Sabtu, 12 Desember 2020

Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 5

 Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 5


Syubhat Asya'iroh, katanya Ibnu Abbas mentakwil sifat 2 mata dengan pengawasan 


Jawabannya adalah:

 Pertama: Bahwa riwayat ini tidak terbukti dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu, karenanya Al-Baghawi menyebutkan tanpa sanad. 


Dan yang shahih bahwa Ibnu Abbas berkata : 

(واصنع الفلك بأعيننا) هود37: بعين الله .

(Dan buatlah bahtera dengan pengawasan mata kami) QS Hud 37: "Dengan mata Allah" [HR. Ibn Abi Hatim (6/2026), Ibn Jarir thobary (12/34) dan Al-Bayhaqi dalam asma wassifat (hlm. 396)].


Dan Atho' berkata: dari Ibn Abbas dalam ucapannya, Allah ta'ala berfirman 

(تجري بأعيننا) القمر14، قال: أشار بيده إلى عينيه .

 (Itu berjalan dengan mata kita) QS Qomar 14, 

dia berkata: 'Dia menunjuk dengan tangan ke matanya.'' [HR Al-Laliqoi (3/411)]


Ini adalah pernyataan yang jelas dari beliau dalam penetapan sifat 2 mata Allah ta'ala.


Hal ini juga makruf diketahui dari para salaf, dibuktikan pada dari riwayat Abu Imran al-Juni, Qatadah, Mutrif, Khalid bin Ma'dan, Abu Nuhayk, dan lainnya.


Kedua: Bahwa Atsar ini - dengan asumsi bahwa itu adalah itsbat penetapan - bukan takwil apapun, melainkan dari التفسير باللازم penjelasan yang diperlukan, karena diketahui bahwa Allah ta'ala maha melihat dan memperhatikan apa yang dibuat Nuh, alaihissalam, dan apa yang kaumnya lakukan dengan melawannya, jadi dia berkata kepadanya kabar gembira bahwa : Kamu (nuh) berada di bawah pengawasan kami Dan, dalam perlindungan kami, jangan takut, dan ini bukan dari takwil 2 mata, atau dari perubahan kata dari dzahirnya.


Namun tafsir yang mereka klaim benar jika tidak ditetapkan oleh Allah ta'ala sendiri. 


Diketahui oleh setiap orang berakal bahwa Nuh, alaihissalam, tidak di mata Allah ta'ala, karena Allah bukanlah tempat makhluk, Maha Kuasa Allah dari hal itu, tetapi yang dimaksud adalah perlindungan dan pengawasan.

Bahkan itsbat yang lazim adalah cabang dari itsbat yang dilazimkan, sebagaimana seorang yang berkata dalam Firman Allah ta’ala :

(إنني معكما أسمع وأرى) طه46

 (Aku mendengar dan melihat bersamamu) QS Thaha 46, artinya adalah Kamu dalam perlindungan dan perawatanku, itu akan benar, dan ini bukan takwil dari ar-ru'yah dan assama, melainkan itu adalah ketetapan bagi keduanya untuk menetapkan bahwa mereka perlu (tafsir lazim). 


Ad-Darimi dalam Bantahannya kepada Al-Marisy: Adapun tafsir Anda atas perkataan Ibnu Abbas, firman Allah : 

(فإنك بأعيننا) الطور 48، 

(Engkau ada di mata kami) QS Al-Tur 48, 

Jika shahih dari Ibnu Abbas maknanya : dalam pemeliharaan dan penjagaan kami, 

Jika shahih dari Ibnu Abbas maka maknanya adalah apa yang kami klaim, bukan apa yang Anda klaim.  


Dia berkata: menjaga dan mengawasi dengan mata kami, karena tidak diperbolehkan dalam kata-kata orang Arab untuk mensifati siapa pun dengan الكلاءة, untuk maksud النطر terkadang seorang diawasi karena tidak memiliki penglihatan, tapi tetap mempunyai mata. Maka inilah kata عين الله Maka pahamilah. [Rodd ala Al-Marisi (2/831)].


Abu al-Hasan al-Ash'ari menukil dalam maqolat islamiyyin , dan al-Ibana, ijma ahlusunnah untuk menetapkan 2 mata Allah Ta’ala, 


5 - وقال أهل السنة وأصحاب الحديث: ليس بجسم ولا يشبه الأشياء وأنه على العرش كما قال -عز وجل-: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه: 5] ولا نقدم بين يدي الله في القول بل نقول استوى بلا كيف وأنه نور كما قال تعالى: {اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ} [النور: 35] وأن له وجهاً كما قال الله: {وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ} [الرحمن: 27] وأن له يدين كما قال: {خَلَقْتُ بِيَدَيَّ} [ص: 75] وأن له عينين كما قال: {تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا} [القمر: 14] وأنه يجيء يوم القيامة هو وملائكته كما قال: {وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفّاً صَفّاً} [الفجر: 22] وأنه ينزل إلى السماء الدنيا كما جاء في الحديث1 ولم يقولوا شيئاً إلا ما وجدوه في الكتاب أو جاءت به الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم.


5 Ahlusunnah dan ashabul hadits mereka berkata : bukanlah menyerupakan dengan tubuh (makhluk) dan tidak menyerupakan Dia dengan apapun, dan Dia diatas Arsy sebagaimana Firman Allah sendiri {Ar-Rahman istiwa diatas arsy} [Toha 5]

Kamis tidak ingin mendahului Allah dalam perkataan, bahkan kami katakan istiwa Allah tidak diketahui, bahwa Allah itu cahaya sebagaimana firman {Allah cahaya langit dan bumi}[An-Nur 35]

dan Dia memiliki wajah sebagaiman firman {Dan tetap kekal wajah tuhanmu} [Ar Rohman 27]

Dan Dia memiliki 2 tangan sebagaimana firman {Kuciptakan dengan kedua tanganku} [Shof 75]

Dan Dia memiliki 2 mata sebagaimana firman {yang berlayar dengan pengawasan mata kami} [Qomar 14]

Dan Dia datang bersama malaikat Nya pada hari kiamat sebagaimana firman {Dan Tuhanmu datang sambil malaikat berbaris} [Fajri 22]

Dan Dia turun di sepertiga malam sebagaimana dalam hadits, dan tidak berkata apapun kecuali bersandar pada Qur'an dan apa yang datang riwayat dari rosul shollallohu'alaihiwasallam.


(Maqalat Islamiyin, Abul Hasan Al-Asy’ari, bab pembahasan tempat) 

Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 4

 Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 4


Syubhat Asya'iroh, katanya Ibnu Abbas mentakwil sifat datang مجيء dengan perintah dan keputusan. 


Jawaban


Klaim takwil Ibn Abbas rodhiyallohu anhu tentang kedatangan Allah Yang Maha Kuasa. Mereka menduga bahwa Ibn Abbas menafsirkan kedatangan Allah ta'ala dengan menyebutkan apa yang disebutkan Al-Nasafi dalam tafsirnya ketika Allah ta'ala berfirman : 

(وجاء ربك والملك) الفجر 22، ما نصه: (وعن ابن عباس: أمره وقضاؤه) اهـ

(Dan Tuhanmu dan rajamu datang) QS Al-Fajr 22, 


Kata Ibn Abbas : (Perintahnya dan keputusannya) selesai .  

Hal yang sama kami kutip dari Al-Hassan. 


Riwayat Ini tidak memiliki asal atau sanad, baik dari Ibn Abbas atau dari Al-Hassan Al-Basri, juga tidak disebutkan oleh salah satu penyusun dari ulama ahli riwayat. 


Sanad yang tidak asal usulnya jelas tidak bisa dijadikan dalil berhujjah apalagi dalam beraqidah. 


Bacaan lainnya 


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_45.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_12.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_15.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_53.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/11/tersingkirnya-peran-ulama-syafiiyah.html



Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 3

 

Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 3

Syubhat Asy'iroh, katanya Ibnu Abbas mentakwil lafadz 'wajah' dlm firman Alloh :
*ويبقى وجه ربك ذو الجلا و الاكرام*

Beliau berkata : "Wajah adlh pengibaratan dr (dzat) Alloh".

(Al Qurtuby 17/165)

اول ابن عباس رضى الله عنه للفظ الوجه فى قوله تعالى (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والاكرام ) قال رضى الله عنه : " الوجه عبارة عنه"

القرطبى ١٧ /١٦٥)

Jawaban.

Lagi lagi ini adalah syubhat jadul yang dipakai Bisy Al Marisi gembong Mutazilah Jahmiyah untuk sesuai hawa nafsunya membolehkan mentakwil sifat Allâh ta'ala.

Bahwa apa yang disebutkan Al-Qurtubi tidak ada asalnya dari Ibnu Abbas, rodhiyallohu anhu.

Riwayat yang kuat Ibnu Abbas,  menetapkan sifat wajah Allah ta'ala, karenanya Ibnu Abbas  berkata dalam menafsirkan firman Allah yang lain :
(للذين أحسنوا الحسنى وزيادة) يونس26: (الزيادة: النظر إلى وجه الله).
Artinya (Bagi orang orang yang berbuat kebaikan akan mendapat lebih banyak lagi) QS Yunus 26:
(tafsir Ibnu Abbas azziyadah artinya menatap wajah Allah)

[Riwayat Al-Lalikai (3/459) dan Al-Bayhaqi dalam asma wassifat (hal. 133)].

Ibnu Abbas juga berkata dalam dalam menafsirkan Firman Allah ta’ala :
(إلى ربها ناظرة) القيامة23: (نظرت إلى خالقها)
Artinya (Kepada Tuhannya melihat) QS al qiyamah 23:
(Tafsirnya : memandang pada Penciptanya.)

[Riwayat Al-Ajuri dalam Syariah (hal. 270), dan Al-Suyuti menghubungkan dalam riwayat Al-Durr Al-Manshoor dengan Ibn Al-Mundhir].

Kita ketahui riwayat yang kuat dalam perkara sifat Allah adalah menetapkannya, dan ini ijma kaum muslimin sejak sahabat rodhiyallohu anhum termasuk Ibnu Abbas didalamnya.

Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)
قال عالم عصره إمام أهل الشام الأوزاعي (ت ١٥٧) : كنا والتابعون متوافرون نقول أن الله تعالى فوق عرشه ونؤمن بما وردت به السُّنة من صفاته

Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu –dan para tabi’in masih banyak-kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsyNya, dan kita beriman dengan sifat-sifatNya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

Ishaq bin Rahuwaih (wafat 238H) berkata :

قال الله تعالى {الرحمن على العرش استوى} إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Ar Rahman ber-istiwa di atas Arsy’, ini adalah IJMA para ulama yaitu bahwa Allah ber-istiwa di atas Arsy, dan Allah mengetahui segala sesuatu hingga di bawah bumi yang ke tujuh” (Al ‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar, no. 179).

Dinukil dari Ibnu Abdil Barr rohimahullah bahwa sahabat dan tabi'in telah ijma bahwa sesungguhnya mereka sepakat dalam maknanya yaitu tatkala membahas ayat ma'iyah

قوله تعالى : (وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ) الحديد/ 4 ، وقوله : (مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا) المجادلة/ 7 .

قالوا في معناها : (هو على العرش ، وعلمه في كل مكان) . " التمهيد " (7/138)

Para sahabat berkata :
Dialah Allah yang diatas arsy dan ilmu Nya ada di setiap tempat.

Ibnu Abdil Barr juga berkata :

أجمع أهل الفقه والآثار من جميع الأمصار أن أهل الكلام أهل بدع وزيغ، ولا يعدون عند الجميع في جميع الأمصار في طبقات العلماء، وإنما العلماء أهل الأثر والتفقه فيه

“Telah ijmak para ahli fikih dan hadits dari seluruh negeri bahwasanya ahlul kalam adalah ahlu bid’ah dan ahlu kesesatan, dan mereka seluruhnya tidak dianggap dalam jejeran para ulama. Para ulama hanyalah para ahli hadits dan fikih” (Jaami’ Bayaan al-‘Ilmi wa Fadlihi 2/195)

Sedang ilmu kalam inilah sumber pijakan kaum mu'tazilah, didalamnya Jahmiyah, kullabiyah, Asy'ariyah.



Bacaan lainnya 


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_45.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_12.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_15.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_53.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/11/tersingkirnya-peran-ulama-syafiiyah.html



Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 2

 Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 2


Syubhat Asy'iroh, katanya Ibnu Abbas mentakwil lafadz "بأيد " (beberapa)  tangan dlm firman Alloh :


*والسماء بنيناها بأيد*

dgn makna : " *Dengan kekuatan*


اول ابن عباس  قوله تعالى : *والسماء بنيناها بأيد* :   بايد اى بقوة.


(الاسماء و الصفات. ٢٥٣ .الكردى ، تفسير القرطبي (52/17)


Jawaban. 


Lagi lagi ini adalah syubhat jadul yang dipakai Bisy Al Marisi gembong Mutazilah Jahmiyah untuk sesuai hawa nafsunya membolehkan mentakwil sifat Allâh ta'ala.


Nampaknya Bisyr Al Marisy Marisi yang dahulu dikafirkan para ulama sekarang sebagai idola kaum Asya’iroh dalam berdalil, Subhanallah. Semoga saya salah, juga karena ketidaktahuan mereka.


Juga ini syubhat Abul Hasan al-Asy’ari tatkala masih mu'tazilah sehingga beliau ruju ke manhaj salaf lalu membantah sendiri syubhat lama, kita bahas selanjutnya. 


Istilah "الأيد beberapa tangan" di sini bukanlah bentuk jamak dari يد tangan, melainkan asalnya adalah أيد = "bantuan."


Ibn Manzur berkata dalam Al-Lisan bab أيد = "Bantuan" :

أيد: الأَيْدُ، والآدُ ، 

Maka jamaknya = kekuatan, berkata Ali rodhiyallohu anhu dalam khutbahnya : 

وأَمسكها من أَن تـمور بأَيدِه ، أَي بقوّته، وقوله عز وجل: (واذكر عبدنا داود ذا الأَيْد) ص/17، أَي: ذا القوة.... 

dan Dia menahannya agar tidak melewati dengan bantuannya, yaitu, dengan kekuatannya, 


Allah Ta’ala juga berfirman 

(واذكر عبدنا داود ذا الأَيْد) 

 (Dan ingatlah hamba kami David dengan kekuatannya)  QS shod 17, maknanya : yang mempunyai kekuatan. Dan memberi bantuan dalam hal ini. 


Abu Zaid berkata : آد يَئِيد أَيْداً 

Jika semakin kuat 

والتأْيـيد: مصدر أَيَّدته ، أَي قوّيته،

Artinya kekuatan. Seperti firman Allah ta’ala : 

(إِذ أَيدتك بروح القدس) المائدة110، وقرىء: (إِذ آيَدْتُك) أَي قوّيتك) اهـ. [لسان العرب / مادة "أيد"].

(Tatkala membantumu dengan Ruhul Qudus) QS al maidah 110, dan dibaca (إِذ آيَدْتُك) artinya dengan bantuanmu [Lisan al-Arab / artikel "أيد"].


Dan pemilik Mukhtar As-Sahhah berkata dalam bab “Tangan”: (Allah berfirman: (Dan kami telah membangun langit dengan kekuatan kami) QS Al-Dharriyat 47, aku berkata: firman Allah (بِأَيْد), 

artinya: وهو مصدر آد يئيد ، إذا قوي،

dan itu bukan jamak dari sebuah tangan yang akan disebutkan di sini, tapi tempat pembahasannya di bab huruf د dal. 


Al-Azhari juga telah menetapkan ayat ini الأيد, yang berarti المصدر, dan saya tidak tahu satupun dari para imam ahli bahasa atau tafsir yang mengikuti apa yang dikatakan Al-Jawhari, bahwa itu adalah jamak dari tangan.  [Mukhtar As-Sahah / bab tentang "tanganku يدي"].


Imam mereka, Abu al-Hasan al-Ash'ari, menjawab pendalilan  ini ketika dia berkata dalam "Al-Ibanah" dalam membantah Jahmiyya dan Mu'tazilah yang memalingkan makna sifat tangan Allah ta'ala : 


(soal : orang sakit yang bernyakit terhadap firman Allah ta’ala 

(والسماء بنيناها بأيد) الذاريات47، قالوا: الأيد القوة،

(Dan kami telah membangun langit dengan al ayd) QS Al-Dharriyat 47, mereka berkata: ايد adalah kekuatan,


jadi jawabannya harus: (dengan tanganku) hal 75, artinya dengan kekuatan kami ?


Jawaban : Penafsiran ini rusak dalam beberapa sisi :


Pertama : kata "أيد" bukanlah jamak dari tangan;  Karena bentuk jamak “يد tangan” adalah أيدي tangan, 


dan bentuk jamak dari “أيد” adalah أيادي

yang bermakna nikmat.


 Sebaliknya, firman Allah ta’ala : 

(لما خلقت بيدي)

(Ketika itu diciptakan dengan tanganku sendiri), hal. 75, lalu membatalkan makna : (بيدي) hal. 75, harusnya makna ayat (Kami menciptakan dengan tangan)) selesai. [Al-Ibanah Al-Ashari (hlm. 108)].


Dan Ibn Khuzaymah berkata dalam Tauhid: (Dan Jahmiyyah menduga Arti firman Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, artinya dengan kekuatan-Nya, 

jadi dia duga bahwa tangan adalah kekuatan, dan ini juga dari pengalihan makna (takwil) KARENA KEBODOHAN MEREKA DALAM BAHASA ARAB, 


dan kekuatan disebut الأيد dalam bahasa Arab, bukan اليد.  Dia tidak bisa membedakan antara الأيد dan اليد; itu karena pendidikan , dan mengikuti kitab (para ulama sebelumnya): membutuhkan pengarahan dan penelitian.)  [Al-Tauhid (hlm. 87)] ...


Bacaan lainnya 


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_45.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_12.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_15.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_53.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/11/tersingkirnya-peran-ulama-syafiiyah.html



Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 1

Meluruskan dan membantah syubhat Asya’iroh 1


Syubhat Asya'iroh, katanya Ibnu Abbas mentakwil 'kursi' dlm menafsiri ayat kursi dgn 'ilmu' Alloh. 


اول ابن عباس رضى الله عنه للكرسى عند تفسيره لاية الكرسى بالعلم


(الطبرى ٧/٣)


Jawaban. 


Itu adalah syubhat jadul yang dipakai Bisy Al Marisi gembong Mutazilah Jahmiyah untuk sesuai hawa nafsunya membolehkan mentakwil sifat Allâh ta'ala. 


Syubat ini sudah lama dibantah para ulama ashabul hadits, mereka adalah pemegang aqidah salaf, murid murid para tabi'ut tabi'in yang sanadnya bersambung nabi shollallohu'alaihiwasallam, mereka lebih paham agama dari pada kaum mu'tazilah Jahmiyah yang dikafirkan oleh para ulama. 


Mereka seperti Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Rodd alal Jahmiyah wa zabadiqoh, Abdullah bin Ahmad dalam kitab As-Sunnah, Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, Ad-Darimi dalam rodd alal bisr marisi, Ibnu Abdil dalam at Tamhiid, dan banyak ulama lainnya yang mereka sebagian ulama Syafi'iyah Salafi, 


Anehnya Syafi'iyah mutaakhirin banyak ke Asy’ariyah padahal dahulu pendahulu mereka ramai ramai membantah dan menyesatkan Asy'ariyah. 


Klaim takwil Ibn Abbas rodhiyallohu anhu dalam menafsirkan kursi:

Disandarkan apa yang at-Thabari riwayatkan melalui Ja`far bin Abi al-Mughira, dari Sa`id bin Jubayr, dari Ibn Abbas, bahwa dia berkata:

(وسع كرسيه) البقرة/255: كرسيه: علمه" اهـ.

(kursinya seluas) QS Al-Baqarah 255

Ibnu Abbas : " Kursi Nya: IlmuNya.” 


Ini tidak benar dari Ibn Abbas karena beberapa alasan:


Pertama : munculnya Ja`far ibn Abi al-Mughira, dan di terlalu layyin (lembut, bermudahan). Al-Hafiz Ibn Hajar Al Asqalani memberi ringkasan hukumnya dan berkata: (Soal Saduq) [At Taqrib Al-Tahdhib  (h. 201)] Ibnu Hajar berkata :  

"Dan yang semisal ini tidak dapat diterima karena keunikannya dengan cara yang sama menurut ahli hadits, terutama dari mereka seperti Said bin Jubayr, kecuali dia memiliki pengkhususan di dalamnya, dan jika ditambah dengan ini maka makin kontradiksi dengan qoul sahabat yang terpercaya lainnya dari banyak sahabat seperti riwayat Saeed bin Jubayr, maka tidak diragukan lagi perlu untuk menilai kesalahannya dan ke syadz nya". 


Ini menunjukkan Ibnu Hajar tidak sepenuhnya Asy'ariyah tulen, selain ini banyak tulisan Ibnu Hajar, juga an Nawawi membantah Asya’iroh. 



Kedua: Ja'far ibn Abi al-Mughira telah menyelisihi sanad yang lebih kuat /dipercaya yakni dalam riwayat Sa'id bin Jubayr, yang murid Ibnu Abbas langsung. 


Diriwayatkan dari Muslim, Al-Batin meriwayatkannya dari Said bin Jubair rohimahullah dari Ibn Abbas rodhiyallohu'anh, bahwa Rosul shollallohu'alaihiwasallam berkata: 

قال: (كرسيه موضع قدميه، والعرش لا يقدر قدره) اهـ

(Kursi adalah tempat duduk Allah, dan Arsy nya tidak terukur ukurannya). Selesai. [HR Abd al-Razzaq dalam Tafsirnya (3/251), 

Ad-Darimi dalam Rodd ala Bisyr Al-Murisi (1/412), 

Ibn Abi Hatim in Tafsir (2/491), Abdullah dalam Sunnah (2/586), 

Ibn Khuzaymah dalam Al-Tawhid (h. 107) dan Ibn Abi Shaybah dalam Al-Arsh (hal. 79), 

Abu Al-Sheikh dalam Al-Azma (2/582), 

Ibnu Mandah dalam Rodd ala Al-Jahmiyyah (hal. 44), 

Ibn Battah dalam Al-Ibanah (3/337), 

Al-Daraqutni dalam Al-Sifat (hal. 111) dan Al-Hakim (2/310), dan beliau berkata: hadits ini shahih sesuai syarat dua syekh (Bukhori muslim). 

Adz-Dzahabi, Al-Bayhaqi dalam Asma wassifat (hal. 474), 

Abu Dzar al-Harawi dalam Arbain di Tauhid (hal. 57) dan Al-Khatib di Tarikh Baghdad (9/251) setuju dengannya.  Dan al-Dzahabi meriwayatkannya dalam al-'uluw (hal. 76), 


Dan Muslim Al-Batin ini adalah orang yang paling dapat dipercaya oleh Sa`id bin Jubayr, juga Bukhari dan Muslim memasukkan atas namanya. Ibn Mandah berkata dari Ja`far ibn Abi al-Mughira: (Ja`far bukan murid menjadi pengikutnya, dan dia tidak kuat dalam meriwayatkan dari Sa`id ibn Jubayr). [Rodd Alal Jahmiyah (h. 45)].



Ketiga: Ahli Hadits dan para imam menshahihkan riwayat itu maknanya tempat 2 kaki, dan melemahkan riwayat al-Mughira dalam "al-ilm":


 - Abu Zur'ah menshahihkan lalu dia berkata tentang apa yang diriwayatkan Ibn Mandah dalam Tauhid, dia berkata: (Abu Zur'ah ditanya tentang hadits Ibn Abbas tentang tempat 2 kaki, lalu dia berkata: shahih)... [Al-Tauhid (3/309)].


 - Al-Daraqutni meriwayatkan dalam As sifat dengan sanadnya: dari Al-Abbas bin Muhammad Al-Duri, dia berkata: Saya mendengar Yahya bin Ma'in berkata: (Saya menyaksikan Zakaria bin Uday bertanya Waki' ? Jadi di berkata: Wahai Abu Sufyan, hadits ini berarti: seperti kursi di mana 2 kaki berada, begini ?


Waki' berkata: Kami diberitahu Ismail bin Abi Khaled, Sufyan, dan Mussa'ar, mereka meriwayatkan tentang hadits ini dan tidak menjelaskan apa pun.  [HR Al-Daraqutni dalam As-Sifat (h. 163) dan Al-Bayhaqi dalam asma wassifat (hal. 474), dan itu ada dalam Tarikh Ibn Ma`in menurut riwayat Al-Duri (3/520)].


Dan Ad-Darimi berkata dalam “Bantahan untuk Bisr Al-Marisi”: (Dikatakan kepada Al-Marisi ini: Adapun apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, itu dari riwayat Jafar al-Ahmar, dan Jafar al-Ahmar bukan dari orang yang mengandalkan riwayatnya, karena perawi terpercaya menyelisihi dengannya. Muslim Al-Batin meriwayatkan dari said bin jubair Dari Ibnu Abbas dalam Al-Kursi, bertentangan dengan apa yang diklaim terhadap Ibnu Abbas sebelumnya. - lalu sanadnya dari Muslim Al-Batin dengannya, lalu berkata: Al-Marisy membaca hadits ini dan menshahihkannya. [Rodd ala Al-Marisi (1/411)].


Al-Bayhaqi meriwayatkan dua jalan dalam "Asma dan As-Sifat" dan berkata: (Dan Yang Maha Kuasa berkata:

(وقال تبارك وتعالى: (وسع كرسيه السماوات والأرض) البقرة255

 (Luasnya kursi Allah seluas langit dan bumi) QS Al-Baqarah 255. 

Dan kami meriwayatkan dari Said bin Jubayr, dari Ibn Abbas rodhiyallohu anh, bahwa dia berkata: Ilmu-Nya.

Akan tetapi, Semua riwayat dari Ibn Abbas dan lainnya menunjukkan bahwa yang dimaksud kursi, yang terkenal disebutkan bersama al Arsy.  [Asma wassifat (hlm. 497)].


 - Dan Al-Dzahabi berkata dalam al uluw : (Dan Ibn Abbas berkata: kursinya : ilmunya. Ini berasal dari jalan Jaafar Al-Ahmar, ia Layyin, dan Ibn Al-Anbari berkata: Dia hanya meriwayatkan ini dengan sanad yang tercela).  [Al Uluw (hlm. 117)].


Abu Mansour Al-Azhari berkata dalam Tahdhib Al-Lugha: (Yang benar tentang riwayat Ibnu Abbas dalam Al-Kursi adalah apa yang (Sufyan) Al-Tsauri dan lain-lain ceritakan tentang dari Ammar Al-Dahni dari Muslim Al-Batin - seperti yang telah disebut diatas - lalu dia berkata: Ini adalah riwayat yang paling disepakati para ulama tentang keasliannya, bahwa ulama menyetujui keasliannya, dan yang diriwayatkan adalah dari Ibn Abbas dalam al kursi adalah al ilmu, Hal ini tidak dibuktikan oleh mereka yang mengetahui berita tersebut.  [Tahdhib Lugho oleh al-Azhari (10/54)].



Keempat: Penafsiran kursi sebagai tempat 2 kaki sesuai dengan apa yang dibenarkan dari hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dan ucapan para sahabat, rodhiyallohu anhum. 


Dari Abu Dzar, bahwa Nabi, shollallohu'alaihiwasallam bersabda: (perbandingan Tujuh langit dan arsy tidak lain adalah seperti lingkaran yang terletak di tanah orang-orang, dan besarnys arsy dengan kursi seperti lapangan dengan lingkaran cincin itu).

[HR. Ibn Jarir tobary (3/10), Ibn Abi Shaybah dalam Arsy (h. 77), Ibn Battah in Al-Ibanah (3/181), Abu Al-Sheikh di Al-Azma (2 / 570,649), Ibn Hibban dalam Sahih (1/287), dan Abu Naim di Al-Hilya  (1/166) dan Al-Bayhaqi dalam asma wassifat (h. 510).  Al-Albani menshahihkan dalam As-Silsilah As-Sahih (1/174, No. 109))


Abdullah bin Mas'ud rodhiyallohu anhu berkata: (Apa yang diantara langit dan bumi adalah perjalanan lima ratus tahun, kemudian antara setiap langit adalah jalan lima ratus tahun, dan setiap langit menebal jalan lima ratus tahun, kemudian antara langit ketujuh dan Arsy lima ratus tahun, dan antara kursi dan air  Lima ratus tahun, dan Arsy berada di atas air, dan Tuhan Yang Maha Kuasa berada di atas Arsy, dan tidak ada yang tersembunyi dari amalan kamu.) [HR Al-Darami Rodd ala Al-Jahmiyyah (h. 55), Ibn Khuzaymah dalam al-Tawhid (hal. 105-106), al-Tabrani dalam al-Kabir (9/202), Abu al-Sheikh dalam al-Azma (2/565, 689), Ibn Battah dalam al-Ibanah (3/171), (dan 3)  / 395), al Lalikai (3/395) dan Ibn Abd al-Bar dalam at Tamhiid (7/139) al-Bayhaqi dalam asma wassifat (hal. 507).  Al-Dhahabi meriwayatkannya dalam al-'Uluw (hal. 79) dan menghubungkannya dengan Abdullah bin al-Imam Ahmad dalam As Sunnah, Abu Bakr bin al-Mundhir, Abu Ahmad al-Asal dan Abu Umar al-Talamanki, dan dia berkata: sanadnya shahih.  Al-Albani menilai itu sebagai shahih dalam Mukhtasar Al-ulu (hlm. 75)


Dengan demikian menjadi bukti bahwa klaim ini tidak benar dari Abbas rodhiyallohu anhu, karena keganjilannya, dan kesalahan dalam menukil nya. 



Bacaan lainnya 


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_45.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_12.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_15.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/12/meluruskan-dan-membantah-syubhat_53.html


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/11/tersingkirnya-peran-ulama-syafiiyah.html


Senin, 07 Desember 2020

Ulama yang mengkafirkan Asy'ariyah

 Ulama yang mengkafirkan Asy'ariyah 

(Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab (wahabi) belum lahir)


Sebagian ulama ada yang sampai pada tahap mengkafirkan firqah Asy’ariyyah


1. Abul-Abbas Ahmad ibn Muhammad An-Nuhawandi Az-Zahid Al-Arif (wafat: 394 H), [Tarikhul-Islam:8/737


➡Berkata Syaikhul-Islam Al-Harawi rahimahullah: saya mendengar Ahmad ibn Hamzah dan Abu Ali Al-Haddad rahimahumallah mereka berkata:


(ﻭﺟﺪﻧﺎ ﺃﺑﺎ اﻟﻌﺒﺎﺱ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ اﻟﻨﻬﺎﻭﻧﺪﻱ ﻋﻠﻰ اﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ اﻟﻜﻼﻡ ﻭﺗﻜﻔﻴﺮ اﻷﺷﻌﺮﻳﺔ.


ﻭﺫﻛﺮا ﻋﻈﻢ ﺷﺄﻧﻪ ﻓﻲ اﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻲ اﻟﻔﻮاﺭﺱ اﻟﻘﺮﻣﺎﺳﻴﻨﻲ ﻭﻫﺠﺮاﻧﻪ ﺇﻳﺎﻩ ﻟﺤﺮﻑ ﻭاﺣﺪ)


Kami mendapatkan Abul-Abbas Ahmad ibn Muhammad An-Nuhawandi mengingkari Ahli Kalam dan mengkafirkan Asy’ariyyah.


(Al-Harawi berkata): mereka berdua juga menyebutkan tentang kerasnya pengingkaran beliau terhadap Abul-Fawaris Ar-Qurmasini dan pemboikotannya karena satu masalah.


➡berkata Syaikhul-Islam Al-Harawi rahimahullah:


ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻤﺰﺓ ﻳﻘﻮﻝ:


(ﻟﻤﺎ اﺷﺘﺪ اﻟﻬﺠﺮاﻥ ﺑﻴﻦ اﻟﻨﻬﺎﻭﻧﺪﻱ ﻭﺃﺑﻲ اﻟﻔﻮاﺭﺱ ﺳﺄﻟﻮا ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ اﻟﺪﻳﻨﻮﺭﻱ؛ ﻓﻘﺎﻝ: ﻟﻘﻴﺖ ﺃﻟﻒ ﺷﻴﺦ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻨﻬﺎﻭﻧﺪﻱ)


Saya mendengar Ahmad ibn Hamzah berkata:


Ketika semakin hebat saling boikot antara An-Nuhawandi dan Abul-Fawaris, maka orang-orang bertanya kepada Abu Abdillah Ad-Dainuri, beliau menjawab:


Saya mendapati SERIBU Syaikh mencocoki An-Nuhawandi.(Dzammul-Kalãm:4/404)


Abu Abdillah Ad-Dainuri: Asy-Syaikh Al-Imam Al-Husain ibn Muhammad ibn Al-Husain Ats-Tsaqafi (wafat: 414 H), [As-Siyar:17/383]


2.Al-Imam Al-Wa’izh Abu Zakariya Yahya ibn Ammãr As-Sijistani (wafat: 422 H), [Tarikhul-Islãm:9/384)


Berkata Syaikhul-Islam Al-Harawi rahimahullah:


(رأيت يحي بن عمار ما لا أحصي من مرة على منبره يكفرهم -أي الأشعرية- ويلعنهم، ويشهد على أبي الحسن الأشعري بالزندقة، وكذلك رأيت عمر بن إبراهيم ومشائخنا)


Saya telah menyaksikan berkali-kali Yahya ibn Ammar di atas minbarnya mengkafirkan mereka -yaitu Asy’ariyyah- dan melaknat mereka, dan bersaksi atas Abul-Hasan Al-Asy’ari adalah seorang Zindiq.


Demikian juga saya menyaksikan Umar ibn Ibrahim dan guru-guru kami (seperti itu) (Dzammul-Kalãm:4/411)


Umar ibn Ibrahim yaitu Umar ibn Ibrahim ibn Ismail Abul-Fadhl Az-Zahid (wafat: 426 H), [Tarikh Baghdad:13/146]


Kami tidak sepakat tentang pengkafiran tersebut. Akan tetapi, yang menjadi pelajaran di sini adalah kerasnya pengingkaran para ulama tersebut sehingga sampai tahap mengkafirkan firqah Asy’ariyyah.Dengan pemaparan dan uraian di atas, jelaslah bahwa hukum sesat terhadap firqah Asy’ariyyah yang diklaim oleh sebagian orang sebagai Ahlussunnah.


Lihat tahun tahun wafat para ulama, mereka sezaman dengan Abul Hasan al-Asy’ari (260-324 H)


Sedang Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab (wahabi) belum lahir. 


Ibnu Taimiyah 661-728

Muhammad bin Abdul Wahhab 1115 - 1207


Banyak lainnya menyesatkan Asya’iroh :


✅1-Al-Imam Abul-Abbas Ahmad ibn Umar ibn Suraij Al-Bagdadi Asy-Syafi’i (wafat:306 H)


Beliau berkata:


( ﻻ ﻧﻘﻮﻝ ﺑﺘﺄﻭﻳﻞ اﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭاﻷﺷﻌﺮﻳﺔ، ﻭاﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻭاﻟﻤﻠﺤﺪﺓ، ﻭاﻟﻤﺠﺴﻤﺔ، ﻭاﻟﻤﺸﺒﻬﺔ، ﻭاﻟﻜﺮاﻣﻴﺔ، ﻭاﻟﻤﻜﻴﻔﺔ، ﺑﻞ ﻧﻘﺒﻠﻬﺎ ﺑﻼ ﺗﺄﻭﻳﻞ، ﻭﻧﺆﻣﻦ ﺑﻬﺎ ﺑﻼ ﺗﻤﺜﻴﻞ، ﻭﻧﻘﻮﻝ اﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﻬﺎ ﻭاﺟﺐ، ﻭاﻟﻘﻮﻝ ﺑﻬﺎ ﺳﻨﺔ، ﻭاﺑﺘﻐﺎء ﺗﺄﻭﻳﻠﻬﺎ ﺑﺪﻋﺔ)


Kami tidak berpendapat (dalam ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah) dengan ta’wilnya Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Jahmiyyah, Mulhidah, Mujassimah, Musyabbihah, Karramiyyah, dan Mukayyifah. Bahkan kami menerimanya tanpa menta’wil, beriman kepadanya tanpa tamtsil, dan kami berpendapat: beriman kepadanya adalah wajib dan berpendapat dengannya adalah sunnah, dan mencari ta’wilnya adalah bid’ah.(Ijtimã’ Al-Juyûsy Al-Islãmiyyah:119)


Beliau bergelar Imam Asy-Syafi’i Kedua.


✅2.Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Shalih Al-Qahthani Al-Andulisi Al-Maliki rahimahullah (wafat: 378 H)


Beliau berkata dalam Nuniahnya:


والآن أهجو الأشعري وحزبه … .وأذيع ما كتموا من البهتان


Dan sekarang saya mengecam Asy’ari dan kelompoknya,Saya akan membeberkan apa yang mereka tutupi berupa kedustaan.(Nuniah Al-Qahthani)


✅3-Al-Imam Muhammad Ibn Ahmad ibn ishaq Mindad Al-Mishri Al-Maliki rahimahullah (wafat: 390 H)


Beliau berkata:


ﺃﻫﻞ اﻷﻫﻮاء ﻋﻨﺪ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻫﻢ ﺃﻫﻞ اﻟﻜﻼﻡ، ﻓﻜﻞ ﻣﺘﻜﻠﻢ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻷﻫﻮاء ﻭاﻟﺒﺪﻉ ﺃﺷﻌﺮﻳﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺃﺷﻌﺮﻱ، ﻭﻻ ﺗﻘﺒﻞ ﻟﻪ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﻓﻲ اﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻳﻬﺠﺮ ﻭﻳﺆﺩﺏ ﻋﻠﻰ ﺑﺪﻋﺘﻪ، ﻓﺈﻥ ﺗﻤﺎﺩﻯ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﺳﺘﺘﻴﺐ ﻣﻨﻬﺎ


Ahlul-Ahwa menurut Imam Malik dam semua sahabat kami (ulama Malikiyyah) adalah Ahli Kalam. Setiap mutakallim maka dia adalah seorang ahli hawa dan bid’ah, baik itu dia seorang asy’ari atau bukan asy’ari. Tidak diterima persaksiannya dalam Islam, diboikot dan diberi pelajaran karena bid’ahnya, jika dia tetap pada pendiriannya maka diminta untuk bertobat.(Jami Bayãnil-Ilmi wa Fadhlih:2/943)


✅4.Imam Besar Madzhab Syafi’iyyah Abu Hamid Ahmad ibn Abi Thahir Al-Isfirãini rahimahullah (wafat:406 H)Berkata Abul-Hasan Al-Karkhi Asy-Syafii:


ﻭﻛﺎﻥ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ اﻹﺳﻔﺮاﺋﻴﻨﻲ ﺷﺪﻳﺪ اﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ اﻟﺒﺎﻗﻼﻧﻲ ﻭﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﻜﻼﻡ


Asy-Syaikh Abu Hamid Al-Isfirãini adalah seorang yang sangat keras pengingkarannya terhadap Al-Baqillani dan orang-orang ahli kalam…


Dan (Dar’u Ta’ãrudh Al-‘Aql wan-Naql:2/96, Al-Fatawa Al-Kubra:6/600


✅5.Al-Imam Abu Umar Muhammad ibn Al-Husain Al-Bisthãmi Asy-Syafi’i Al-Wa’izh rahimahullah (wafat: 408 H)


Beliau berkata:


ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ اﻟﺤﺴﻦ اﻷﺷﻌﺮﻱ ﺃﻭﻻ ﻳﻨﺘﺤﻞ اﻻﻋﺘﺰاﻝ، ﺛﻢ ﺭﺟﻊ ﻓﺘﻜﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻣﺬﻫﺒﻪ اﻟﺘﻌﻄﻴﻞ، ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﺭﺟﻊ ﻣﻦ اﻟﺘﺼﺮﻳﺢ ﺇﻟﻰ اﻟﺘﻤﻮﻳﻪ


Awalnya Abul-Hasan Al-Asy’ari menyatakan pemikiran mu’tazilah, kemudian dia rujuk lalu membantah mereka. Sesungguhnya madzhabnya adalah ta’thil (menafikan Sifat), akan tetapi dia hanyalah berpindah dari sikap terang-terangan ke sikap menyamarkan (Dzammul-Kalãm wa Ahlih:4/408)


Berkata Abul-Hasan Al-Karkhi Asy-Syafii:


ﻭﻛﺎﻥ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ اﻹﺳﻔﺮاﺋﻴﻨﻲ ﺷﺪﻳﺪ اﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ اﻟﺒﺎﻗﻼﻧﻲ ﻭﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﻜﻼﻡ


Asy-Syaikh Abu Hamid Al-Isfirãini adalah seorang yang sangat keras pengingkarannya terhadap Al-Baqillani dan orang-orang ahli kalam…


Dan (Dar’u Ta’ãrudh Al-‘Aql wan-Naql:2/96, Al-Fatawa Al-Kubra:6/600


✅5.Al-Imam Abu Umar Muhammad ibn Al-Husain Al-Bisthãmi Asy-Syafi’i Al-Wa’izh rahimahullah (wafat: 408 H)


Beliau berkata:


ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ اﻟﺤﺴﻦ اﻷﺷﻌﺮﻱ ﺃﻭﻻ ﻳﻨﺘﺤﻞ اﻻﻋﺘﺰاﻝ، ﺛﻢ ﺭﺟﻊ ﻓﺘﻜﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻣﺬﻫﺒﻪ اﻟﺘﻌﻄﻴﻞ، ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﺭﺟﻊ ﻣﻦ اﻟﺘﺼﺮﻳﺢ ﺇﻟﻰ اﻟﺘﻤﻮﻳﻪ


Awalnya Abul-Hasan Al-Asy’ari menyatakan pemikiran mu’tazilah, kemudian dia rujuk lalu membantah mereka. Sesungguhnya madzhabnya adalah ta’thil (menafikan Sifat), akan tetapi dia hanyalah berpindah dari sikap terang-terangan ke sikap menyamarkan (Dzammul-Kalãm wa Ahlih:4/408)


✅6.Al-Hafidz Abu Hatim Ahmad ibn Al-Hasan ibn Muhammad Ar-Razi yang dikenal dengan Khamusy (wafat: antara 430-440 H)


Berkata Syaikhul-Islam Al-Harawi rahimahullah:


(ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ اﻟﺤﺴﻦ اﻟﺨﺎﻣﻮﺷﻲ اﻟﻔﻘﻴﻪ اﻟﺮاﺯﻱ ﻓﻲ ﺩاﺭﻩ ﺑﺎﻟﺮﻱ ﻓﻲ ﻣﺤﻔﻞ ﻳﻠﻌﻦ اﻷﺷﻌﺮﻳﺔ، ﻭﻳﻄﺮﻱ اﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ)


Saya mendengar Ahmad ibn Al-Hasan Al-Khamusyi Al-Faqih Ar-Razi di rumahnya di kota Ray dalam suatu majlis dia melaknat Asy’ariyyah dan memuji Hanabilah.(Dzammul-Kalam:4/420


✅7.Al-Imam Al-Hafidz Abu Nashr Ubaidillah ibn Sa’id As-Sijzi Al-Hanafi rahimahullah (wafat: 444 H)


Setelah menyebutkan tokoh-tokoh Mu’tazilah, beliau berkata:


ﺛﻢ ﺑﻠﻲ ﺃﻫﻞ اﻟﺴﻨﺔ ﺑﻌﺪ ﻫﺆﻻء -ﺃﻱ اﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ – ﺑﻘﻮﻡ ﻳﺪﻋﻮﻥ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻻﺗﺒﺎﻉ. ﻭﺿﺮﺭﻫﻢ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺿﺮﺭ اﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ، ﻭﻫﻢ ﺃﺑﻮ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻛﻼﺏ، ﻭﺃﺑﻮ اﻟﻌﺒﺎﺱ اﻟﻘﻼﻧﺴﻲ، ﻭﺃﺑﻮ اﻟﺤﺴﻦ اﻷﺷﻌﺮﻱ…ﻭﻛﻠﻬﻢ ﺃﺋﻤﺔ ﺿﻼﻝ ﻳﺪﻋﻮﻥ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﺗﺮﻙ اﻟﺤﺪﻳﺚ


Kemudian setelah mereka (Mu’tazilah), Ahlussunnah diuji dengan suatu kaum yang mengaku bahwa mereka adalah ahlu Ittiba’, (padahal) bahaya mereka lebih berbahaya dari Mu’tazilah dan selainnya. Mereka itu adalah: Abu Muhammad ibn Kilab, Abul-Abbas Al-Qalanisi, ABUL-HASAN AL-ASY’ARI… (Lalu beliau meyebutkan tokoh-tokoh setelahnya).


Setelah itu beliau berkata):


MEREKA SEMUA ITU ADALAH PARA IMAM KESESATAN YANG MENGAJAK MANUSIA AGAR MENYELISIHI SUNNAH DAN MENINGGALKAN HADITS.(Risalah As-Sijzi Ila Ahli Zubaid:343-346)


✅8.Al-Imam Al-Hafidz Al-Kabir Abu Muhammad Ali ibn Ahmad Ibn Said ibn Hazm Azh-Zhahiri (wafat: 456 H)


Beliau mengomentari tentang salah satu pemikiran Asy’ariyyah yaitu masalah Ilmu Allah adalah selain Allah tapi selalu bersamaNya:


…ﻭﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺑﻬﺬا ﺃﺣﺪ ﻗﻂ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻹﺳﻼﻡ ﻗﺒﻞ ﻫﺬﻩ اﻟﻔﺮﻗﺔ اﻟﻤﺤﺪﺛﺔ ﺑﻌﺪ اﻟﺜﻼﺛﻤﺎﺋﺔ ﻋﺎﻡ -ﺃﻱ اﻷﺷﺎﻋﺮﺓ-، ﻓﻬﻮ ﺧﺮﻭﺝ ﻋﻦ اﻹﺳﻼﻡ ﻭﺗﺮﻙ ﻟﻹﺟﻤﺎﻉ اﻟﻤﺘﻴﻘﻦ


Tidak ada seorang pun dari Ahli Islam berpendapat demikian sebelum firqah bid’ah ini setelah 300 tahun -yaitu Asy’ariyyah-, ini adalah keluar dari islam dan meninggalkan Ijma yang pasti.(Al-Fashl Fil-Milal:2/105)


Beliau adalah Imam besar madzhab Azh-ZhahiriyyaH


✅9.Al-Imam Al-Qadhi Abul-Husain Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Husain Al-Farra Al-Hanbali (wafat: 526 H)


Berkata Al-Hafidz As-Silafi:


(ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ اﻟﺤﺴﻴﻦ ﻣﺘﻌﺼﺒﺎ ﻓﻲ ﻣﺬﻫﺒﻪ، ﻭﻛﺎﻥ ﻛﺜﻴﺮا ﻣﺎ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻲ اﻷﺷﺎﻋﺮﺓ ﻭﻳﺴﻤﻌﻬﻢ، ﻻ ﺗﺄﺧﺬﻩ ﻓﻲ اﻟﻠﻪ ﻟﻮﻣﺔ ﻻﺋﻢ)


Dahulu Abul-Husain adalah seorang yang fanatik terhadap madzhabnya, dan beliau sering berbicara tentang Asy’ariyyah dan terang-terangan kepada mereka, beliau tidak takut celaan pencela karena Allah.(As-Siyar:19/602)


✅10.Al-Imam Abul-Husain Yahya ibn Abil-Khair Al-Imrani Al-Yamani Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat: 558 H),


Beliau berkata:


وأقوال الأشعرية مثبتة على أصول المعتزلة لأن أبا الحسن كان معتزلياً


Pemikiran-pemikiran Asy’ariyyah ditetapkan di atas pokok pemikiran mu’tazilah, karena Abul-Hasan dahulunya adalah seorang Mu’tazili.(Al-Intishãr Fir-Rad Alal-Mu’tazilah:2/648)Beliau penulis Kitab Al-Bayan Fi Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i.


✅11.Al-Imam Abu Muhammad Abdul-Qadir ibn Abi Shalih Al-Jailani Al-Hanbali rahimahullah (wafat:561 H)


Ketika berbicara masalah Shaut dan Huruf pada sifat Kalamullah, beliau berkata:


ﻭﻗﺪ ﻧﺺ اﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﺇﺛﺒﺎﺕ اﻟﺼﻮﺕ ﻓﻲ ﺭﻭاﻳﺔ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ اﻷﺻﺤﺎﺏ ﺭﺿﻮاﻥ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ﺧﻼﻑ ﻣﺎ ﻗﺎﻟﺖ اﻷﺷﻌﺮﻳﺔ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻛﻼﻡ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻌﻨﻰ ﻗﺎﺋﻢ ﺑﻨﻔﺴﻪ، ﻭاﻟﻠﻪ ﺣﺴﻴﺐ ﻛﻞ ﻣﺒﺘﺪﻉ ﺿﺎﻝ ﻣﻀﻞ.


Al-Imam Ahmad telah menegaskan tentang penetapan Shaut (suara) dalam riwayat sejumlah sahabatnya (murid-muridnya) radhiyallahu anhum, berbeda dengan apa yang diyakini oleh Asy’ariyyah bahwasanya Kalamullah adalah makna yang berdiri sendiri. Allah yang akan menghisab setiap ahli bid’ah yang sesat lagi menyesatkan.(AlGunyah:1/131)


Beliau dikenal di kalangan Shufiyyah: Abdul-Qadir Al-Jailani. Banyak disandarkan kepadanya hal-hal yang dusta


✅12.Al-Imam Abu Muhammad Abdullah ibn Ahmad ibn Qudamah Al-Maqdisi Al-Hanbali (wafat: 620 H)


Beliau berkata:


(ﻭﻻ ﻧﻌﺮﻑ ﻓﻲ ﺃﻫﻞ اﻟﺒﺪﻉ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻳﻜﺘﻤﻮﻥ ﻣﻘﺎﻟﺘﻬﻢ ﻭﻻ ﻳﺘﺠﺎﺳﺮﻭﻥ ﻋﻠﻰ ﺇﻇﻬﺎﺭﻫﺎ ﺇﻻ اﻟﺰﻧﺎﺩﻗﺔ ﻭاﻷﺷﻌﺮﻳﺔ)


Kami tidak ketahui di kalangan ahli Bid’ah sebuah kelompok yang menyembunyikan pemikiran mereka dan tidak berani menampakannya selain Zanadiqah dan Asy’ariyyah.(Al-Munazharah Fil-Qur’an:35)


Beliau adalah Imam Besar Madzhab Hanabilah. Penulis kitab Al-Mughni.


Ucapan para ulama sangatlah banyak dalam masah ini. Yang penulis bawakan di sini adalah yang terang-terangan menyebut firqah Asy’ariyyah. Syaikhul-Islam Abu Ismail Al-Harawi membuat Bab khusus dalam kitabnya Dzammul-Kalãm wa Ahlih: Bab Dzikri Kalam Al-Asy’ari (Bab penyebutan pemikiran/ideologi Al-Asy’ari).


Adapun yang secara umum mencela Ahli Kalam maka sangatlah banyak, juga celaan mereka terhadap firqah Kullabiyyah yang merupakan asal dan induk firqah Asy’ariyyah sangatlah banyak.


https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/08/ijma-ulama-sejak-sahabat-tentang.html

https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/08/kibar-syafiiyah-itsbat-allah-istiwa-di.html

https://maktabahabufateema.blogspot.com/2020/08/ijma-ulama-mazhab-itsbat-sifat-al-uluw.html

Sabtu, 05 Desember 2020

SYAFI'IYAH MUTAQODDIMIN MENYELISIHI ASY'ARIYAH

 SYAFI'IYAH MUTAQODDIMIN MENYELISIHI ASY'ARIYAH 

(SILSILAH SANAD AQIDAH SALAF SYAFI'IYAH) 


Berikut ulama ulama Syafi'iyah kami urutkan sejak masa hidupnya berbarengan dengan Abul Hasan Asy'ari (260 - 324 H) sebelum ruju ke manhaj salaf. 


Pemahaman Asy'ariyah terhitung pemahaman baru, tidak dikenal sebelumnya dari kalangan ulama ahlusunnah ashabul hadits terutama dari kalangan Syafi'iyah, yang beraqidah Salaf seperti halnya pula pengikut imam Ahmad bin Hanbal. 


Dari sekilas sejarah ini kita akan tahu betapa keji kaidah AQIDAH ASY'ARI FIQIH SYAFI'I, seakan aqidah Syafi'i sesat dan batil, padahal aqidah inilah haq sesuai jalannya salaf 3 generasi terbaik. 


Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)


Beliau adalah Abu Yahya Zakaria bin Yahya As-Saji Asy-Syafi'i merupakan muhaddist kota Bashrah masanya, dan faqih Madzhab Syafi'i. Menurut Adz-Dzahabi, Beliau merupakan salah satu guru Abu Hasan Al-Asy'ari dalam bidang hadist waktu masih kecil dan belum aliran Mu'tazilah. 


Beliau berkata :

القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”.

“Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami –dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai- bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”

(Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)


Disini diketahui, bahwa pemahaman Asy'ariyah adalah pemahaman baru, dimana sebelumnya TIDAK DIKENAL,


Ahlusunnah ashabul hadits bermanhaj salaf berkeyakinan Allah istiwa diatas arsy, sedang Asy'ariyah mentakwil dengan istaula (menguasai). Dan ini keyakinan 3 generasi salaf. 


Ini menjadi bukti bahwa Asy’ariyah itu BEDA dengan SALAF AHLUSUNNAH ASHABUL HADITS 


Al-Imam Abul-Abbas Ahmad ibn Umar ibn Suraij Al-Bagdadi Asy-Syafi’i (wafat:306 H), ulama yang sezaman dengan As Saaji. Beliau bergelar Imam Asy-Syafi’i Kedua.


Beliau berkata:


( ﻻ ﻧﻘﻮﻝ ﺑﺘﺄﻭﻳﻞ اﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭاﻷﺷﻌﺮﻳﺔ، ﻭاﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻭاﻟﻤﻠﺤﺪﺓ، ﻭاﻟﻤﺠﺴﻤﺔ، ﻭاﻟﻤﺸﺒﻬﺔ، ﻭاﻟﻜﺮاﻣﻴﺔ، ﻭاﻟﻤﻜﻴﻔﺔ، ﺑﻞ ﻧﻘﺒﻠﻬﺎ ﺑﻼ ﺗﺄﻭﻳﻞ، ﻭﻧﺆﻣﻦ ﺑﻬﺎ ﺑﻼ ﺗﻤﺜﻴﻞ، ﻭﻧﻘﻮﻝ اﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﻬﺎ ﻭاﺟﺐ، ﻭاﻟﻘﻮﻝ ﺑﻬﺎ ﺳﻨﺔ، ﻭاﺑﺘﻐﺎء ﺗﺄﻭﻳﻠﻬﺎ ﺑﺪﻋﺔ)


Kami tidak berpendapat (dalam ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah) dengan ta’wilnya Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Jahmiyyah, Mulhidah, Mujassimah, Musyabbihah, Karramiyyah, dan Mukayyifah. Bahkan kami menerimanya tanpa menta’wil, beriman kepadanya tanpa tamtsil, dan kami berpendapat: beriman kepadanya adalah wajib dan berpendapat dengannya adalah sunnah, dan mencari ta’wilnya adalah bid’ah.(Ijtimã’ Al-Juyûsy Al-Islãmiyyah:119)


Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah Asy Syafi'i (223 H-311 H)


وقال الإمام ابن خزيمة في التوحيد «باب ذكر البيان أن الله عز وجل في السماء) ما يلي : «كما أخبرنا (الله) في محكم تنزيله وعلى لسان نبيه عليه السلام، وكما (هو) مفهوم في ...


Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254

“Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:

Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”


Utsmaan bin Sa’iid Ad-Darimi Asy Syafi'i (wafat 280 H)


Beliau berkata:

قَدِ اتَّفَقَتِ الْكَلِمَةُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ، أَنَّ اللهَ بِكَمَالِهِ فَوْقَ عَرْشِهِ ، فَوْقَ سَمَوَاتِهِ


Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi

“Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-‘Aniid Hal 25)


Al Muzani Asy Syafi'i (175-264)


Beliau adalah murid langsung imam Syafi'i. 


Beliau berkata dalam bukunya Ushul sunnah : 


الْحَمْدُ لِلّهِ أَحَقُّ مَنْ ذُكِرَ وَأَوْلَى مَنْ شُكِرَ وَعَلَيْهِ أُثْنِي الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَد جَلَّ عَنِ الْمَثِيْلِ فَلاَ شَبِيْهَ لَهُ وَلاَ عَدِيْلَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ الْعَلِيْمُ الْخَبِيْرُ اْلمنِيْعُ الرَّفِيْعُ 


Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Paling berhak untuk diingat, Yang Paling Utama untuk disyukuri. Kepada-Nyalah aku memuji. Yang Maha Tunggal, Tempat bergantung (seluruh makhluk), Yang tidak memiliki istri maupun anak. Maha Mulya (jauh) dari yang semisal. Tidak ada yang serupa bagi-Nya maupun sebanding. Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berilmu, Maha Mengetahui secara detail. Maha Mencegah dan Yang Maha Tinggi.


عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ فِي مَجْدِهِ بِذَاتِهِ وَهُوَ دَانٍ بِعِلْمِهِ مِنْ خَلْقِهِ أَحَاطَ عِلْمُهُ بِاْلأُمُوْرِ وَأَنْفَذَ فِي خَلْقِهِ سَابِقَ الْمَقْدُوْرِ وَهُوَ الْجَوَّادُ الْغَفُوْرُ {يَعْلَمُ خَائِنَةَ اْلأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ}


Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dalam Kemulyaan-Nya dengan Dzat-Nya. Dia dekat dengan Ilmu-Nya dari hamba-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala perkara. Dan Dia mewujudkan dalam penciptaan-Nya (sesuai) yang telah ditaqdirkan sebelumnya. Dan Dia Yang Maha Dermawan lagi Maha Pengampun. {Dia Mengetahui pandangan-pandangan mata yang berkhianat dan segala yang disembunyikan (dalam) dada (Q.S Ghafir/ al-Mu’min:19)


Imam Asy Syafi'i (wafat tahun 204 H) 


الإمام الشافعي ت 204 هـ. قال رحمه الله : القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها , أهل الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل : سفيان ومالك وغيرهما : الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمد رسول الله , وأن الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء . وصية الإمام الشافعي ص / 53 – 54

Berkata Asy Syafi'i, pendapat sesuai sunnah yang aku berada diatas nya, juga aku melihatnya para sahabatku juga diatasnya, mereka adalah ahlul Hadits Sufyan, Malik dan dst : menetapkan dengan persaksian Aku bersaksi tiada sesembahan Yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rosul Nya, dan Allah berada di atas langit, dekat dengan para hambaNya dengan kehendak Nya, 

 

 -وقال أيضاً : وأن الله عز وجل يرى في الآخرة ينظر إليه المؤمنين أعياناً جهاراً ويسمعون كلامه وأنه فوق العرش . وصية الإمام الشافعي ص / 38 – 39

Berkata Asy Syafi'i, sesungguhnya Allâh melihat di akhirat, orang-orang beriman memandang Nya secara langsung dan terbuka, mendengar kata-kata Nya, dan Dia berada di atas arsy


Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata, “Dan yang lebih aku sukai jika ia menguji sang budak tentang pengakuannya terhadap hari kebangkitan setelah kematian dan yang semisalnya”. Dan Al-Imam Asy-Syafii menyebutkan hadits Mu’aawiyah bin Al-Hakam, bahwasanya Ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang budak wanita yang ditampar olehnya, “Apakah wajib bagiku untuk membebaskan seorang budak?”. Maka Rasulullah bertanya kepada budak wanita tersebut, “Dimanakah Allah?”. Sang budak berkata, “Di langit”. Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah saya?”. Maka sang budak wanita berkata, “Anda adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka Rasulullah berkata, “Bebaskan budak wanita ini” (Manaaqib Asy-Syaafi’i 1/394)