tahun baru hijriyah / suronan, peringatan kematian, kelahiran, dan lainnya.

Sehingga cara beragama yang baik itu yang disyariatkan, penuh iman, sabar, istiqomah, bukan sekedar peringatan seremonial.