Selasa, 18 Agustus 2020

Asy'ariyah tidak menempuh jalan salaf

 Asy'ariyah tidak menempuh jalan salaf (sahabat, Tabi'in, tabi'ut tabi'in), malah menempuh jalan mu'tazilah (yang disesatkan ulama bahkan dikafirkan) 


bahkan ikut jalan nasrani, dengan takwil syairnya, naudzu billah


Islam ditinggalkan nabi shollallohu'alaihiwasallam malam seperti siang, islam masih suci murni, belum tercampur paham apapun, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

“Aku tinggalkan kalian dalam suatu keadaan terang-benderang, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.” (HR. Ahmad)


Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).


Andai Metode takwil jika benar, tentu nabi sampaikan, sebab nabi diberi wahyu yang tahu kejadian masa lalu atau masa depan, pesan nabi malah ikuti sunnahku dan 3 generasi setelah ku. 


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika haji wada,

وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ؟ قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ « اللَّهُمَّ اشْهَدِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Kalian akan ditanya tentangku, apakah yang akan kalian katakan? Jawab parahabat: kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau talah menyampaikan (risalah), telah menunaikan (amanah) dan telah menasehati. Maka ia berkata dengan mengangkat jari telunjuk kearah langit, lalu ia balikkan ke manusia: Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, sebanyak 3x” (HR. Muslim).


Setelah beliau berkhotbah, Allah Ta’ala menurunkan ayat:

اليَومَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).


Maksudnya andai metode takwil diajarkan nabi, padahal ia perkara besar dalam memahami sifat Allâh, tentu jika benar, nabi akan sampaikan. Namun sampai beliau wafat, tidak ada satupun ajaran takwil ayat sifat ini. 


Padshal perkara buang hajat sajalah nabi ajarkan, tentu jika perkara besar menyangkut sifat Allâh tentu nabi akan ajarkan 


Tanpa tempat tanpa arah bag 2

 :::: Tanpa tempat tanya arah bag 2 :::::


Aqidah Allah di atas langit meruoakan aqidah salaf yang turun temurun diwariskan oleh para ulama.


Nabi shollallohu'alaihiwasallam sendirian tatkala haji wada menunjuk tangan keatas sebagainya isyarat bahas Allâh diatas langit. 


Atsar umar bin khattab rodhiyallohu anhu 


عمر بن الخطاب رضي الله عنه عن إسماعيل عن قيس قال : لما قدم عمر رضي الله عنه الشام استقبله الناس وهو على بعيره فقالوا : يا أمير المؤمنين لو ركبت برذونا [ ص: 120 ] ليلقاك عظماء الناس ووجوههم فقال عمر رضي الله عنه : ألا أراكم هاهنا إنما الأمر من هاهنا وأشار بيده إلى السماء .

Umar bin Khottob berkata sambil duduk diatas untanya, ketauhilah aku melihat kalian disini, sesungguhnya suatu perkara itu dari sana (sambil mengisyaratkan tangan ke langit) 


Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)


Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi

“Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid  alaa Bisyr Al-Mariisi Al-‘Aniid Hal 25)


Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)


Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254

“Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:

Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”


ghullat Asya’iroh mengkafirkan siapa saja yang meyakini Allah tanpa tempat TANPA ARAH, Andai merekam tahunan bahwa para salaf sejak dahulu meyakini Allah diatas langit, tentu mereka ga sembarangan melempar tuduhan. 


Qoul Ibnu Abbas disalah gunakan

 Bismillah


Ada yang mau  membawakan qoul Ibnu Abbas untuk mendukung pemikiran Asy'ariyah nya.


itu bagi Ibnu Abbas karena beliau lebih paham agama timbang orang orang di zamannya.


Yang dimaksud dalam hadits itu dimaksud siapa? Mereka para pemberontak penguasa dengan berhujjah dalil, dan memahami dalil BUKAN pemahaman sahabat tapi pemahaman akal mereka SENDIRI. mereka itu khowarij. 


Sama seperti Asy'ariyah, Asy’ariyyah TIDAK memakai pemahaman sahabat. Andai Ibnu abbas hidup, tentu hadits hadits yang disampaikan ulama Asya’iroh akan dicuekin Ibnu Abbas karena beliau yang lebih paham hadits timbang Asya’iroh, yang ingkar pada sifat sifat Allâh. 


Pemahaman para sahabat mereka iman apa adanya wahyu yang dstang apalagi ayat terkait sifat Allâh, mereka hanya sami'na wa atho'na. Ga mentakwil sebab kufur pada ayat Qur'an. 


Lha ini Asya’iroh, sudah ingkar ayat, ga ikut pemahaman sahabat, malah memakai hujjah Ibnu Abbas melawan pihak yang menyeru dakwah salaf. 


Aneh dan lucu 


Memang Asya’iroh lebih paham dari sahabat?


Senyum


Rusak agama karena takwil

 

Rusak karena Takwil


 عقبة بن عامر الجهني قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : هلاك أمتي في الكتاب واللبن قالوا يا رسول الله ما الكتاب واللبن قال يتعلمون القرآن فيتأولونه على غير ما انزل الله عز و جل ويحبون اللبن فيدعون الجماعات والجمع ويبدون

dari ‘Uqbah bin ‘Aamir Al Juhaniy berkata, "Saya mendengar Rasulullahi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kehancuran umatku di karenakan Al Kitab dan susu. " mereka bertanya, "Wahai Rasulullaah ada apa dengan Al Kitab dan susu?" beliau menjawab, "Mereka mempelajari Al Qur'an lalu menta`wil-nya dengan sesuatu yang tidak di turunkan oleh Allaah 'azza wa jalla. Dan mereka memerah susu, lalu mereka meninggalkan shalat jama'ah dan jum'at, karena pergi ke desa(untuk memerah susu).”
(Musnad Ahmad 4/155 No. 17451, Musnad Abu Ya’la 3/285 No. 1746, Al Ma’rifah wat Taariikh Al Fasawiy 2/293).

Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata: Sanadnya Hasan.
Dan dihasankan juga oleh Syaikh Al Bani dalam As Silsilah Ash Shahiihah 6/277 No. 2778.

Dalam perkara istiwa Allah, telah ada ijma' dari kalangan para nabi dan rasul alaihi sholaatu wassalaam serta para sahabat ridwanullah 'alaihim ajma'in, bahwa Allah istiwa diatas Arsy, yang Arsy itu berada diatas langit.

Kita dapati di masyarakat ada keyakinan yang salah, tidak meyakini sifat istiwa allah dengan men takwil secara batil. Ini kesalahan besar yang harus luruskan.

Ijma' Para Nabi 'alaihimus sholatu was salam

Pertama: Nabi kita Muhammad shallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana riwayat Muslim [1218]

Ketika berkumpulnya manusia di Arafah pada khutbah haji wada', beliau bertanya: "Kalian semua akan ditanya mengenai diriku, lalu bagaimana nanti jawab kalian?”. Mereka menjawab “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan menunaikan tugas serta menasehati kami". Di saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jarinya kearah langit sambil menjawab, “Ya Alloh saksikanlah, Ya Alloh saksikanlah, Ya Alloh saksikanlah”

Kedua: Nabi Isa 'alaihis salam ketika meminta hidangan (al-maidah) dari langit

قال تعالى: {إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (112) قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ (113) قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآَخِرِنَا وَآَيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيرُ الرَّازِقِينَ (114) قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْفَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِين

112. (ingatlah), ketika Pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?". Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman".

113. mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati Kami dan supaya Kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada Kami, dan Kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu".

114. Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi Kami Yaitu orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah Kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling Utama".

115. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, Barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), Maka Sesungguhnya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".

Ketiga: Nabi Musa 'alaihis salam berkeyakinan bahwa Allah ada diatas langit, akan tetapi Fir'aun mengingkari hal tersebut. Hal ini sebagaimana Allah kisahkan dalam alqur'an:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يٰهٰمٰنُ ابْنِ لِى صَرْحًا لَّعَلِّىٓ أَبْلُغُ الْأَسْبٰبَ
أَسْبٰبَ السَّمٰوٰتِ فَأَطَّلِعَ إِلٰىٓ إِلٰهِ مُوسٰى وَإِنِّى لَأَظُنُّهُۥ كٰذِبًا  ۚ  وَكَذٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ  ۚ  وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِى تَبَابٍ

“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musadan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’un itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.” (QS. Ghafir/Al Mu’min: 36-37)

Ijma' Para Sahabat Radhiyallahu 'anhum

Pertama: Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu ketika beliau datang untuk melihat ‘Aisyah radiyallahu 'anha yang baru saja wafat. Ibnu Abbas berkata padanya,

كنت أحب نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يكن يحب إلا طيبا وأنزل الله براءتك من فوق سبع سموات

“Engkau adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah engkau dicintai melainkan kebaikan (yang ada padamu). Allah pun menurunkan perihal kesucianmu dari atas langityang tujuh.” [1]

Beliau juga berkata tentang firman Allah: 

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Kemudian akan aku datangi dari arah depan mereka dan dari belakangmereka, dari kanan dan dari kirimereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur (taat).

Iblis tidak mampu untuk mengatakan dari atas, karena iblis tahu bahwasanya Allah berada diatas mereka"[2]

Beliau juga berkata:

ينادي مناد بين يدي الساعة أتتكم الساعة - فيسمعه الأحياء والأموات - ثم ينزل الله إلى السماء الدنيا

“Ketika hari kiamat ada yang menyeru, “Apakah datang pada kalian hari kiamat?” Orang yang hidup dan mati pun mendengar hal tersebut, kemudian Allah pun turun ke langit dunia.” [3]

Beliau juga berkata:

إذا نزل الوحي سمعت الملائكة صوتا كصوت الحديد

“Jika wahyu turun, aku mendengar malaikat bersuara seperti suara besi.”[4]

yang namanya turun adalah dari atas ke bawah sehingga ini menunjukkan Sang Pemberi Wahyu (Allah ta'ala) ada diatas.

Kedua: Ummul Mukminin Zainab Bintu Jahsi radhiyallahu 'anha, diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa dahulu Zainab beliau berbangga atas istri-istri Nabi yang lain dengan mengatakan “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah yang berada di atas langit ketujuh.”[5]

Ketiga: Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu berkata: "Al-Arsy berada diatas air dan Allah berada diatas arsy, dan tidak samar atas-Nya sesuatu pun dari amalan-amalan kalian"[6]

Keempat: Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Demi Allah sungguh aku sangat takut, seandainya aku senang dengan terbunuhnya (utsman), aku akan membunuhnya, akan tetapi Allah yang berada diatas arsy-Nya tahu bahwa aku tidak senang dengan terbunuhnya (utsman)" [7]

Kelima: Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma membenarkan seorang pengembala yang meyakini Rabbnya di atas langit.

Dalam hadits Zaid bin Aslam, dia berkata: “(Suatu saat) Ibnu ‘Umar melewati seorang pengembala. Lalu beliau berkata, “Adakah hewan yang bisa disembelih?” Pengembala tadi mengatakan, “Pemiliknya tidak ada di sini.” Ibnu Umar mengatakan, “Katakan saja pada pemiliknya bahwa ada serigala yang telah memakannya.” Kemudian pengembala tersebut menghadapkan kepalanya ke langit. Lantas mengajukan pertanyaan pada Ibnu Umar, ”Lalu di manakah Allah?”Ibnu ‘Umar malah mengatakan, “Demi Allah, seharusnya aku yang berhak menanyakan padamu ‘Di mana Allah?’.

Kemudian setelah Ibnu Umar melihat keimanan pengembala ini, dia lantas membelinya, juga dengan hewan gembalaannya (dari Tuannya). Kemudian Ibnu Umar membebaskan pengembala tadi dan memberikan hewan gembalaan tadi pada pengembara tersebut.[8]

Keenam: Humaid bin Tsaur Al-Hilaly. Diriwayatkan dari Az-Zubair bin Bakkar dari ayahnya bahwasanya Humaid bin Tsaur diutus ke beberapa orang dari kalangan Bani Umayyah, maka dikatakan kepadanya: " Apa yang membuatmu datang kesini?" Beliau menjawab: "Allah yang berada diatas arsy-Nya yang membuatku datang kepadamu".[9]

Catatan Kaki:
_________________________________________________________________________________

[1] Diriwayatkan oleh Ad Darimy dalam Ar-Rod 'Ala Al-Jahmiyah, dengan sanad yang hasan, lihat juga Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 335

[2] Diriwayatkan oleh Al-Lalikaiy dalam syarah usul as sunnah dengan sanad yang hasan

[3] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 296. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 94, hal. 126 bahwa sanad riwayat ini shahih sesuai syarat Muslim

[4] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 295. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 93, hal. 126 bahwa periwayat hadits ini tsiqoh (terpercaya)

[5] HR. Bukhori no. 7420, lihat juga Al ‘Uluw, hal. 186 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202.

[6] Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Asma' wa Shifat dengan sanad yang hasan

[7] Dikeluarkan oleh Ad Darimy dalam Ar-Rod 'Ala Al-Jahmiyah, dengan sanad yang shohih 

[8] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 311. Syaikh Al Albani dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 95, hal. 127 mengatakan bahwa sanad riwayat ini jayyid

[9] Tarikh Al-Islami Hawadits wa Wafiyat 60-81 H hal.111


Ciri Jahmiyah yang dikafir sesatkan ulama

 Ciri Jahmiyah yang dikafir- sesatkan ulama 


1 Suka mengolok olok Allâh di atas arsy diatas langit


قال الإمام عبدالرحمن بن مهدي  ت 198 هـ  : أن الجهمية أرادوا أن ينفوا أن يكون الله كلم موسى , وأن يكون على العرش , أرى أن يستتابوا فإن تابوا وإلا ضربت أعناقهم . أخرجه الذهبي في العلو وقال نقله غير واحد بإسناد صحيح.

Berkata Imam Abdurrahman bin mahdi, sesungguhnya Jahmiyah ingin menafikan adanya Allah berkata dengan Musa, juga adanya Allah di arsy, Saya melihat bahwa jika mereka bertobat (maka diampuni dengan taubatnya), jika tidak, kepala mereka akan ditebas. 


الامام عاصم بن علي – شيخ الإمام البخاري – ت ( 221 هـ ) . قال رحمه الله : ناظرت جهماً فتبين من كلامه أنه لا يؤمن أن في السماء رباً . كتاب العلو

Imam ashim bin Ali rohimahullah (guru al Bukhori) berkata saya melihat Jahmiyah dengan jelas lewat perkataannya bahwa ia tidak beriman Allâh yang di atas langit 


الامام القعنبي  ت 221 هـ  . قال بنان بن أحمد كنا عند القعنبي رحمه الله فسمع رجلاً من الجهمية يقول : ( الرحمن على العرش استوى ) فقال القعنبي من لا يوقن أن الرحمن على العرش استوى كما يقر في قلوب العامة فهو جهمي . كتاب العلو للذهبي

Imam Al qo'nabi berkata 

Banan bin Ahmad disisi al qo'nabi rohimahullah seperti mendengar orang dari kalangan Jahmiyah, lalu berkata : (Allah arrohman istiwa di arsy) maka berkata Al qo'nabi siapa saja yang TIDAK meyakini bahwa Allâh arrohman istiwa di arsy seperti yang diyakini kebanyakan orang, maka dia pengikut Jahmiyah



2 Menuduh sunni dengan tuduhan mujassimah musyabbihah


Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahullah berkata:


وَعَلامَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ الْوَقِيعَةُ فِي أَهْلِ الأَثَرِ، وَعَلامَةُ الزَّنَادِقَةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ السُّنَّةِ حَشْوِيَّةً يُرِيدُونَ إِبْطَالَ الآثَارِ. وَعَلامَةُ الْجَهْمِيَّةِ تَسْمِيَتُهُمْ أَهْلَ السُّنَّةِ مُشَبِّهَةً......


“Tanda Ahlul-Bida’ adalah mencela Ahlul-Atsar. Tanda orang-orang Zanaadiqah adalah penamaan mereka terhadap Ahlus-Sunnah sebagai Hasyawiyyah karena mereka ingin membatalkan atsar-atsar. Tanda orang-orang Jahmiyyah adalah penamaan mereka terhadap Ahlus-Sunnah dengan Musyabbihah.....” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 321]


3 Pembahasan seputar Allah tidak ada di langit


Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, 

الجهمية فقال هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء

“Jahmiyah lebih jelek dari Yahudi dan Nashrani. Telah diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun.”


الامام جرير الضبي محدث الري  ت 188 هـ  قال جرير بن عبدالحميد رحمه الله : كلام الجهمية أوله عسل وآخره سم وإنما يحاولون أن يقولوا ليس في السماء إله . أخرجه الذهبي في العلو بسند جيد  .

Berkata Imam Jarir Adh Dhobi, berkata Jarir bin Abdul hamid, pendapat Jahmiyah awalnya seperti madu akhirnya seperti racun, ia hanya berputar putar (pembahasan) tuhan tidak ada di langit, 



4 Meyakini Allah di bumi, dimana mana, berdalil ayat ma'iyah


أخرجه الذهبي في السير وإسناده صحيح  .

قلت : كان الجهمية الاوائل يقولون ان الله في كل مكان - تعالى الله عن ذلك علوّا كبيرا - و يستدلون بآيات المعية !! فلما سُئل الامام الثوري اجاب بأن المعية هنا بالعلم , و الامام الثوري يقر بأن الله فوق عرشه قطعا كما نقل ذلك الامام السجزي حيث قال : ( وأئمتنا كالثوري ومالك وابن عيينة وحماد بن زيد والفضيل وأحمد وإسحاق متفقون على أن الله فوق العرش بذاته وأن علمه بكل مكان ) الابانة للسجزي  


Dikeluarkan Adz dzahabi dalam As Siyar dengan sanad shahih beliau berkata : Jahmiyah awal mereka mengatakan sesungguhnya Allah dimana mana, berdalil dengan ayat ma'iyah !! ((ayat tentang Allah bersama mu dimana saja berada)) 


Imam Sufyan Ats tsauri ketika ditanya perkara ini menjawab ayat ma'iyah itu disisi kami (murid para tabi'in) artinya Ilmu-Nya, 


beliau juga sepakat bahwa Allah diatas arsy Nya, sebagaimana dinukil demikian oleh Imam As Sajzi yang berkata (para imam kami seperti (Sufyan) Ats Tsauri, Malik (bin anas), (Sufyan) Ibnu Uyainah, Hamad bin Zaid, Fudhail (bin Iyyadh), Ahmad (bin hambal), ishaq (bin rahawaih) sepakat bahwa zat Allah diatas arsy sedangkan ilmu Nya dimana mana 

Asya’iroh menempuh jalan yahudi

Asya’iroh menempuh jalan yahudi


Ngototnya Asya’iroh mentakwil sifat Allâh istawa استوي menjadi istaula استولى, mengingatkan kisah kaum yahudi yang juga Ngotot dalam keberanian mereka merubah ayat ayat Allâh.


Kita ketahui istaula استولى ini berasal dari pemahaman mu'tazilah yang dahulu disesatkan oleh ulama (bahkan oleh Asya’iroh sendiri), dan mu'tazilah mengambil dari nasrani. 


Kaum yahudi Ngotot dalam merubah ayat Allâh dan mengganti sesuai keinginan hawa nafsunya. Allah ta'ala berfirman 


وقولوا حطة (البقرة ٥٨)


Kaum yahudi lantas menggantinya dengan


وقولوا حنطة


Jika istawa diubah istaula dengan menambah huruf ل, maka yahudi حطة menambah huruf ن menjadi حنطة


Lalu Allâh ta'ala menurunkan firman Nya


فبدل الذين ظلموا قولا غير الذي قيل لهم (البقرة ٥٩)


Penulis lantas teringat ramalan nabi shollallohu'alaihiwasallam bahwa kelak umatnya akan pelan pelan mengikuti yahudi nasrani.


Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).


Hadanallah waiyyaakum 

Sabtu, 15 Agustus 2020

Tanpa tempat tanpa arah bag 1

 :::: Tanpa tempat tanya arah :::::


Kata tempat menurut ahli filsafat ada beberapa makna

سبت الباطن ال هاوي المماسم بسبح الظاهر المهوي

1 permukaan dalam benda yang disentuh, yang bersentuhan dengan benda luaran yang disentuhnya, maka ini makna yang salah. Allah terpisah dari makhluk dan tidak butuh makhluk 


المكان الذي يتمكان جسم الثاني

2 jism yang bertempat di jism yang lain, maka ini makna yang salah.

Allah tidak dimana mana jism 


المكان الذي كان علي شيء 

3 makan (tempat) berarti sesuatu yang berada diatas sesuatu yang lain, ini juga makna yang salah. 


Diatas Allâh tidak ada sesuatu. 

Walaupun tidak menetap tetap salah sebab Allâh ada tanpa tempat, Allâh terpisah dengan makhluknya. 


جسم المكان العدمي 

4 sesuatu tak ada yang lain selain Allâh, maka ini makna yang benar


Jlimet bukan, itulah ilmu kalam alias filsafat, bisa dibayangkan jika masyarakat yang paham definisi definisi seperti ini, misal arab badui, tentu mereka enggan beriman sebab terasa sulit.


Untungnya islam agama yang mudah, nabi shollallohu'alaihiwasallam dahulu berdakwah di tengah masyarakat badui dengan bahasa yang mudah, bahasa apa yang ada, sehingga secara hakiki dimaknai apa adanya. Tentu jika bermaksud lain, nabi akan terangkan.


Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ » قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ


“Hubungan intim antara kalian (suami istri) adalah sedekah”. Para sahabat lantas ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu malah mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada wanita yang haram, kalian mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika kalian bersetubuh dengan wanita yang halal, kalian akan mendapatkan pahala” (HR. Muslim no. 1006).


Itulah kenapa salaf dahulu banyak yang mengecam ilmu kalam aka filsafat ini. 


Ilmu filsafat diambil dari para tokoh Yunani seperti Aristoteles dan yang lainnya, yang notabene mereka adalah orang-orang yang tidak beragama. Mereka tidak dibimbing oleh wahyu. Jika pembicaraan para tokoh Yunani tersebut berkaitan dengan fisika dan kimia (materi yang ditangkap oleh panca indra) maka permasalahannya mudah. Akan tetapi yang menjadi permasalahan besar tatkala mereka membicarakan tentang ilmu ghoib apalagi yang berkaitan dengan Tuhan


Adz-Dzahabi rahimahullah berkata


قل من أمعن النظر في علم الكلام إلا وأداه اجتهاده إلى القول بما يخالف محض السنة، ولهذا ذم علماء السلف النظر في علم الاوائل، فإن علم الكلام مولد من علم الحكماء الدهرية، فمن رام الجمع بين علم الانبياء عليهم السلام وبين علم الفلاسفة بذكائه لابد وأن يخالف هؤلاء وهؤلاء


“Hampir tidak ada orang-orang yang memperdalam ilmu filsafat kecuali ijtihadnya akan mengantarkannya kepada pendapat yang menyelisihi kemurnian sunnah. Karenanya para ulama salaf mencela mempelajari ilmu orang-orang kuno (seperti orang-orang Yunani-pen) karena ilmu filsafat lahir dari para filosof  yang berpemikiran dahriyah (atheis). Barang siapa yang dengan kecerdasannya berkeinginan untuk mengkompromikan antara ilmu para Nabi dengan ilmu para filosof, maka pasti ia akan menyelishi para Nabi dan juga menyelisihi para filosof” (Mizaanul I’tidaal 3/144)


Ibnu Abdil Barr berkata :


أجمع أهل الفقه والآثار من جميع الأمصار أن أهل الكلام أهل بدع وزيغ، ولا يعدون عند الجميع في جميع الأمصار في طبقات العلماء، وإنما العلماء أهل الأثر والتفقه فيه


“Telah ijmak para ahli fikih dan hadits dari seluruh negeri bahwasanya ahlul kalam adalah ahlu bid’ah dan ahlu kesesatan, dan mereka seluruhnya tidak dianggap dalam jejeran para ulama. Para ulama hanyalah para ahli hadits dan fikih” (Jaami’ Bayaan al-‘Ilmi wa Fadlihi 2/195)


Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :


لاَ يُفْلِحُ صَاحِبُ كَلاَمٍ أَبَدًا عُلَمَاءُ الْكَلاَمِ زَنَادِقَةُ


“Pemilik ilmu filsafat tidak akan beruntung selamanya. Para ulama filsafat adalah para zindiq” (Talbiis Ibliis 1/75).


Al-Imam Al-Baihaqi dalam Manaqibnya membawakan sebuah bab :


باب : ما جاء عن الشافعي رحمه الله في مجانبة أهل الأهواء وبغضه إياهم وذمه كلامهم وإزرائه بهم ودقه عليهم ومناظرته إياهم


“Bab tentang hal-hal yang diriwayatkan dari Asy-Syafi’i rahimahullah tentang sikap beliau dalam menjauhi ahlul ahwaa’ dan kebencian beliau kepada mereka, celaan beliau terhadap perkataan mereka, perendahan/penghinaan beliau kepada mereka, kerasnya beliau terhadap mereka, dan perdebatan beliau dengan mereka” (Manaaqib Asy-Syaafi’i li Al-Baihaqi 1/452)


Al-Imam Al-Baihaqi membawakan banyak riwayat yang menunjukan sikap keras Al-Asy-Syafi’i terhadap bid’ah dan pelakunya, diantaranya :


Ar-Robii’ berkata, “Aku melihat Asy-Syafi’i turun dari tangga sementara sebagian orang di majelis sedang berbicara tentang sedikit ilmu filsafat, maka Asy-Syafi’i pun berteriak seraya berkata : “Hendaknya mereka berdekatan dengan kita dengan kebaikan atau hendaknya mereka pergi meninggalkan kita” (Manaaqib Asy-Syaafi’i 1/459)


“Hukumanku bagi para ahli filsafat agar mereka dipukul dengan pelepah kurma lalu di diangkut di atas unta lalu di arak (dikelilingkan) di kampung-kampung dan kabilah-kabilah, lalu diserukan atas mereka : “Inilah balasan orang yang meninggalkan al-Qur’an dan Hadits lalu menuju ilmu filsafat” (Manaaqib Asy-Syaafi’i 1/462)


Al-Imam Asy-Syaafi’i juga berkata :


“Tidak ada sesuatu yang lebih aku benci daripada ilmu filsafat dan ahli filsafat” (Taariikh Al-Islaam li Adz-Dzahabi 14/332)