Selasa, 04 Agustus 2020

Kibar Syafi'iyah itsbat Allah istiwa di langit di atas arsy

Aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah –yang juga merupakan aqidah para as-Salaf as-Sholeh- bahwasanya Allah berada di atas langit dan dilanjutkan ulama besar Syafi'iyah setelahnya

✅1 Imam Asy Syafi'i

الإمام الشافعي  ت 204 هـ. قال رحمه الله : القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها , أهل الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل : سفيان ومالك وغيرهما : الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمد رسول الله , وأن الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء . وصية الإمام الشافعي ص / 53 – 54
Berkata Asy Syafi'i, pendapat sesuai sunnah yang aku berada diatas nya, juga aku melihatnya para sahabatku juga diatasnya, mereka adalah ahlul Hadits Sufyan, Malik dan dst : menetapkan dengan persaksian Aku bersaksi tiada sesembahan Yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rosul Nya, dan Allah berada di atas langit, dekat dengan para hambaNya dengan kehendak Nya,

-وقال أيضاً : وأن الله عز وجل يرى في الآخرة ينظر إليه المؤمنين أعياناً جهاراً ويسمعون كلامه وأنه فوق العرش  . وصية الإمام الشافعي ص / 38 – 39
Berkata Asy Syafi'i, sesungguhnya Allâh melihat di akhirat, orang-orang beriman memandang Nya secara langsung dan terbuka,  mendengar kata-kata Nya, dan Dia berada di atas arsy

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata, “Dan yang lebih aku sukai jika ia menguji sang budak tentang pengakuannya terhadap hari kebangkitan setelah kematian dan yang semisalnya”. Dan Al-Imam Asy-Syafii menyebutkan hadits Mu’aawiyah bin Al-Hakam, bahwasanya Ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang budak wanita yang ditampar olehnya, “Apakah wajib bagiku untuk membebaskan seorang budak?”. Maka Rasulullah bertanya kepada budak wanita tersebut, “Dimanakah Allah?”. Sang budak berkata, “Di langit”. Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah saya?”. Maka sang budak wanita berkata, “Anda adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka Rasulullah berkata, “Bebaskan budak wanita ini” (Manaaqib Asy-Syaafi’i 1/394)

✅2 Al-Baihaqi (wafat 458 H) –salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi’iyah-  berkata :

“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdillah Al-Haafiz, ia berkata : Inilah naskah kitab yang didiktekan oleh Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ayyuub tentang madzhab Ahlus Sunnah, tentang apa yang terjadi antara Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah dengan para sahabatnya… dan ia menyebutkan diantaranya :
الرحمن على العرش استوى بلا كيف
Ar-Rahman berada di atas ‘Arsy tanpa ditanya bagaimananya

✅ 3 Ibnu Hajar Al-‘Asqolaani

tatkala menguatkan pendapat al Baihaqi, ia berkata :

“Dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ahmad bin Abil Hawaari…dan dari jalan Abu Bakr Adl-Dhoba’i ia berkata : “Madzhab Ahlus Sunnah terhadap firman Allah “Dan Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy’…” adalah tanpa ditanya bagaimananya. Dan atsar-atsar dari salaf banyak. Dan ini adalah jalan Al-Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal” (Fathul Baari 13/407)

✅4 Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah –salah seorang ulama madzhab syafi’iyah- juga berkata :

وأن الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء
“bahwasanya Allah berada di atas ‘ArsyNya di langit, ia dekat dengan makhukNya sebagaimana yang Ia kehendaki dan ia turun ke langit dunia sebagaimana yang Ia kehendaki” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliy al-Goffaar hal 165 no 443). Beliau membuat buku khusus untuk menetapkan sifat al uluw dan istiwa dalam kitab Al Uluw lil aliyyil ghoffar

✅5 Al-Barzanji (wafat 1103 H) –salah seorang ulama madzhab syafi’iyah- berkata

“Asy-Syafi’iyah berkata –sebagaimana telah meriwayatkan dari beliau, yaitu Yunus bin Abdil A’la, Ibnu Hisyaam Al-Baladi, Abu Tsaur, Abu Syu’aib, Harmalah, Ar-Robi’ bin Sulaiman, dan Al-Muzaniy, serta selain mereka- hadits mereka saling bercampur dan dibawakan riwayat-riwayat mereka dalam satu konteks :
“Perkataan tentang sunnah yang aku berada di atasnya….”

“Dan bahwasanya Allah di atas ‘Arsy berdasarkan firman Allah
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Kemudian Dia beristiwaa di atas ‘Arsy”
Dan juga firman Allah
الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Dan Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy”
Dan bahwasanya Allah turun setiap malam ke langit dunia sebagaimana yang Allah kehendaki berdasarkan pengkabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu, dan aku beriman terhadap melihat Allah sebagaimana datang dalam hadits”
(Aqidah Al-Imaam Nashir Al-Hadiits wa As-Sunnah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i hal 89-91)

✅6 Ibnu Khuzaimah (223–311 H) berkata :

وقالت عائشة رضي الله عنها :”سبحان من وسع سمعه الأصوات”، فسمع الله -جل وعلا- كلام المجادلة، وهو فوق سبع سموات مستو على عرشه وقد خفي بعض كلامها على من حضرها وقرب منها
“Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Maha suci Allah yang pendengaranNya meliputi semua suara”. Maka Allah mendengar perkataan sang wanita yang mengajukan gugatan, padahal Dia berada di atas langit yang tujuh beristiwa di atas ‘arsyNya. Sementara terluputkan sebagian perkataannya pada orang yang hadir dihadapannya atau yang dekat denganya” (Kitaab At-Tauhiid wa Itsbaat Sifaat Ar-Robb ‘Azza wa Jalla,  1/107, tahqiq : DR Abdul Aziz Syahwaan)

Beliau juga mengomentari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
وإذا سألتم الله فاسألوه الفردوس، فإنه وسط الجنة، وأعلا الجنة وفوقه عرش الرحمن، ومنه تفجر أنهار الجنة
“Dan jika kalian meminta kepada Allah maka mintalah surga Firdaus, karena ia adalah bagian tengah surga dan yang paling tertinggi. Dan diatasnya ada ‘Arsy nya Ar-Rahman, dan darinya mengalir sungai-sungai surga” (Shahih Al-Bukhari),

beliau juga berkata :
فالخبر يصرح أن عرش ربنا –جل وعلا- فوق جنته، وقد أعلمنا – جل وعلا- أنه مستو على عرشه، فخالقنا عال فوق عرشه الذي هو فوق جنته
“Maka kabar riwayat hadits ini jelas menunjukkan bahwasanya ‘Arsy Robb kita berada di atas surganya, dan Allah telah mengabarkan kepada kita bahwasanya Ia beristiwaa’ di atas ‘ArsyNya. Maka pencipta kita tinggi di atas ‘arsyNya yang berada di atas surgaNya” (Kitaab At-Tauhiid 1/241)

Beliau juga berkata :
“Maka hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa Pencipta berada di atas langit yang tujuh. Hal ini tidak sebagaimana yang dipersangkakan oleh Al-Mu’atthilah bahwasanya sesembahan mereka bersama mereka di rumah-rumah mereka” (Kitaab At-Tauhiid 1/273)

✅7 Abu Bakr Ahmad bin Ishaq bin Ayyub As-Shubgi Asy-Syaafi’i (wafat 342 H)
Beliau berkata :

قد تضع العرب «في» بموضع «على» قال الله عز وجل): فسيحوا في الأرض)، وقال : (لأصلبنكم في جذوع النخل) ومعناه: على الأرض وعلى النخل، فكذلك قوله): في السما)ء أي على العرش فوق السماء، كما صحت الأخبار عن النبي صلى الله عليه وسلم)
“Terkadang orang Arab meletakkan kata “fi” pada posisi “alaa”. Allah berfirman :
فسيحوا في الأرض
“Berjalanlah kalian di atas muka bumi”.

Allah berfirman :
لأصلبنكم في جذوع النخل
“Sungguh aku akan menyalib kalian di atas pangkal pohon kurma” (QS Toohaa : 71)

Demikian pula firman Allah “في السماء” maknanya adalah di atas ‘Arsy di atas langit, sebagaimana telah shahih hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al-Asmaa wa As-Shifaat, karya Al-Baihaqi, tahqiq : Abdullah Al-Haasyidi 2/324)

✅8 Abu ‘Utsmaan As-Shoobuuni Asy-Syaafi’i (wafat 449 H).

Beliau berkata dalam kitabnya Aqidatus Salaf Ashaabil Hadiits :

“Dan Ashaabul hadits meyakini dan bersaksi bahwasanya Allah subhaanahu di atas langit yang tujuh, beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana diebutkan dalam kitab-Nya…” (Aqidatus Salaf hal 175, lalu beliau menyebutkan dalil-dalil yang menunjukan ketinggian Allah)

✅9 Al-Baghowi rahimahullah berkata dalam tafsir beliau:

وأولت المعتزلة الاستواء بالاستيلاء، وأما أهل السنة فيقولون: الاستواء على العرش صفة لله تعالى، بلا كيف، يجب على الرجل الإيمان به، ويكل العلم فيه إلى الله عز وجل
“Kaum mu’tazilah mentakwil sifat al-istiwaa’ dengan al-istilaa’ (menguasai), adapun Ahlus Sunnah maka mereka berkata, “Beristiwaa di atas ‘arsy merupakan sifat Allah, tanpa ditanyakan bagaimananya, wajib bagi seseorang untuk beriman akan hal ini dan menyerahkan ilmu bagaimananya kepada Allah” (Tafsiir Al-Baghowi 3/235)

✅10 Abul Qoosim Ismaa’iil Al-Ashbahaani Asy-Syaafi’i (wafat 535 H)
Beliau berkata dalam kitab beliau “Al-Hujjah fi bayaan Al-Mahajjah”

فصل في بيان أن العرش فوق السموات، وأن الله عز وجل فوق العرش
“Pasal : Penjelasan bahwa ‘arsy di atas langit dan bahwasanya Allah azza wa jalla di atas ‘arsy” (Al-Hujjah bi Bayaan Al-Mahajjah 2/83)
Keenam : Adi bin Musaafir Al-Hakaari Asy-Syaafi’i (wafat 555 H).

Beliau berkata di kitabnya:
وأن الله على عرشه، بائن من خلقه، كما وصف نفسه في كتاب وعلى لسان نبيه بلا كيف، أحاط بكل شيء علمًا وهو بكل شيء عليم، قال تعالى {الرحمن على العرش استوى
“Sesungguhnya Allah di atas ‘arsyNya, terpisah dari makhlukNya sebagaimana Ia telah mensifati diriNya dalam al-Kitab dan melalui lisan NabiNya tanpa (menyebutkan) bagaimananya. Ilmunya meliputi segala sesuatu dan Ia mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman :
الرحمن على العرش استوى
“Ar-Rahman beristiwaa di atas ‘arsy” (“I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah” hal 30)

✅11 Yahya Al-‘Imraani Asy-Syaafi’i (wafat 558 H)
Beliau berkata :
عند أصحاب الحديث والسنة أن الله سبحانه بذاته، بائن عن خلقه، على العرش استوى فوق السموات، غير مماس له، وعلمه محيط بالأشياء كلها
“Di sisi ahlul hadits dan sunnah bahwasanya Allah dengan dzatNya terpisah dari makhlukNya, beristiwa di atas ‘arsynya di atas langi-langit, tanpa menyentuhnya, dan ilmunya meliputi segala sesuatu” (Al-Intishoor fi Ar-Rod ‘alaa al-Qodariyah al-Asyroor 2/607

✅12 Ibnu As-Solaah Asy-Syafi’i (wafat 643 H)
Beliau telah mengomentari qosidah tentang sunnah yang disandarkan kepada Abul Hasan Al-karkhi (wafat 532 H)
Qosidah tersebut diantaranya :
عقيدة أصحاب الحديث فقد سمت *** بأرباب دين الله أسنى المراتب
عقائدهم أن الإله بذاته *** على عرشه مع علمه بالغوائب
Aqidah ashaabul hadits telah membawa para pemeluk agama ke derajat yang tinggi
Aqidah mereka bahwasanya Allah dengan dzatNya di atas ‘arsyNya, disertai ilmuNya tentang perkara-perkara ghaib
Ibnu As-Sholaah mengomentari qoshidah tersebut dengan berkata,
 هذه عقيدة أهل السنة وأصحاب الحديث 
“Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah dan Ashaabul hadiits” (Kitaab al-‘Arsy, karya Adz-Dzhabiy 2/342)

✅13 an-Nawawi rahimahullah [631-676 H].

Al-Imam al-Nawawi termasuk ulama yang menegaskan ketinggian Allah di atas ‘Arsy-Nya, di banyak tempat :
1)  Beliau mengatakan dalam kitabnya Juz’ fīhi Żikr I‘tiqād Salaf fi al-Hurus wa al-Aṣwāt :

وَنُؤْمِنُ بِأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا أَخْبَرَ فِي كِتَابِهِ وَلَا نَقُوْلُ هُوَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ بَلْ هُوَ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ

“Kami beriman bahwa Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam Kitab-Nya yang mulia. Kami tidak mengatakan bahwa Allah di setiap tempat, bahkan Allah di atas langit dan ilmu-Nya di setiap tempat.”

Lalu beliau membawakan QS al-Mulk [67]: 16, Fāṭir [35]: 10, hadis budak wanita, lalu beliau mengatakan, “Demikian juga dalil-dalil lainnya dalam Alquran dan hadis banyak sekali, kami mengimaninya dan tidak menolaknya sedikit pun.”

2)  Beliau menulis dan menyalin kitab al-Ibānah karya al-Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari. al-Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari menegaskan dalam kitabnya tersebut tentang ketinggian Allah secara panjang lebar banyak halaman.

3)  Dalam kitab berjudul Ṭabaqāt Fuqahā’ al-Syāfi‘iyyah karya Ibn al-Salah yang diringkas dan ditertibkan oleh al-Imam al-Nawawi. Dalam biografi al-Khattabi, beliau sangat menghormati dan mengagungkan al-Khattabi. Salah satunya beliau mengatakan tentang al-Khattabi:
وَصَرَّحَ بِأَنَّهُ فِي السَّمَاءِ
“Dan beliau (al-Khattabi) menegaskan bahwa Allah di atas langit.”

Perhatikanlah, al-Imam al-Nawawi menukil ucapan di atas dengan menyetujuinya. Seandainya beliau tidak menerima ucapan ini, niscaya beliau akan membuangnya atau mengkritiknya atau membantahnya!!

4)  Al-Imam al-Nawawi mengatakan dalam kitabnya Rauḍah al-Ṭālibīn 10/85—salah satu kitab fikih masyhur dalam mazhab al-Syafi‘i:

لَوْ قَالَ لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ الْمَلِكُ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ أَوْ إِلَّا مَلِكُ السَّمَاءِ كَانَ مُؤْمِنًا قَالَ اللهُ تَعَالَى ( أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ )

“Seandainya dia (orang kafir) mengatakan ‘tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, Raja yang di atas langit atau kecuali Raja langit’ maka dia beriman. Allah berfirman: ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit.’ (QS al-Mulk [67]: 16).”

Inilah empat bukti bahwa al-Imam al-Nawawi termasuk ulama yang menegaskan ketinggian Allah di atas langit.

✅14 Al-Hafizh Ibnu Katsir,
Sebagaimana disebutkan dalam firman Allâh : ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ “Lalu Dia tinggi di atas ‘Arsy.” [Al-A’raaf: 54]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “…Pandangan yang kami ikuti berkenaan dengan masalah ini adalah pandangan Salafush Shalih seperti Imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Imam-Imam lainnya sejak dahulu hingga sekarang, yaitu mem-biarkannya seperti apa adanya (menetapkan), tanpa takyif (mempersoalkan kaifiyahnya/hakikatnya), tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa ta’thil (penolakan). Dan setiap makna zhahir yang terlintas pada benak orang yang menganut faham musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka makna tersebut sangat jauh dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari ciptaan Allah yang menyerupai-Nya.

Seperti yang difirmankan-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ [Asy-Syuuraa: 11]

✅15 Al Muzani (175-264)

Beliau berkata dalam Ushul sunnahnya :

الْحَمْدُ لِلّهِ أَحَقُّ مَنْ ذُكِرَ وَأَوْلَى مَنْ شُكِرَ وَعَلَيْهِ أُثْنِي الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَد جَلَّ عَنِ الْمَثِيْلِ فَلاَ شَبِيْهَ لَهُ وَلاَ عَدِيْلَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ الْعَلِيْمُ الْخَبِيْرُ اْلمنِيْعُ الرَّفِيْعُ

Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Paling berhak untuk diingat, Yang Paling Utama untuk disyukuri. Kepada-Nyalah aku memuji. Yang Maha Tunggal, Tempat bergantung (seluruh makhluk), Yang tidak memiliki istri maupun anak. Maha Mulya (jauh) dari yang semisal. Tidak ada yang serupa bagi-Nya maupun sebanding. Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berilmu, Maha Mengetahui secara detail. Maha Mencegah dan Yang Maha Tinggi.

عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ فِي مَجْدِهِ بِذَاتِهِ وَهُوَ دَانٍ بِعِلْمِهِ مِنْ خَلْقِهِ أَحَاطَ عِلْمُهُ بِاْلأُمُوْرِ وَأَنْفَذَ فِي خَلْقِهِ سَابِقَ الْمَقْدُوْرِ وَهُوَ الْجَوَّادُ الْغَفُوْرُ {يَعْلَمُ خَائِنَةَ اْلأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ}

Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dalam Kemulyaan-Nya dengan Dzat-Nya. Dia dekat dengan Ilmu-Nya dari hamba-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala perkara. Dan Dia mewujudkan dalam penciptaan-Nya (sesuai) yang telah ditaqdirkan sebelumnya. Dan Dia Yang Maha Dermawan lagi Maha Pengampun. {Dia Mengetahui pandangan-pandangan mata yang berkhianat dan segala yang disembunyikan (dalam) dada (Q.S Ghafir/ al-Mu’min:19)

✅16 Al Humaidi

Beliau rahimahullah menetapkan itsbat sifat sifat Allâh dengan mengatakan :

وما نطق به القرآن والحديث مثل : } وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم { [ المائدة 64] ومثل } والسموات مطويات بيمينه { [الزمر :67] وما أشبه هذا من القرآن والحديث لا نزيد فيه ولا نفسره ، نقف على ما وقف عليه القرآن والسنة ونقول }الرحمن على العرش استوى { [طه :5] ومن زعم غير هذا فهو معطل جهمي

"Apa apa yang diucapkan oleh Al-Quran dan al-Hadits, semisal : "Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu.." atau contoh yang lainnya : "dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.", ataupun ayat2 Al-Quran dan hadits2 lain yang serupa dengan itu, maka kami tidaklah akan menambahkan kedalamnya dan tidak pula menafsirkannya.

Kami berhenti pada apa yang Al-Quran dan as-Sunnah berhenti atasnya, dan kami katakan : "Ar-Rahman yang istiwa di atas 'Arsy.", dan barangsiapa yang menyangka selain daripada ayat ini, maka dia adalah seorang mu'athil jahmiy."
(Ushulus-Sunnah)

✅16. Usman ibn Sa‘id al-Darimi (200–280 H)

Beliau berkata:
قَدِ اتَّفَقَتِ الْكَلِمَةُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ، أَنَّ اللهَ بِكَمَالِهِ فَوْقَ عَرْشِهِ ، فَوْقَ سَمَوَاتِهِ
“Telah bersepakat kalimat kaum muslimin dan kafirin bahwa Allah di atas langit.”

✅17. Al-Khattabi (319–388 H)

Beliau mengatakan dalam kitabnya Syi‘ar al-Dīn—setelah membawakan beberapa ayat:

فَدَلَّ مَا تَلَوْنَاهُ مِنْ هَذِهِ الآيِ عَلَى أَنَّ اللهَ سبحانه فِي السَّمَاءِ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ، وَلَوْ كَانَ بِكُلِّ مَكَانٍ لَمْ يَكُنْ لِهَذَا التَّخْصِيْصِ مَعْنًى وَلَا فِيْهِ فَائِدَة ، وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ الْمُسْلِمِيْنَ خَاصَّتِهِمْ وَعَامَّتِهِمْ بِأَنْ يَدْعُوَ رَبَّهُمْ عِنْدَ الْاِبْتِهَالِ وَالرَّغْبَةِ إِلَيْهِ وَيَرْفَعُوْا أَيْدِيَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ وَذَلِكَ لِاسْتِفَاضَةِ الْعِلْمِ عِنْدَهُمْ بِأَنَّ رَبَّهُمْ الْمَدْعُوَّ فِي السَّمَاءِ سُبْحَانَهُ.

“Ayat-ayat yang kami bacakan ini menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas ‘Arsy. Seandainya Allah berada di setiap tempat maka pengkhususan ini tidak ada faedah dan tidak ada maknanya. Dan kebiasaan kaum muslimin baik yang awam maupun yang terpelajar jika berdoa memohon kepada Allah maka mereka mengangkat tangan mereka ke langit. Hal itu karena telah masyhur bagi mereka bahwa Rabb yang mereka berdoa kepada-Nya berada di atas langit.”[m

✅18 Abu al-Qasim Hibatullah ibn al-Hasan al-Lalika’i Rahimahullahu Ta’ala (wafat 418 H)

Beliau mengatakan:
سِيَاقُ مَا رُوِيَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى ( الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى ) وَأَنََّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِي السَّمَاءِ وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ : ( إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ). وقال: ( أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ ). وَقَالَ تعالى: ( وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً ). فَدَلَّتْ هَذِهِ الآيَةُ أَنَّهُ تَعاَلىَ فِِي السَّمَاءِ، وَعِلْمُهُ مُحِيْطٌ بِكُلِّ مَكَانٍ مِنْ أَرْضِهِ وَسَمَائِهِ
“Penjelasan tentang apa-apa yang diriwayatkan dalam firman-Nya Ta‘āla: ‘Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) tinggi di atas ‘Arsy.’ (QS Ṭāha [20]: 5). Dan bahwasanya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di langit. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.’ (QS Fāṭir [35]: 10).

Dan firman-Nya Ta‘āla: ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu.’ (QS al-Mulk [67]: 16).

Dan firman-Nya Ta‘āla: ‘Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga.’ (QS al-An‘ām [6]: 61).

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwasanya Allah Ta‘āla berada di langit dan ilmu-Nya meliputi seluruh tempat di bumi-Nya dan langit-Nya.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar